Tuesday, November 15, 2011

Time to work

Ahhh, finally bisa berduaan lagi dengan laptop kesayangan ini. Dan semoga besok gak tergoda untuk melanjutkan tidur setelah subuh karena rasa kantuk yang luar biasa, sedangkan aku harus melaju kencang menuju Jalan Kaliurang km7 dari daerah Kotagede yang memakan waktu 30 menit tepat dengan kecepatan "buru-buru"

Yup! Jumat pagi aku mendapat sms dari owner butik tempat aku melamar hari rabu minggu lalu. Ah, sebenarnya aku rada malas membacanya, takut di terima. Loh? Ya, karena awalnya hanya iseng-iseng dan aku yakin waktu ku pasti gak banyak lagi buat nulis, nonton, jalan, senang-senang. Pokoknya bakal terbatas. Kayak sekarang ini. Ngeblog aja jadi gak bisa setiap hari.

Tapi tanggung jawab harus tetap di jalankan. Harus! Sms pagi itu hanya menanyakan tentang kesedian ku kerja di jam lebih awal dan pulang lebih lama saat libur kuliah. Aku jawab setuju, karena awalnya aku sudah memberi saran seperti itu, ketika owner butik merasa keberatan dengan jadwal kuliah ku yang masih terbilang padat. Lalu sms selanjutnya, "ditunggu kabarnya nanti sore ya". Dalam pikiran aku berdoa "semoga gak diterimaaaa".

Sepertinya hatiku tidak. Dia baik-baik saja saat jumat sorenya aku di telfon owner butik dan  mengatakan penyetujuannya menerima jadwal kuliah ku. Dar. Jadilah mulai hari sabtu itu aku harus bangun pagi setiap hari. Masuk kerja pukul 7.30 dan pulang 5.30 sore saat libur dan fleksibel saat kuliah. 

Ini lah hasil iseng-isengku. Jangan bicara tentang gaji, jauh dari UMR, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan senang-senangku. ^^. Sekarang yang aku fokusin adalah tanggung jawab kuliah dan kerja serta belajar dari keduanya.

Apapun itu butuh perjuangan, butuh pengorbanan dan selalu ada tanggung jawab di sana plus keseriusan. ^^ Dan terima kasih sepupuku yang sudah membantu aku mendapat kan pekerjaan "iseng-iseng" ini. 

Wednesday, November 9, 2011

tears dialog

Seseorang menemui sseorang lainnya yang sedang duduk di taman.

"kamu mau apa ha? datang mengusik hidup aku terus!"
"izinin aku hidup bersama kamu, menjaga kamu."
"haaah haaah haaah"
"aku serius"
"serius dengan ketololan kamu?"
"serius dengan apa yang aku minta sama kamu"
"kalo itu permintaan, aku gak bisa kasih"
"izinkan aku..."
"buat APA!" "buat nyiksa diri kamu, nyakitin diri kamu? atau apa?!" "sampe kapanpun aku gak akan cinta sama kamu! ngerti!"
"aku gak butuh kamu balas cinta aku, aku hanta ingin hidup dengan kamu."
"gimana bisa? gimana bisa aku hidup sama orang yang gak aku cinta?"
"tapi aku tau kamu butuh aku."
"sebutuh apa haaa?" "yang tau itu aku bukan kamu."
"izinkan aku bersama kamu, izinin aku ngerawat hati kamu yang penuh luka. izinin aku bantu kamu ngumpulin senyum kamu yang berserakan. izinin aku membentuk lagi remah-remah hati kamu yang hancur. izinin aku untuk selalu menghapus air mata kamu yang jatuh karena kenangan buruk itu."
*suara sedu tangisan


***
seseorang mengejar seseorang yang lainnya.

"(menybutkan nama) tunggu!"
berbalik. menatap sinis.
"aku mau minta maaf."
"buat?"
"buat yang..."
"yang kemarin?"
"iya..buat semua kesalahpahaman..."
"ah sudahlah." kembali lari
"(menyebutkan nama)!"
berhenti. berbalik "aku sudah maafin!"
"aku mau..."
"mau apa lagiiiii?"
"mau jaga kamu..."
"mau jaga aku?"
"iya..."
"mau jaga aku setelah semua yang kamu lakuin? setelah kemarin kamu ninggalin aku gitu aja? setelah semua sangkaan kamu buat aku jadi orang yang paling bersalah?"
"(menyebutkan nama) aku minta maaaaaafff"
"aku sudah maafin!!! tapi tolong jangan kembali lagi. Tolong...."
"aku...
"kamu pernah....(menghapus air mata) kamu pernah minta tolong sama kau , supaya aku pergi sejauh-jauhnya dari kamu, dan sekarang aku minta tolong sama kamu untuk hal yang sama..."
terdiam.
kembali pergi.

Ya sudah!

"aku gak mau terluka, ribet dan sakit hati"
"aku juga"
"jadi?"
"udahan aja gimana?"
"ya udah"

Ya memang sudah, tapi urusan hati, kebiasaan bersama dan kenangan gak akan semudah itu... (sampe rumah lempar sepatu, guling-guling)
***

"aku mau bicara"
"bicara aja"
"hmmmm"---diam.
"apa. bicara aja.."
"kalo kamu liat tulisan terbaru aku di blog, itu buat kamu."
"oumm. apa aku pantas?"
"kalo urusan hati sudah gak pake mata"
diam.
"yah aku tau, aku dan kamu gak akan mungkin jadi kita. kamu uda punya dia, tapi ya itu lah yang aku rasa ke kamu."
"kok kamu tau?"
"ga susah buat tau tentang kamu saat aku suka kamu"
"aku gak tau mau ngomong apa"
"gak perlu ngomong-ngomong apa juga. aku hanya nyatain aja"
"oh, ya udah"

Ya memang sudah, tapi aku bukan punya hati banyak, hati ku satu dan sudah kau penuhi...(sampe rumah,,nyetel lagu mellow, ambil tisyu. Pagi mata bengkak)


Perjuangan

Apa perjuangan paling sangar yang pernah kamu lakukan? Sebenarnya aku merasa belum melakukan perjuangan paling sangar si, tapi adalah beberapa perjuangan yang masih aku ingat, dan membuat aku tertawa, nyesek atau malah sedih. Ini dia diantaranya.

Cinta
Siapa sih yang gak pernah berjuang untuk cinta. Tapi ingat ketika kamu sudah memperhitungakan perjuangan itu, coba koreksi lagi hati kamu,  apa benar itu cinta, karena cinta yang benar tulus gak main hitung-hitungan. ^^. 

Salah satu perjuangan cinta yang aku lakukan bukan untuk mendapatkan seseorang untuk jadi kekasih aku, tapi untuk sebuah  maaf. Yah, aku paling tidak bisa bermasalah dalam hubungan pacaran, selalu ingin segera di selesaikan. Sedangkan tipe pacar ku saat itu sangat senang berdiam diri sejenak, saling mengoreksi diri. Ah, aku tidak bisa terima, pokoknya harus selesai. Dalam waktu berdiam itu, aku tau apapun bisa terjadi.

Pagi itu aku bingung sekali memutuskan pergi atau tidak, menempuh perjalanan dengan kereta api, untuk jarak Bogor-Depok. Biasanya aku di jemput di stasiun, tapi kali ini karena keinginan aku sendiri, jadi aku harus pergi sendiri. Akhirnya menjelang siang aku pergi begitu saja ke stasiun Bogor. 

Aku merasa itu pertanda buruk. Kereta biasa tidak ada untuk jurusan Bogor-Depok. Entah sedang ada apa, aku tak mengerti. Padahal aku sudah menunggu cukup lama di stasiun. Bersama gerimis. Yah, saat itu gerimis, aku membuka payung dan duduk jongkok di antara banyak orang. Dengan ekspresi muka entah seperti apa. Perut lapar, dingin, bosancape, kesel, lengkap untuk menggambarkan aku yang kacau.

Sudah ingin pulang, akhirnya ada pengumuman bahwa kereta ekspres aku berhenti di beberapa stasiun. Dan berhenti di Depok. Aku memutuskan naik kereta itu. Masih lama juga menunggu. Aku duduk dengan perasaan gak karuan. 

Sampai di Depok, aku harus menembus hujan lagi menuju tempat dia. Dan akhirnya...berbicara, sepakat, dan damai. Meskipun tidak terlalu happy ending. Tapi setidaknya aku lega saat itu.

Tidak sangar dan garang memang, malah terkesan biasa saja. Tapi ini bukan "aku banget", bukan aku yang mau menghabiskan waktu seharian menunggu, padahal aku masih bisa melakukan banyak hal berguna lainnya untuk itu, tapi aku memilih sabar. Tidak biasanya aku mau minta maaf duluan untuk sebuah masalah dalam hubungan. Tapi aku bersedia melakukannya dengan harus melakukan sedikit perjuangan. Yah, ini lebih ke perjuangan melawan ego ku  sendiri.

Pendidikan
Aku bukan pelajar keras, bukan mahasiswa dengan buku dan pelajaran selalu di tangan, Bukan. Aku lebih suka mempelajari kehidupan.

Dari Taman Kana-Kanak hingga Sekolah Dasar pendaftran dilakukan oleh orangtua. Masuk ke SMP diwakili sekolah. Dan saat SMA, aku baru mengurusi itu semua sendiri. Tidak banyak memakan energi. Saat masuk kuliah pun aku hanya memasuki berkas sebagai syarat mahasiswa undangan. Begitu juga dengan kuliah program Sarjana sekarang, hanya mengirim bebrapa berkas dan masuk begitu saja. 

Yah, untuk belajar, aku hanya memberika  fokus untuk sesuatu yang memang memerlukan fokus. Sering kali aku berharap bisa belajar ekstra agar mendapatkan hasil benar-beanr cemerlang, tapi itu pasti menyita aku untuk belajar banyak hal lainnya. Jadi untuk saat ini hanya fokus itu yang maish ku genggam

Organisai
Saat di SMA aku tergabung dalam organisasi Siswa Pecinta Alam. Awalnya tidak niat, tapi setelah masuk malah habis-habisa. Aku menduduki posisi ketua. Ketua dalam organisasi yang sebelumnya vakum. Jadi harus kembali memperkenalkan, menyusun program, menghidupkan kembali manajemen internal dan eksternal. Ah repot. 

Saat itu aku SMA. Banyak teman. Dan pasti banyaka ajakan, untuk main, ngumpul, nonton ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan. Tapi aku  memilih untuk organisasi kalau itu bertabrakan waktunya. Belum lagi uang jajan yang kekuar, waktu tidur yang berkurang. 
Dan berkahir membahagiakan, organisasi itu di kenal kembali, di panggil kemabli dan memegang piala lagi. Dan ini tentu hasil perjuangan ku bersama saudara-saudara di organisasi itu.

Orang Tua
Ah, aku sedih. Belum penah berjuang sangar untuk senyum mereka. Hanya mempertahan nilai-nilai kebaikan yang mereka tanamkan dan menjaga nama baik mereka. Belum membuat harum. Bagian ini paling membuat mellow, bahkan hingga jatuh ke perasaan tidak berguna. Bukan sekali dua kali aku merugikan mereka, merepotkan hampir setiap hari mungkin. Tapi yang membuat mereka benar-benar "wah" dengan aku, belum sama sekali.

"Mah, Babah... aku memang masih begini-begini saja. dan semoga kalian tidak protes terlalu banyak. Tapi aku telah berencana untuk sebuah hadiah, untuk kalian. Serius!" ^^

Pekerjaan
Aku masih mahasiswi. Mahasiswi ekstensi yang sekarang sedang mencari pekrjaan part time, untuk mengisi dompet lebih tebal lagi, mengisi waktu supaya bermutu dan mengisi perut dengan makanan lebih bervariasi lagi. Tidak hanya telor dan lele :p. 

Bangun tidur pagi tadi, aku berencana langsung mandi dan mengerjakan tugas. Tapi aku melirik koran yang baru di berikan sepupu. Setiap sabtu dia memberikan ku koran, karena katanya koran hari sabtu menerbitkan lebih banyak informasi lowongan kerja. 

Aku iseng membaca bagian yang belum ku baca. Dan ku dapati lowongan sebagai pegawai butik online. Iseng aku mengirim sms. Sekali lagi iseng. Dan sms ku langsung di balas. Berisi alamat dan syarat-syarat yang harus kupenuhi. Persyaratan standar. Aku bertanya lagi, "kapan paling telat?". Sms balasan segera masuk "hari ini. pukul 3." What! aku baru bangun, belum mandi, belum mempersipakan berkas dan sudah pukul 11. 

Pukul 12 siang aku sudah rapi. Bersiap untuk makan siang dan mencetak berkas yang disyaratkan. Dengan santai aku menyetir motor menuju tujuanku, tapi belum setengah jalan, hujan sudah turun deras. Aku memutuskan untuk terus dan tiba di tempat print dengan kondisi basah kuyup. 

Aku telah rapi, menunggu di rumah berikut dengan berkas yang sudah tersusun apik di dalam amplo. Menuggu sepupu yang akan mengantar. Sudah pukul 2 siang, dan sepupuku masih belum tiba. Padahal perjalanan cukup jauh, Kotagede-Jakal Km7. Dan hujan smekain deras. Baru saja aku memilih duduk kembali di ruang tv, sepupuku berteriak memanggil.

Aku duduk di belakang tanpa mantel dan sepupuku mengendari motor dengan mantel birunya menembus hujan menuju Jalan Kaliurang. Dingin. Tidak terlalu sulit menemukan alamatnya. Tapi cukup jauh. Langsung wawancara dan dijanjikan keputusan hari jumat pagi.

Di perjalanan pulang baru aku merasa tidak nyaman. Pusing, dinign, lapar. Jadi satu. Belum lagi jalanan yang penuh dengan kendaraan lain dan asap knalpot yang menumpuk. Sampai di rumah dengan keadaan basah yang mengenaskan. 

Entahlah apa yang terjadi besok, entahlah bagaimaan keputusan jumat pagi nanti. Aku tau owner butik itu terganggu dengan jadwal kuliah ku yang masih cukup padat. Tapi setidaknya, aku telah mencoba dan berusaha untuk itu. Untuk apa yang aku inginkan, bertanggung jawab untuk apa yang sudah aku "isengi". Perjuangan itu saja telah memebri warna terang dalam warna warni perjalanan hidup ku.

Apapun hasilnya, tidak akan meng-abu-abu-kan aku yang telah berwarna. Jadi, berjuanglah untuk sesuaut yang kamu inginkan. Dan hasilnya, serahkan pada Tuhan. DIA paling tau yang benar-benar kamu butuhkan. Selamat berjuang.



Setidaknya

Entah mengapa aku masih saja gelisah dengan pikiran tentangmu. Sedalam apakah kau sudah masuk ke dalam ingatanku? Bahkan memimpikanmu saja baru satu kali. Dan aku masih ingat detail mimpi itu. 

Kita hanya bersama saat terik, saat malam terasa panas. Tanpa hujan. Dan kala hujan aku memikirkanmu, karena saat itu aku ingat, aku inginkan hujan turun saat kita bersama, agar hujan menahan kebersamaan kita lebih lama.

Hanya secuil perjuanganmu untuk setiap pertemuan kita. Dan itu pun hanya sebentar. Tapi yang secuil itu mampu membuat ku seperti ini. Kamu tidak akan tau, aku tau kamu menutup indramu tentang ku. Sekarang, gantian aku yang berjuang untuk menerima dan menjauh dari ingatan ini.

Bagimu, tak ada yang berubah. Setelah pertemuan yang cepat, kau menghilang. Kembali lanjutkan hidupmu. Tapi aku, aku yang bertarung dengan diri ku sendiri, dengan ego, janji dan perasaan, telah merubah sebagian yang sudah ku susun. Hanya dengan keisengan mu, sesuatu yang serius dari hidupku telah berubah.

Setidaknya, yah, setidaknya aku masih bisa menulis karena mu. Walau dengan tulisan seperti ini, walau dengan tulisan yang menciptakan tawa bagi sisi lain, atau miris untuk sisi lainnya. Setidaknya aku tidak mengganggumu seperti kau yang merusak susunan ceritaku. Setidaknya, aku telah menulis.

Tuesday, November 8, 2011

Jarak

Jika jarak ini membunuh perasaan yang aku punya saat kami masih berdekatan, maka jangan datangkan lagi esok saat kami bertemu kembali. 

Sekali ini biarkan aku lepas dari sekumpulan masa lalu, dan masa lalu mampu melupakan ku, biarkan aku berdiam sejenak.

Dan... berikan dia yang untuk selamanya.

Sunday, November 6, 2011

Selesai

suatu kehadiran yan kembali mengusik
suatu helaan nafas yang menggangu
sebuah tanya yang menyentuh
sebuah nama yang mengenang

jangan kembali sedikitpun
jangan mendekatkan sedikitpun
jangan menyentuh sedikitpun
dan jangan bertanya lagi

berlebih!
karena aku takut "kembali"
bayangan...jangan cipta khayal itu..
tinggi rasanya...tapi aku sadar akan jatuh...

maaf telah menyimpan....

Maaf

Sebelum tidur akhirnya aku menulis ini dulu, daripada tidur dengan rentetan kata-kata yang menari-nari menuntut di susun.

Sebuah permintaan maaf pada cinta datang dari rasa takut kehilangan dia. Takut kalau maaf itu tidak di beri maka dia akan pergidan dia gak hadir lagi dalam hidup kita. Etah kemana, pokoknya berbeda dari yang kemarin.

Sebuah permintaan maaf pada sahabat datang rasa takut dia pergi, memutuskan berhenti menjadi sahabat dan kita kehilangan dia yang tanpa protes menerima apa adanya kita. Mau berbagi banyak hal, mau mendengar banyak hal, dan mau menerima banyak hal.

Sebuah permintaan maaf pada keluarga datang dari rasa takut semua akan berubah menjadi tidak keluarga lagi. Hanya saling diam walau satu rumah, seperti tak saling kenal dan hilang ikatan kekeluargaan seutuhnya.

Sebuah permintaan maaf pada Sang Pencipta datang dari rasa takut akan siksaan, akan ganjaran akan akibat yang timbul Akan amarahNYA. Sehingga menjadikan kita manusia tanpa arti. Hanya seoongok daging dengan alat gerak yang tanpa guna.

Namun maaf adalah obat hati untuk rasa bersalah yang datang dari sikap yang telah dilakukan diringi ego, emosi, ketidaktahuan, rasa tidak puas, atau godaan. Sikap yang berteman keburukan. Maaf adalah bagian diri yang tak bisa lepas, kalau dia pergi, maka hidup akan terjalani dengan kekurangan. Ada kosong di hati yang dilewati udara ketidak nyamanan,

Dan memberi maaf adalah memberi ruang pada rasa marah, pada rasa benci yang sudah tercipta di hati akibat kekecewaan sebuah sikap. Dan maaf-MU adalah sebanyak-banyaknya air di tanah kering.

Maaf untuk semua perkataan yang bagimu hanyalah alasan kosong. Maaf untuk satu keinginanku yang bagimu adalah janjiku yang sekarang ku gantung di udara.


Celoteh Sore

aku sekarang tau bahwa sinarmu selayak bintang...
aku sekarang sadar kau selayak hadia dari pelangi...
aku sekarang mengerti bahwa artimu seperti melodi pada lirik...
aku sekarang tau bahwa hadirmu selayak matahari bagi siang...

telaga yang sejuk...
sungai yang mengalir...
air terjun yang jatuh...
lautan yang berombak...
itu cinta yang sama dengan air untuk cerita...

bukan...bukan terima kasih...
tapi maaf telah membuat pesona yang kuat sehingga kau hadirkan itu...
bukan...buka kebanggan diri...
tapi rasa bersalah karena ingin bersamamu selalu yg tampak seperti gangguan...

dan karena ini... hadir satu titik yang menyadarkan...

"rasa" tak selalu tentang terimakasih dan maaf....masih banyak warna dari itu...

seperti "pose" kehidupan yang bercerita..diam tapi berjalan....

bagi hati yang "terceloteh"...

Belahan Dunia III

permata pelangi di ujung timur yang sedang menata hati...taukah dia air mata miliknya berharga.?

tongkat kok di negri sebrang yang sedang menyimpan tanya dan marah...taukah dia ketika dia berhenti bertanya maka semua akan terjawab.?

senja langit yang sedang menanyakan banyak kabar...taukan dia seseorang itu selalu menjawab meski dengan hatinya.?

peraduan yang selalu tersenyum menampung cerita...taukah dia suaranya sangat berarti.?

sejumput cerita di tepi jalan...taukan dia kehadirannya meski hanya sebentar dan berceloteh namun memberi makna.?

sejulang dingin di tengah pengejaran mimpi...taukah dia mengingat namanya saja mampu menghapus air mata.?

segumpal tanya yang menggulir dalam malam...taukah dia celotehnya menghadirkan banyak warna.?

seikat kata setiap malam...taukan dia selau dinanti.?

sekilas suara saat ramai...taukah dia telah jadi bagian penting.

sewarna hari di tengah gemerlap...taukah dia keamanan terakhir.?

sederas aliran sungai yang merajuk...tau kah ceritanya mengamankan hari.?

seulas tawa dalam angin...tau kah dia bicaranya mencipta senyum selamanya.?

dongeng hati yang menyenandungkan hari dalam diri saat dingin...berarti....

belahan dunia ku yang sangat berarti...itu semua kalian...(heheheheh)

Menemani

Sebatas kamu telah berusaha dan aku merasa lebih.
Sebatas kamu mampu melangkah dan aku merasa sangat jauh.
Sebatas kamu bernyanyi dan aku merasa sangat jelas.
Sebatas kamu melihat dan aku merasa selalu terawasi.

Aku menerkam rasa beda...
Aku menyentuh asa menolak...
Aku menerjam rasa sakit...
Aku menyentuh asa berperan...

Kamu lain sekarang,aku tau.
Tak perlu berbohong,tapi aku diam saja.
Kamu sedih sekarang,aku tau.
Tak perlu berpura tertawa,tapi aku ikut tertawa.

Harapan yang berteman khayal sering mengecewakan.
jadinya sukar sama.
Hapus.
Hanya sekedar menamai "rasa yang berbeda di hati yang sama"

Sejenak

tak ada keinginan kamu mengingat lalu
sepintas yang terlewat
dan buyaran silam yang terbayar kelabu
serta merah jingga yang hanya sekali

semua tak perlu ada balas
tak perlu ada imbas
tak perlu ada batas
tak perlu ada kilas

deburan yang terakhir
desiran yang pertama
menyatu dalam lagu
simfoni melodi hati

perih yang terganti lebih juga olehmu
dan membuat aku bertahan....
luka yang membuat terima kasih...

Jauh

waktu tak jelas kapan
kita semakin menjauh
persis karena alasan hati
kita menyadari ketidakmungkinan itu

waktu pula yang izinkan kau ini semakin nyata
aku selalu mengingatmu
kamu dulu yang memberiku harga tinggi
memaksaku berhenti menangisi yang tak penting

pelan terasa kamu berharga juga
sekali lagi kita tau itu hanya akan sebentar
aku tak mengizinkan barang sedetikpun untuk menikmatinya
karena sedetik itu akan hancurkan harapan

karena "kita harus tau kapan saatnya bangun dari mimpi"

dan sekarang...
kamu pun tak ada lagi
kembali pada yang seharusnya
jalan lama tempatmu bersandar

"sahabat malam kemarin"

Esok

masih di gemuruh yang sama
masih di kerinduan tak terbata
masih di rasa yang bertanya
masih di persimpangan cinta

ada masih yang tak beranjak...
ada waktu yang tak menjawab....
ada jalan yang kembali...
ada rel yang tertinggal...

sekilas pertanyaan tanpa jawaban yang masih bergelayut indah di malam suara...
pada temali cerita yang telah terbiasa....
bertanya tentang cerita yang tak akan terungkap...
yang aku tau hanya aku pendengarnya....


hingga menjadi kisah esok tahun..

Air

sore ini aku mandi denngan air yang pas-pasan banget, bisa di bilang cuma dua ember 10 liter, padahal aku keramas. ini semua karena kerannya gak mengucurkan air. sore hari di kostan ku suka ada gangguan dengan airnya. apa lagi kalo 6 kran nyala semua, otomatis kamar atas kebagian suplai air paling sedikit.

aku jadi teringat waktu aku tinggal di Kuala Tungkal saat SD. daerah kesayanganku itu sangat minim air bersih dulunya. air ledengnya keruh, berwarna cokelat, bau dan nilai kesadahannya pasti tinggi, karena sukar sekali membuat sabun berbusa. mau mandi salah, karena sama aja mengotori bada, gak mandi juga salah, Kuala Tungkal daerah pesisir yang sangat panas.

saat itu bisnis penjualan air bor tanah sangat laris. kaluarga ku suka membeli air bor tersebut satu grobak yang terdiri dari 10 drigen. kalau tidak kami selalu menampung air hujan yang turun sebanyak mungkin.padahal air hujan pun gak lebih baik dari air ledeng yang cokelat itu. karena warnanya kernih jadi kami berpendapat kualitas air hujan sangat baik. Air bor tersebut yang berasal dari tanahpun gak lebih baik dari air hujan dan ledeng. intinya selama aku tinggal di Kuala Tungkal kemarin, aku dan masyarakat lainnya mengalami krisis air ringan tapi sudah menyengsarakan.

tapi hikmah dari itu semua aku dan keluarga ku jadi belajar untuk menghemat air. memanajemen air sebaik mungkin. mama menjatahi ku untuk mandi pagi dan sore sebanyak 4 ember 10 liter. begitu juga dengan adik. sedangkan mama dan papa lebih sedikit dari itu (prang tua luar biasa). untuk mencuci pun mama membaginya sebaik mungkin agar cukup air yang kami beli itu. begitupun untuk keperluan lainnya, di bagi sesuai kecukupannya.

aku jadi kepikiran, gimana kalo pemerintah membuat suatu kebijakan tegas mengani pembagian pasokan air di tiap rumah. why? selama ini masih banyak yang berpikir kaloa air kaan ada trus selamanya, bakal gampang dapetinnya dan gak akan habis (ini memang benar). selama masih ada kualitas air, air di bumi gak akan berkurang, tapi kulitasnya???ada yang jamin akan jernih terus??ph nya normal terus? krisis air sudah terjadi di beberapa pelosok sana....kita yang di kota masih ngerasa seneng dengan bebas mengguuyur air ke badan saat mandi seenak jidat....?? "apa terasa sebuah nikmat ketika saudara kita yang lain menderita?"

setiap orang bisa dihitung penggunaan airnya perhari, begitu pula dengan industri. ini semua dapat menjadi acuan untuk membagi pasokan air di tiap rumah. dengan cara ini, akan meminimalkan jumlah air yang terbuang sia-sia.

mungkin pikiran ini terlalu konservatif, tapi apa pernah terbayangkan,,,beberapa tahun kemudian kita hanya akan bisa minum 1 gelas air sehari karena perbuatan kita sendiri??(1 botol aja gue bisa modar,grrr)... kita bukan mahkluk yang hidup sendiri, masih akan ada generasi penerus yang berhak akan sumberdaya alam ini. tugas kita sekarang memeprtahankan yang sudah ada, memperbaiki kerusakan, bukan menghabiskan begitu saja...

aku gak tau sebelumnya apakah sudah ada kebijakan dari pemerintah tentang pasokan air di tiap rumah, industri dan perusahaan ataupun instansi. mungkin pendapat ini basi atau biasa atau malah sudah lama di dengungkan tapi hanay menggema sia-sia..

"bukan kebahagiaan namanya bila setelahnya melahirkan kesengsaraan'

Nyata

suatu bentuk nyata sebuah ragu....
tentang bahagia yang menggelapkan inspirasi
tentang biasa yang menutup karya
tentang hadir yang memusnahkan gairah
tentang hujan yang tak lagi menjadi pena penggurat buku

suatu bentuk nyata sebuah kecewa...
tentang pengertian milik sebagian
tentang hati milik sendiri
tentang surat termajinal
tentang petir yang menghaluskan nurani

suatu bentuk nyata sebuah cinta...
tentang tenang menutup emosi
tentang malam membuka rasa takut
tentang pagi bersahabat pelangi
tentang diam yang disimpan

sesuatu nyata yang abstrak...
dan selamanya tak akan mengerti....
karena benang pembentuk perasaan ini begitu halus
sudah kusut dan rusak
namun nyata rasa masih mempercayai pemiliknya ada..

biar hari yang menuntun itu semua....

Fitnah

aku tenggelam pada dasar yang ku sangka aku tau
aku mengapung pada permukaan yang ku sangka milik ku
aku melayang pada langit yang ku sangka darah ku
aku melangkah pada tanah yang ku sangka sama

ternyata...
tak aku tau
bukan milikku
bukan sedarah denganku
bukan pada tanah yang sama

secepat ini lah nyata itu datang...sesaat kebahagiaan lain menghinggapi...
membuat sakit terkubur dalam..mungkinkah ini lena an karena senyum masa sekarang
adakah ingat tentang prakata dulu, tentang tangis bersama,
dan sekarang tinggal tanya ...

yang tenggelam sia-sia
yang mengapung lalu membusuk
yang melayang kemudian hilang
yang melangkah tak berarti...

sakit pun tak di nyanai lagi...
tinggal buangan rasa...yang entah kapan kembalinya...

tapi satu yang pasti: aku tak pernah merubah rasaku... peduli... masih peduli

Mimpi bersama yang :Habis

ku sempat berpikir tentang banyak hal yang ku miliki, dapat kumiliki seutuhnya sampai nafas aku gak berheMbus lagi. Tapi dalam pemikiran itu aku melupakan satu hal, bahwa: kehidupan itu berputar, apa lagi kalau yang dimiliki itu manusia, manusia punya hati yang jelas bisa merasa perubahan, punya pemikiran untuk merealisasikan perubahan dan fisik yang menjadikannya nyata. Awalnya, seperti sekarang ini, sangat sulit untuk berdiri. ibaratnya: terbiasa berdiri dengan dua kaki, tapi sekarang harus berdiri dengan satu kaki, kadang goyah, kadang tegap, namun pilihan cuma ada satu, yaitu : terus berdiri dan berani melangkah ke depan.

beberapa nasihat pernah aku luncurkan kepada beberapa orang, "kamu gak sendiri, satu yang pergi maka akan datang yang lebih istimewa lagi buat kamu. TUHAN gag tidur, dan gak akan ngebiarin hati kamu merasakan sakit yang kamu gak mampu, and the least, kata-kata basi "setelah hujan, akan ada pelangi". but in real, susah banget ngelakuinnya. yang ada rasa terpuruk dan gurat kecewa menggores samar di wajah, walau tak pernah terlihat, tapi hati jelas merasakannya.

kecewa itu adalah rasa yang sulit di temukan obatnya. makanya, aku dapat merasakan hari ku akan rusak bukan main jika dengan sadar aku telah mengecewakan seseorang, apa lagi kalau banyak orang. bisa-bisa aku depresi. aku terlalu "sosial" yang gak akan bisa hidup tanpa seseorang yang dekat dengan ku. hanya saja sering aku pura-pura tega dan terlihat cuek, padahal sangat sensitif. thx berat buat "hati-hati" yang selalu "ada". kalian memang kadang tak tampak, tapi aku tau, ketika aku menyebut nama kalian, kalian akan menyaut panggilan ku, akan menjawabnya kemudian memastikan aku akan baik-baik saja. Macaci.

sepanjang perjalanan yang sudah aku lewati, aku yakin ada banyak hati yang sudah merasa kecewa dengan segala tingkah ini. kalau aku ucapkan kata maaf untuk semua itu, maka note ini akan berakhir basi. hanya pengakuan kepada, entah siapa, dan ucapan terima kasih, juga, entah kepada siapa. lewat tulisan ini aku hanya ingin membuyarkan semua yang aku rasa, bahwa sebuah hubungan memerlukan kejujuran, memerlukan pembicaraan, semua masalah gak akan pernah selesai hanya dengan diam dan menganggapnya gak ada. aku sering memilih untuk diam daripada berbicara panjang lebar, menurut ku hanya menghabiskan tenaga. tapi sekarang aku merasakan akibatnya. DINGIN.

berulang kali, setiap malam, aku menyadari ada air mata di balik tangan yang menutupi seluruh wajah. karena banyak hal "rusak" yang aku gak tau, memulai dari mana untuk memperbaikinya. karena terlalu sering memilih diam. dan lagi-lagi pilihan hanya ada satu : menghadapinya.

tapi yang terakhir tak selamanya berakhir, dan terkadang, hati harus siap jika semua itu memang harus berakhir walau tak ingIn berakhir. termasuk rasa. lewat titik-titik hujan, lewat air mata yang terjun diam-diam,ku haturkan rasa ikhlas dengan semua yang sudah berakhir walau tak ada wish, untuk semua itu berakhir. "mengerti" itu tak berbatas, karena sisi itu 360 derajat. tapi akhir ini, hanya bermuara pada suatu satu pengertian dan jawaban.lagu-lagu indah dalam hujan itu, HABIS diam-diam tanpa arti lagi.

Sebut

ditutupi seperti garangnya ombak samudra,
membiarkan bayangan buyar, hancur, berkeping, tak tersisa
hanya lewat sebuah dokumentasi semilir angin
hanya lagu yang serba tahu.

mencari jawaban dalam tatapan yang mengalihkan
sudah tau sia-sia...
tapi cerita menjelma
memberi tahu semua rasa panas...

Sekedar ucapan

Pertama kali aku mengenal usaha tentang rasa saat aku melihat marahmu. Saat itu bukan hanya aku takut kamu memutuskan untuk gak sama-sama aku lagi, aku juga takut sesuatu terjadi denganmu, sesuatu terjadi denganku. Itulah mengapa ku bunuh jarak kita, tak peduli hujan tak peduli laranganmu, tak peduli berdesakan, tak peduli hari itu sedang libur. Aku bunuh semua hanya untuk memastikan ketakutan ku tidak terjadi. Dan itu tidak hanya hari itu, ada hari lain yang membuat aku merasa aku bodoh.

Ada penyesalan ada pelajaran dari itu semua. Karena apapun itu adalah bagian dari perjalanan ku. Meskipun ada kebodohan, setidaknya aku membawa pelajaran dan pesan untuk hari ini. Dan jika indah, kau bisa tersenyum saat ini mengingatnya.

Ada satu hal yang baru ku sadari. Dulu saat semua berakhir dengan diammu, saat semua amarah dan ketidak cocokan berujung pada hilangnya komunikasi, aku dengan sembarang sering kali memutuskan untuk menyudahi semua. Tentunya semua hanya gertakan. Dan satu kaliamat pernah dia layangkan untukku, sesaat setelah emosi ku meledak-ledak "kalau kamu punya pacar, dan pacar kamu sekarat, sakit parah, apa ini yang akan kamu pilih? Ninggalin dia?". Hanya diam dan guaman kecil yang ku sampaikan setelah pertanyaan itu dia katakan "kenapa kamu gak bilang kalau...." dan hanya diam.


Dan sayangnya aku tak diberi kesempatan untuk, setidaknya menemani dia yang tidak sedang sekarat, hanya sakit. Sakit dalam arti sebenarnya. 

Ucapanku : Dulu kamu pernah merasa tidak memberi kesan apa-apa. Tapi kesanmu, tentang kekuatanmu ini, sudah menjadi kesan, setidaknya untuk ku simpan.

Aku Marah

Sore ini...bersama redupnya sore, siulan burung di balik pintu kamar,,aku marah!
Marah ketika membaca sesuatu...suatu pesan, pesan dari seseorang yang dari sejak aku tau, aku tidak tau!!! Membuat aku selalu merasa salah! Dan sekarang aku marah, resah, gundah, ah!!!

Mana ada orang yg senang d usik..karena berisik!!!
Aku tau semua yang kamu maksud buat aku lebih baik...terima kasih...kamu baik...

Tapi aku *marah. Entah sama siapa, tapi selesai membaca pesan itu aku marah!!! Apa peduli mu!!! Kan tadi kau bilang tak akan usik...sayapku sampai pada gunung laut!!!! *aku marah!!! Marah bersama debu,bagai jejeran tenda pendaki d gunung es yg berwarna terang,penuh harapan di dalamnya...

Marah ku berwarna terang.
Aku *marah, d balik silau sinar mentari di belakang bukit di samping gunung yang aku daki kemarin sambil merangkak!!!
MERANGKAK. Kau tau!!!???mana ada kau tau!!!

Sudahlah!!
*aku marah!

Peri Kecil

meracau kehilangan kata-kata
melihat gegana sipa menembak
tapi  masih saja diam berkutat dengan sakit
maju tanpa mengerti,mundur enggan

saat jauh terlihat bagai permata
saat dimiliki berubah jadi batu biasa
ini kah bentuk rasa tidak bersyukur?

saat tak dimiliki memberikan semua yang indah
saat dimiliki nyaris hanya melukai
dan telah mencampakan
ini kah sebuah hukuman??

saat jauh begitu di rindukan
saat dekat terasa begitu biasa namun tak henti memberi
tak pernah menggores, selalu apa adanya...
ini kah yang dimaksud??

diam,,namuun selalu ada
marah,,tapi memperlihatkan senyum
biasa namun peduli
ini kah dia belahan??

benar salah memang tak akan tertukar,,,
tapi usaha tak boleh dihentikan
dan hati harus ditetapkan...

Bahasa Bintang

Ketika beku dianggap penyelesaian terbaik, sebenarnya aku tau, hati tak tenang meninggalkanmu dan ditinggalkanmu.
Ketika cair yang tercecer kehilangan penghargaan, bukan tak menghargai hadirmu, tak mensyukurimu, tak ada alasan, mungkin perlu terbagi dan sendiri dulu.

Aku datang kemarin, membawa buncahan rasa bersalah, menghadap satu aliran sungai ranum, terjadi ikatan.
Aku pergi kemarin, meningglkan permintaan, yang tak pernah tersampaikan, kehilangan alasan.

Inikah kegagalan?
Ketika aku merasa menemukan rumah ketika berada denganmu, namun sejurus ketika aku selangkah maju, semua runtuh seketika, seakan seperti tak mengenalmu.

Inikah keberhasilan?
Ketika aku selangkah maju menjauh darimu, dan aku merasa melihat masa depan, namun ingin mengajakmu terasa sulit, tembok begitu besar, entah dari mana.

Inikah keyakinan?
Ketika aku merasa hancurnya semua ini, kita akan baik disuatu hari nanti.

Dan inikah ketulusan?
seakan semua berhenti bergerak, membeku, ketika namamu disebut, seketika ku ingat kesabaranmu, ketulusanmu, lembutmu...hanya ingat kebaikanmu. 

dan penantian bukan pilihan
dan mengakhiri bukan penyelesaian
hanya menunggu suatu hari itu...
saat aku dan kamu di depan sungai itu...
entah kapan...
tapi sudah terasa di hati itu akan terjadi...

Bagian I

Menahan kantuk malam ini...

- Sungguh tentang benar dan salah itu hanya bentuk relatifitas dari sudut pandang yang mengalami atau yang pernah mengalami atau yang menggabungkannya dengan beberapa teori. Selalu tak bisa sama, selalu ada pandangan lain, karena setiap orang menjalani hidup berbeda dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Sebuah pandangan yang lahir dari rasa yang tak sama, dari kepentingan yang pasti berbeda.

* Ketika keduanya bertentangan namun merasa yang sama, yaitu sama-sama merasa benar atau salah  akan menghasilkan perbedaan yang semakin jauh, seperti magnet berkutub sama, semakin menolak. Dua nilai yang berbeda, namun memang harus berbeda agar dapat bersatu dalam kata "maaf".

# Rasa lelah berlebihan dapat melunturkan tanggung jawab, melupakan kewajiban, merasa benar seketika, maka itu jangan ambil kesimpulan ketika merasa benar-benar lelah, sungguh itu dapat menghancurkan kebaikan yang butuh ratusah jam membentuknya, ribuan hari membangunnya, karena lelah berlebihan membuntukan kewajaran dalam berpikir... (based onthe true story n meaning real tired).

Saat melihat kehidupan orang lain yang begitu indah, begitu lengkap, terasa begitu sempurna, bahkan seketika lupa bahwa kesempurnaan itu hanya milik-NYA, dan tanpa izin rasa iri sering datang, rasa ingin menginginkannya, dan saat itu rasa tak bersyukur itu datang. Dan melupakan bahwa porsi dari TUHAN tak pernah meleset, selalu dan pasti benar. TUHAN memberikan apa yang kita miliki saat ini, karena memang ini yang kita sanggup miliki...

*Mengapa selalu rasa sakit? kenapa sedih ini datang selalu?
apa selalu bertanya, akan selalu di jawab,, hidup memang penuh pertanyaan, tapi tak semua dapat di jawab, hanya orang-orang terpilih yang menerima jawaban lewat TUHAN, jika tidak di beri tahu, bersyukurlah, mungkin hatimu sedang tak sanggup menerima jawaban.Begitu pun ketika sedang disakiti, habis hari untuk meratapi hari, nasib, tapi lupa, bahwa TUHAN sedang menghadiahkan kekuatan lagi untuk mu, kekuatan terbaru dari rasa yang kau anggap sakit tadi (dari seorang saudara untuk saudara)

*Ketika datang ke sekolah atau ke kampus untuk menimba ilmu, apa pernah terpikirkan untuk mendapatkan hal-hal baru, pengetahuan2 baru, bukan hanya terpaku pada materi pelajaran, materi dari modul, dari dosen atau slide? pikiran itu akan selalu menghadirkan pertanyaan yang akan berguna suatu saat nanti (inspired from 3 idiots film). Begitu juga dengan berbicara, seringkali saya di hadapkan pada seseorang yang menurut saya juga orang banyak (sungguh kurang ajar anggapan ini) orang itu tidak lebih pintar, tidak lebih berpengetahuan dari saya dan orang lain yang menganggap itu, karena rekaman nilainya tak begitu "baik" . Hanya karena itu, sempit sekali! Pembicaraan sangat membosankan, karena terasa hanya saya yang tau segalanya, ini: menggeleng, itu: tidak tau. "Lalu apa yang kau tauu haa?". Tapi saya mencoba untuk bercerita tentang diri saya sendiri, tenang kehidupan saya, kesukaan saya, tentang apa yang saya cintai, saya mutlak bercerita, tanpa ada keinginan untuk menarik dia menjadi saya ( yang sekali lagi dengan kurang ajar nya masih merasa lebih baik). Dan saat itu lah,,,saat dia juga menceritakan tentang dirinya sendiri, saat itu juga saya merasa ada banyak hal menarik dari dirinya, karena apa yang dia sukai, dia lakukan, tidak sama seperti yang saya dan kebanyak orang lakukan (bukan kah berbeda itu selalu tampak menarik? terserah itu mau positif atau negati).Pembicaraan itu terasa begitu menyenangkan, terasa menghentikan waktu. Saat itu saya mendapatkan pembenaran tentang "bercerita dan mendengarkan adalah awal untuk sebuah hubungan yang baik" dan " bercerita itu tanda mau berbagi, mendengarkan itu tanda peduli". Dan pembicaraan terbaik bermula dari tentang diri sendiri, karena jika baik, akan menghasilkan penerimaan apa adanya yang tulus. (aku menyesal dear pernah menganggapmu seperti itu, sungguh ini pikiran sempit, tapi aku bersykur di beri kesempatan mengenalmu :) )

Bagian II

Rasa sayaang,tak perlu kau ungkap pada banyak orang,sehingga terkesan kau takut kehilangan orang2 yg peduli pd mu. Apa kau tau,kepedulian tak akan pernah habis jk itu masih pada dirimu sendiri.

Ada seseorang yg aq tau memilik rs syg luar biasa pd bnyk mkhluk Tuhan,terlebih aku,tak pernah dia ungkapkan,bahkan yg sering adalah mengolok-olok ku. Membuat ku kesal,kami pun cendrung berdiam-diaman krena keegoisanku. Tp aq tau,skali lg sgt tau,rs sygny tak pernah luntur,sll ad,sll menginspirasiku tentang bagaimana seharusny rasa sayang itu tersampaikan. Dan dia tak pernah kehilangan rs peduli dr orang lain juga Tuhan.

Ungkapan rasa sayang bkn hanya mengatakannya ke siapa pun,bkn jg ttg penyampaian hasrat saja, tp bs dengan sentuhan mtmu, karena itulah kejujuran nyata. Rasa sayang tak akan menghadirkan kekecewaan, hanya keputusan yg diambl terburu2 yg menyakitkan itu,keputusan yg mementingkan ego. Seperti orang tua,,tak pernah mengecewakan, mereka tak mengabulkan sungguh bukan karena mereka tak ingin,hny mereka blm mmpu mengabulkannya,membuatnya jd nyata,krena keterbetasan mereka,mereka pun sungguh menderita karena itu. Jk kau kcewa,sungguh,jgn pertanyakan dmn rasa sayang itu. Jika kau tau bentuk kasih sayang yg begitu tulus itu,hatimu tak kan sanggup menerimanya,krena sesak akan penyesalan pernah menyakiti org yg menyayangimu.

Sungguh,jangan kau obral ucapan sayang itu....ungkapkanlah agar dia tau,bkn agar memberatkan lngkhnya, sungguh,merelakan dgn ikhlas utk kebahagiaannya adalah sayang yg nyata. Kau menginginkannya,tp yang kau inginkan bkn yg dia butuhkan. Sungguh,jk ikhlas kau akan bersyukur dgn tiu.

Rasa sayang adalah sentuhan lembut selain sentuhan terlembut dr seorang ibu. Dia tak sll mendekat,jarak sgt tak berati baginya. Karena sayang berdampingan dgn ikhlas.

Dan saat aku mendengar cerita ttg seorang ank yg menyesal krena blm sempat menyampaikan rs sayangny pd ibuny,hingga ibuny pergi mendahuluiny,aku menyadari bahwa mengungkapkan itu perlu,agar yg kita maksud tau. Tapi aku yakin,ibu itu tau ttg rasa sayang anaknya. Jgn trlalu pduli dgn ungkapan,sampai melupakan mkna dan apa yg shrsny dilakukan dgn rs itu. Apa yg dilakuakn ank itu adalah bentuk rasa sayang yg terungkap dgn cr yg lain.

Saat seseorang bercerita "aq gak tau dia sayang aku,dia gak pernah blg". Aku tau,km tau,perbuatannya berbeda bukan?hanyak km butuh diyakinkan,butuh ms2 indah itu. Tp apa km tau,km bs sj khlngn itu smua,yg lebih penting drpd ungkpn semata kalau km hny sbk mnuntut ungkapan itu. Dgn tuntutat,ungkapan itu akn trpksa. Jk syg,lkkn lah perbuatan dgn syg,ungkapan itu akn terurai bgtu sj nnti.

Dan sungguh,ungkapan sayang,bkn untuk mendatangkan kepedulian, menghadirkan pertanyaan,ungkapan sayang adalah penenang. Mengalahkan kecanggihan medis, karena menghadirkan harapan penuh makna.

Tuhan,tak pernah mengatakan langsung rasa sayangNYA (bc:cinta),tp sungguh iman membuat kita tau bahwa TUHAN sgt menyayangi makhlukNYA. Apa yg DIA berikan,sungguh itu bukti nyata rasa sayangNYA yg tak terbanding.

Dan lewat tulisan ini. Aq menyampaikan: Aku memang tak pernah ungkapkan sayang ini,tp sungguh,aku sadar htku merasakannya untkmu.untuk mu dan untukmu.

*dr hubungan yg terjalin bgtu kuat, *dr ungkapan rs syg yg melupakan apa yg seharusny ada dibalik rasa itu.
*dr pertanyaan2 yg tak hrs dijawab.
(Sayang yg berdampingan dgn cinta)

Bagian III

Sebuah cerita,,dikutip dari sebuah lembaran media cetak...

Seseorang selalu butuh seseorang. Dan aku begitu membutuhkannya,namun harus kehilangannya, juga merelakannya, melepaskan entah demi apa, hanya seperti sebuah kewajiban. Saat pertama kali menyadari aku telah kehilangannya, kehilangan tubuh dan hatinya, aku masih merasa dapat merampasnya begitu saja, toh hanya status hubungan saja yang menghilang, namun hati tetap menjamin keutuhan. Tapi na'as, semua begitu cepat berjalan, aku melupakan sesuatu yang begitu besar, aku lupa atau mungkin sengaja, untuk mengambil keputusan, tanpa mencoba merasa bahwa menunggu itu menyakitkan. Menunggu dengan jawaban diam. Walau tetap sabar, sama seperti Majapahit yang hancur oleh waktu, begitu pun penantian itu, meleleh oleh waktu. Bahkan aku sudah tak memiliki 1 detik untuk mencoba merasakan kembali rasa yang dulu. Penyesalan pun melayang entah kemana karena terasa seperti merasa lebih dari penyesalan itu sendiri.

diam juga keputusan dan sikap

Hanya kalimat sederhana ini, yang membuat ku mengakui semua kesalahan ini...
Hari ini, nanti, esok, tak akan lagi ada denganmu...
diam yang aku pikir "nanti dulu" bersama dengan waktu telah memberi jawaban.
dan suatu saat aku tak akan memilih diam lagi...

Pilihan

Apa kita sering berpikir lalu bertanya, kenapa ini, kenapa itu?lalu terdiam memikirkan jawaban entah dari siapa, namun kita berharap jawaban itu datang?
Lalu seiring waktu, pertanyaan itu terlupakan, padahal jawabannya sedang kita jalani. Hal sekecilitu sering kali terlupakan, karena pertanyaan ribet lainnya sudah datang dan mengantri di belakang.

Aku...sangat bersyukur dapat mengetahui beberapa jawaban dan disadarkan beberapa hal. Karena aku...tau gak gampang menerima sesuatu yang baru dan berbeda, tapi selama itu benar dan di jalan-NYA , itu akan jadi abadi.

Cenderung kita memikirkan dan mengurusi hal-hal yang sebenarnya hanya berarti bagi kesedihan kita agar bertambah banyak, melupakan deretan anak-anak kecil mengais makanan bekas kita di depan kita. Hati ini terlalu hitam dan egois hingga hanya memikirkan masalah sendiri yang sebenarnya pun hanya untuk bersedih.

jangan biarkan hatimu bersedih dengan hal-hal yang sengaja kamu pikirkan, karena kesedihan itu sudha kamu undang (someone)

Sering kali kita membanggakan hal baru, seseorang baru karena membawa hal baru pula dalam hidup, tapi tanpa sadar melupakan orang-orang terdahulu yangjauh lebih penting. Pacar dan Orang tua. Wow. Mendengarkan apa yang diinginkannya lalu dengan syahdu melakukannya. Apakah ini bodoh?Aku rasa bukan, hanya karena belum terjawab saja pertanyaannya.

dan semua itu adalah---> PILIHAN

Bukan Hari Ini

nilai dari kesederhanaan fakta yang kau muntahkan semalam seakan membuat mati jaringan
benang di sini kusut...letaknya di sini...di hati... masih sederhana juga kau bilang? sarafku tak berfungsi sesaat.

perubahan yang kau nyatakan semalam membuat semua bentuk ekspresi hilang
berkata seperti robot, tak punya rasa...tunggu...aku bilang tunggu sebentar...tapi kau tetap enyah.

ajakan yang kau ucapkan semalam membuat ku kembali terjun, jatuh, berdebam, tanpa rasa sakit, karena kehilangan rasa
aku bilang tunggu...sebentar, dan kau bilang itu yang terakhir.

rasa muak yang kau bicarakan semalam membuat lampu rencana kita mati, pecah, berdesing, ribut dan tertiup angin
sedikt saja toleh ke sini, muak ku kronis. Meski aku tak tau bandingannya denganmu

seperti gemerincing setan, bunyinya nyaring tapi maknanya entah kemana.

perbaikan dari kehancuran yang terjadi
runtuhnya kejayaan yang ada
terkuaknya nilai paling berharga dari suatu kebenaran
hanya bertemankan waktu...
seperti aku dan kamu...
yang bukan hari ini.

Debu

Ada pesanan yang pasti tak bisa terkabulkan
Ada permintaan yang pasti terabaikan

Aku menulis tanpa ada rasa lagi
Melupakan pamandangan sungai itu
Yang dari sudutnya kita memandang indah
Memotret banyak cerita

Ini kah ketetapan?
Kita semakin merenggang...

Aku merasa kosong
Menghapus pemandangan bintang di lapangan luas malam itu
Yang kita pandang sambil berkejaran dengan waktu
Namun tetap membekas

Seperti debu...
wush...rencana-rencana kita berterbangan, hilang, tak bisa berkumpul lagi...

Seperti debu,,,
yang memberi kesuburan, semoga rencana itu memberi anugrah di tempat lain..
Karena aku kehilangan daya untuk mencoba lagi...

Kita

aku tau ini bukan siklus yang harus terjadi di antara kita
saat-saat menyakitkan yang terulang
aku pun tau, ini bukan yang kita inignkan
jengah ini
sakit ini
pertanyaan ini
dan juga perih ini
mengiringi pilihanku
dan bukan kamu

saat seperti ini yang ku takutkan hanya pikiranmu tentang ini akan berlangsung selamanya...
dan aku terus berharap ini seperti roda, berputar, berganti dan kembali baik...karena waktu memberi banyak kejadian

ini bukan tentang kesalahnmu, bukan tentang kesalahan ku juga
tapi ini tentang kita yang sedang alami ini,,,
jika kau jengah, percaya saja aku pun begitu...

tapi setidaknya biarkan ini sejenak terjadi
agak menjadi lebih berarti dengan apa yang telah kita lewati
 
keindahan itu begitu luas disekitar kita :)

Batas

Ada banyak batas diantara semua peran...
termasuk ke pura-puraan yang mengakar...
yang terlalu dalam hingga tak tercabut lagi...
dan akan selamanya menjadi "tersalah"

menyelematkan satu asa meruntuhkan yang lain
menetapkan satu asa merobohkan mimpi-mimpi
membiarkan hanya memperpanjang runcingnya rotan
memilih pergi tak memberi sedikitpun kebaikan

hingga kah sampai pada detik terakhir?
saat semua urusan tak bermakna?
kala lelah menyala
hanya itu yang ada...

tidak tau ini, tapi diminta mengerti...
namun terlanjur, saat sudah salah baru diberi tahu
dan tetap akan jadi "tersalah"
minta ku...tidak bertemu denganmu..

Dendam

entah harus berapa kali
entah harus berapa lama
diam ini bisa memiliki arti
bisa mengembalikan keaslian sebuah senyuman

luka teramat dalam 
lagi dan lagi 
berkali kali menancap
membuat karya sendiri

tak ada persidangan
tapi aku tau terdakwa itu
aku enyahkan sadar itu
ingin meraih semua
yang ku tau sia sia

perbelokan ini
cerita ini
persilangan ini
membuat kehilangan
kehilangan senyumnya, senyumku
yang dulu,,berkali-kali aku harap kembali
sendu merayap,akan menetap dan mendendam..

Makna terbatas

sudah tiba waktunya..meskipun memaksa tau...meskipun memaksa minta di jawab....
yang terjadi sekarang gak akan sama lagi dengan kemarin karena awal adalah titik, dan titik hanyalah satu...
titik yang diabaikan,,,kesalahan dalam mengambil keputusan.
meski hilang sudah teman dalam senyuman
meski hilang sudah rasa tak sendiri
meski hilang sudah rasa aman yang tentram
meski hilang sudah keributan hati
tapi setidaknya hilang itu memberi tahu ku bahwa aku pernah memiliki
memiliki keindahan dengan titik itu
dapat di kenang,, di sini, selamanya...

sebuah bingkisan terima kasih dan rangkaian maaf untukmu...
terima kasih untuk pelajaran ini...
maaf telah memberi goresan berbekas dalam hatimu..

Persegi

kembali aku melihat....entah ini ke belakang, entah sejajar, entah ini masa depan..
memekakan! pekak yang menimbulkan rasa sakit,,
memanggil-manggil tapi tiada suara...hanya hati ku yang memanggil yang ternyata rindu...
tak ingin ku hapus sebait pun kenangan itu tapi perlahan dia beranjak pergi berikut kenyataannya

desing suara kita yang mendiskusikan dunia
risau suara kita yang meributkan ketidakadilan si penguasa dunia
desah nafas kita yang bersautan doa untuk alam, tak pernah putus
sesak segukan tangis kita yang tak pernah tega melihat luka

aku kehilangan itu semua dan terasa seperti mati, tak memiliki diri
ataukah aku harus meminta untuk ditarik agar tak tau kabar dunia lagi demi langit yang kita impikan
demi bintang di sungai itu?
demi semua masa terbaik milik kita..

kita,,beradu dalam damai, tertawa dengan tenda-tenda bulat
merencanakan dan terjadi
merencanakan kesederhanaan hijau
merencanakan tapak kaki keyakinan

slayer itu...terus menatapku dari sudut lemari..
tak usang..tak tersentuh..
tapi selalu bertanya...
kapan kita bertemu mereka?

pertanyaan itu pun keluar dari nadiku, karena sudah kuketahui kalian aliran darah ini..
tapi benarkah kesalahan ini membangun tembok tak tertembus?

dan aku masih, akan selalu rindu

Make it simple, please

I listen a song to restore my spirit
I throw away prejudices
I close my eyes to ugliness,
but it happened right in front of me
how long should I walk on in the dark?

I have something inside of me that was  problem
But all have changed with your touch
You who have disappeared
I didn't question again about that,,even I am really wanna know the reason
 I'm grateful to receive all
I see this also happening to us
Something dangerous
Which will lead to nonsense
n we dont want it
Let's finish with the simplicity
dont take for granted
because it will hurt both of us
start from now..
for simple smile with simple words

yes or no

Mad...
Saya marah saya gila
Smile
saya tersenyum saya tertawa
LOve
saya mencintai sayang pergi saya ditinggalkan
MOve
saya bergerak saya berpindah
Silent
Saya berbicara saya terdiam

Saya...melakukan dan alami banyak rasa...
banyak "pelacur"...obral....empati simpati dicari
empati simpati di rasa tak ada arti

Mad
Saya marah saya tak bisa berbuat bahkan berbicara utk mengatak "iya" dan "tidak"
hiarious
Sayang sedih sayang riang

scare

tapi saya percaya...percaya kebaikan...
Mad...
Saya marah saya gila
Smile
saya tersenyum saya tertawa
LOve
saya mencintai sayang pergi saya ditinggalkan
MOve
saya bergerak saya berpindah
Silent
Saya berbicara saya terdiam

Saya...melakukan dan alami banyak rasa...
banyak "pelacur"...obral....empati simpati dicari
empati simpati di rasa tak ada arti

Mad
Saya marah saya tak bisa berbuat bahkan berbicara utk mengatak "iya" dan "tidak"
hiarious
Sayang sedih sayang riang

scare

tapi saya percaya...percaya kebaikan...

Seperti biasa

seperti biasa dan sebagaimana sering ku lakukan, lewat tulisan aku gambarkan yang aku rasakan tentangmu...
tentang mu yang aku lupa bagaiaman bisa kita menjadi terpisah, padahal aku selalu ingat kamu dalam setiap cerita yang aku punya, sejak kita kenal hingga kita seperti sekarang, dan mungkin selamanya...
sedikitpun aku tak memberi celah pada rasa sayang ini untuk berubah menjadi benci, meski ketidaktahuan ini mengukung ku untuk menyapa, entah bagaimana mengawalinya...
aku tak punya batas waktu untuk itu, sudah terlalu banyak ingkaran janji tentang hari esok, yang hanya bisa aku maklumi sakitnya...
hanya apa yang pernah kita berdua lakukan dan rasakan yang selalu bersama ingatan ku akan mu...
aku pun juga tak menemukan cara menjelaskan semua ini, semua yang terasa dan terasa....
aku tak mengenal mu jika semua telah berubah seiring waktu
tapi kamu masih dapat mengenal ku, karena aku tak membatasi rasa ku...
KAPANPUN

Wish

masih pagi, kau ketuk pintu untuk sebuah doa
masih pagi, kau ucap salam memulai kehidupan
sudah siang, kau datang untuk kebersamaan
menjelang malam, kau duduk bercerita

berjarak untuk berbagai keinginan
tak dapat menetap
setiap perubahan menembak ke arah ku
haruskan berakhir mati???mati sesungguhnya...
untuk sebuah ucapan "selamat tinggal" yang sesungguhnya...

Sudah Berlalu

sulit untuk memulai apa yang ingin disampaikan
tapi dia ada di sini "di hati di kepala"
begitu banyak pertimbangan untuk menyampaikan
yang utamanya takut menjadi sia-sia
seperti yang sudah-sudah,hanya sekedar berarti

bosan berbicara tentang "suatu hari" sebagai penyejuk hati, hanya omongan semata
bosan berbicara tentang "percayalah semua akan indah pada waktunya", hanya ketenangan semata
bosan berbicara tentang "akan selalu ada", aku pernah begitu dan wush!!!pergi begitu saja dengan sadis
bosan berbicara tentang "kepercayaan" toh apa yang aku sampaikan sudah menjadi angin, rahasia yang dapat didengar siapa saja.
atau mungkin ini karena aku yang tidak selalu ada?
atau aku merasa aku sudah selalu ada?
hanya saja tak di sadari...
dan haruskan aku menghilang "lagi"...
seperti dirimu yang menjadikannya  "mood"

mana yang paling menyakitkan antara meninggalkan dan ditinggalkan?
tak akan ada jawaban kecuali "mati"
aku kan buang semua janji yang disampaikan dan janji yang terucap.
itu hanyalah harapan, akar dari semua sakit hati
mungkin egois atau entah lah apa, hanya merasa jera, entah sekedar atau banyak

rumput di depan sana masih hijau
bunga masih berwarna
air di atas sana masih berbunyi
apakah egois?
bukan....karena "mata letaknya di depan"

Lupakan air mata untuk mengingat dulu yang berarti
sungguh hanya menghabiskan hari
terbaik menjadikan hari ini
hari ini, yang ada, yang terasa...

aku tak ucapkan selamat tinggal, aku tak berucap apapun
hanya mengikuti caramu menganggap ini memang sudah benar-benar selesai, tak lagi saling kenal
aku tak ucapkan sudah, aku tak ucapakan iya untuk perpisahan selamanya
hanya melakukan yang sudah disudahi oleh diamku, diammu, bentak ku, sabarmu, tangismu, tangisku, marahmu, rasa bersalahku, dan menerbangkan rencana indah itu, mengecup puncak itu! yang aku tau akan ditepati namun semua persiapan terasa mati, rasa sakti itu kembali
devil and angel

ini bukan kosong, ini ada...untukmu...
biarkan sebentar saja, aku ingin berdamai dengan gemuruh
gemuruh yang ada saat kau menghilang
saat aku merasa rindu

jarak ini tak bermasalah, namun menyepikan ku
meliarkan pikiranku
berhentilah "marah"
berhentilah "bimbang"

semoga

*sengaja ditulis panjang, agar sudah menimbulkan rasa malas sebelum membaca, biar dia menjadi guratan pribadi yang tersimpan maya
Leni's photo

"keinginan menginjakan kaki di tanah ini tak akan pernah mati, hingga mati"

Ingin dan Angan

Aku ingin bertanya dari semua yang aku lihat padamu
Aku ingin mendapat jawaban dari semua pertanyaan ini
Aku ingin mendekat
Aku ingin menyentuh

Aku ingin memberi senyum pada setiap pertemuan
Aku ingin mendengar cerita mu kemarin, tanpa aku
Aku ingin berbincang
Aku ingin berbagi

dan aku berangan itu keinignan itu menjadi nyata
ingin dan angan
hanya keduanya...namun tetap tanpa benci karena aku tak mampu
Jauh di sini, dasar hati.

Pemberhentian

Apa yang aku dapat dari merasa telah miliki hati mu?
Apa yang aku dapat bahwa kau tak pernah menghapusku dari hidupmu?
Padahal sudah nyata kita terpisah melebihi jurang manapun, ikatanmu menggilai semua nekat yang dipilih.

Apa yang kita dapat dari mendiami nasib hati merana dan menyakiti hati orang lain juga?
Apa yang kita dapat dari menyimpan rasa haram yang mengingkari janji-janji suci?
Padahl kebahagiaan itu jelas ada di depan mata.

Rencana kita terlempar sedemikian hina!!!
Imipian kita jatuh berdebam!!!
Kita begitu kenal rasa perih itu, rasa menyakiti itu
Pagi itu! Subuh itu!

Ikhlaskah kita dengan kerelaan memberi ini semua?
Benarkah kebiasaan dapat melupakan kenangan begitu besar?

Aku mau dan akan berhenti di sini.
Tak berarti kau jadi tak berarti
Tak berarti kau jadi tak kupedulii lagi
Aku mau hati mu merasa apa yang kau punya
Jua dengan ku...

*diangkat dari sebuah CerPan

Alam yang Sama

Aku tak tau, apakah tanganmu akan masih selalu ada
yang aku tau, fisik ku semakin jauh darimu
belum sempat kemarin kita kembali berdiri pada tanah yang sama
sudah pergi ragamu tanpa ampun

Aku tak tau, apakah bisa aku jelaskan semua yang telah terjadi
yang aku tau, semua telah berubah jauh
entahlah apakah kekuatan itu ada untuk bercerita
sudah demikian jauh aku berbelok

Sudah muak, bosan, mejalani cerita seperti ini
Inginnya aku tinggal semua, pergi tanpa pamit, TAPI KEMANA?
Lelah dengan selalu mengorbankan hati yang lain
Tapi pun aku tak ingin berjalan di atas keinginan yang lain

Bukan ingin menjadi bidadari yang selalu baik
Aku hanya ingin menjadi diri ini yang mencintai senyuman setiap orang
Meski ku tau, membahagiakan semua orang adalah jalan kegagalan
Tapi, haruskan ku goreskan cerita hitam demi bahagiaku?

Seseorang mengajarkan pengorbanan tanpa perhitungan
Seseorang mengajarkan keikhlasan tanpa amarah
Seseorang mengajarkan ketulusan tanpa penyesalan
Seseorang mengajarkan penerimaan tanpa protes

Yah, meskipun..meskipun kita...kita tak lagi diterpa angin yang sama
Menginjak air yang sama
Melihat bintang yang sama
Merasakan dingin malam yang sama
Memejamkan mata di tempat yang sama
dan berpijak pada tanah yang sama
Aku tetap menyamakan pandanganku pada mu,,,


Sebuah Surat

mendendang cerita bersama dengan mendung
menggembala di antara riak awan hitam
berlari menuju danau hijau yang tetap diam
berlari mengejar waktu yang entah siapa pemburunya

aku dan kamu hanya bagian kata dari setiap kalimat dan paragrap di dunia ini
aku dan kamu hanya bagian dari isapan cerita yang sebentar mengisi kenangan
aku dan kamu hanya bagian dari tawa di sepanjang jalan
aku dan kamu hanya bagian dari suara yang menyatu dalam ribut

kamu menyinggahi setiap potong cerita...kamu ada walau hanya menyumbang nama...walau hanya sebentar waktu...
kamu memberi ruang untuk tetap menulis...memberi simfoni yang menginspirasi....memberi melodi sesuai alur...
kamu...menghentakan batas, jarak dan ketidak mungkinan dalam sebuah bantahan
kamu...mendiami diri antara dua lembah yang masih ingin aku lihat...

kamu menyimpan diri mu sendiri dengan pilihan hatimu...
meskipun ini akan berakhir dalam hitungan waktu...
runtuh bagai sebuah kerjaan perkasa
hancur lebur hanya terkenang sedikit

tapi kamu telah menyimpan dirimu di sini...
diantara tebing dengan bising air
tapi kamu telah menyimpan dirimu sendiri di sini...
dibatas antara ombak dan jingga

Pertemuan

tatapan itu tidak menususk, tidak pula mempesona, namun tinggal di sini, enggan pergi atau aku yang mempertahankan?
suara itu tidak lembut, tidak juga memanjakan telinga, namun terngiang di sini seperti musik yang sering ku dengar. Paksaan ku untuk mengingat ataukah dia memang hadir?

menghadirkan kelelahan yang mematahakan hari-hari, hanya terbayar dengan pertemuan-pertemuan yang seperti tergambar jelas muaranya saat telah usai.

aku hanya mengajukan pertanyaaan, yang entah pada siapa...mengapa kita dipertemukan?

A Moment

Kadang sesesuatu yang telah terjadi hari ini menjadi sebuah kenangan yang indah untuk kita esok hari, bahkan selamanya. Walau hanya sebuah obrolan ringan atau mungkin tidak penting, walau hanya sebuah candaan yang terdengar garing, jayus atau tidak lucu sama sekali, walau hanya sebuah tatapan, walau hanya sebuah pertanyaan konyol. Walau itu adalah sebuah kekurangan yang telah dia perlihatkan. Dan walau pun hanya aku sendiri yang mengingat itu semua, tidak dengan mu dimana kita bersama melewatinya. Tapi semua terekem begitu rapi, apik dan terasa nyata ketika diingat namun begitu menyesak di dada karena menghadirkan rasa rindu yang barangkali menjadi sesuatu paling mahal untuk bisa di kabulkan, karena tak dapat ditebus oleh apapun. Moment itu tak akan kembali. Karena selalu ada masa ketika kita harus kehilangan moment itu. Dan ketika aku di batas pengertian, di batas sadar bahwa ini semua hanya akan menjadi sebuah moment, ketika ku dengar tautan hatimu, ketika ku tau arahmu dan ketika ku tau maksudmu yang telah menjadikan cerita yang telah ku buat menjadi debu yang terbang seketika itu juga, yang aku ingat dan ku keluarkan bersama sesaknya nafas ku adalah aku telah melewati moment indah itu, memilikinya dan sekarang aku harus kehilangannya. Suatu saat ketika aku merasa rindu untuk kembali pada moment itu yang tentu tak akan kembali, catatan ini akan mengingatkan ku bahwa aku pernah menulisnya dengan kerelaan sesaat sebelum itu semua akan terjadi. Dan kini, hanya dengan pasif akan ku manfaatkan moment yang masih tersisa ini. Denganmu ^^

A Moment II

Hanya hitungan hari kau beri aku sebuah masa yang cukup untuk menjadi cerita yang dapat ku abadikan, ku rekam, ku cetak dan ku tempelkan di dinding hati, sebatas untuk mengobati rindu yang bisa saja datang begitu saja.
Dan, berlembar tulisan yang ku tulis dengan mengingatmu telah mengentaskan ku menjadi hal yang lain saat ini, telah ada karya tentangmu, telah ada yang ku abadikan hanya dengan rangkaian huruf untuk mu.
Masalah kau akan menatap atau tidak, membekas atau aku harus berusaha untuk mengingatmu nantinya, menjadi kenangan atau hanya bagian yang terlewati begitu saja bukan lah hal penting. Tapi bagaimana aku telah menerima mu moment yang kau berikan, moment bersamamu dan arti dari semua yang kita lewati. Karena aku telah rasakan bekasnya saat tak sedang bersama.

Aku tidak bisa menahanmu, aku tak bisa mengusir mu juga, karena itu adalah hidupmu, pilihanmu, yang aku bisa saat ini adalah menikmati moment yang semsta izinkan saat ini.

Menari bersama mu Lagi

Kemarin, saat aku masih satu atap bersama kalian, tinggal dalam satu rumah, aku selalu bilang, adanya kalian membuat aku seperti pulang ke rumah sendiri, karena kalian adalah keluarga baru ku di sini. 

Dulu, yang sering pulang larut dan pagi-paginya pergi lagi adalah aku, yang sering tiba-tiba pergi, nginap berhari-hari adalah aku, namun selepas melakukan perjalanan yang kadang jauh, melelahkan dan ketika  menyadari akan pulang ke kostan, bertemu kalian. aku kembali bersemangat dan merasa aman. Ada kalian yang akan bertanya kabar, ada kalian yang akan mendengar cerita perjalanan ku. 
Dulu juga, ketika aku berlari naik ke lantai dua, tempat kita sering berkumpul, berlari dengan hati yang kasat kusut, lebur hancur, kalian, hanya dengan tatapan yang aku tau bahwa kalian mencoba memulihkan itu semua, mencoba merasakan, mencoba memberikan senyuman untuk aku. Kalian tau? Saat itu hanya dengan kalian ada saja aku sudah merasa bersyukur dan dapat tersenyum.

Dulu aku yang paling sering tiba-tiba mengunci diri di kamar, berjam-jam, kalian berusaha mengetuk pintu bahkan mengintp dari fentilasi kamar, mengirim sms, hanya memastikan bahwa aku baik-baiak saja dan tidak melakukan hal konyol. Saat itu, aku hanya belum mampu menceritakan semua dan tak dapat berpura-pura baik-baik saja.

Dulu, saat aku melakukan hal-hal terlarang, nakal dan tidak sehat, kalian dengan cibiran yang aku tau itu adalah bentuk perhatian paling tulus, tak pernah bosan mendengarkan. 
Dulu, saat aku pulang dengan ribuan cerita, baik indah maupun menyebalkan, kalian siap dan ada untuk mendengarkan, meskipun itu menganggu waktu menonton kalian, waktu membuat tugas kalian, tapi kalian selalu ada. 

Sayang, di akhir-akhir kita bersama, semua sibuk dengan urusan masing-masing, tapi itu ada baiknya, karena kalau ada acara perpisahan, traktiran atau karokean bareng, selepas itu aku pasti nangis semalaman. 

Kalian yang buat aku gak mau pindah ke kostan manapun , wakaupun itu murah, walaupun itu lebih baik, karena aku gak bisa bawa serta kalian. Kalian juga yang buat aku selalu nyaman dengan kostan itu.

Bukannya tak pernah kita bermasalah, bukannya tak pernah juga kita salaing membicarakan satu sama lain, tapi itu semua tak menjadi simpanan untuk saling menjelakan, malah menjadi sesuatu untuk saling mengingatkan.

Kita pernah berbicara "seandainya aja ya, anak-anak kostan kita sepert dalam cerita anak kost dodol", saat ini aku menyadari, bahwa itu hanyalah ucapan kita yang belum bersyukur dengan keadaan kita sekarang. Pertemuan kita dalam satu atap bukan suatu kebetulan, semua telah d rancang oleh-NYA untuk menajdi kan kita saudara. Sekarang, aku tak perlu lagi angan-angan agar kita seperti buku dalam anak kost dodol, karena dengan kalian ada saja sudah cukup membuat ku merasa bahagia lebih dari kata-kata dalam novel itu.

Terima kasih untuk hari-hari spektakuler di kostan. Untuk moment-moment indah yang konyol, kadang tak masuk akal. Terima kasih bersedia menjadi saudara ku. Kadang, mendengar suara kalian di telfon, membaca tulisan kalian di wall, d sms, bukan mengobati rindu, malah membuatnya semakin dalam karena sekarang yang aku tau, hanya itu yang bisa kita lakukan. Tidak seperti kemarin, dapat beresntuhan, dapat saling menatap. Maaf untuk semua kesan yang melukai hari-hari dan hati kalian. Semoga tak selamanya dan dapat pudar seiring waktu.

Someday, I want dance with you again. All.