Saturday, March 31, 2012

sebiah usaha

apa sih patokan seberapa besar usaha mu untuk mendapatkan apa yang kamu mau? misalnya kamu pengen punya tab model terbaru tapi kamu gak bisa dapet dari orang tua kamu, ada banyak pilihan kan? nyari kerja sampingan,nabung sampe ngurangin kebutuhan yang biasanya kamu keluarin, nyari nyari lomba yang hadiahnya tab, ada banyak kan? selama ini kamu menempuh pendidikan juga sebuah usaha, right? jadi ukuran seberapa besar usaha tu gak ada batasnya, selama kita masih bernafas yang artinya masih hidup, berarti masih usaha, right?

akhir akhir ini saya hanya sedikit gerah dengan beberapa pendapat yang menganggap seorang cewek yang menolak seorang cowok yang menginginkannya adalah sombong,gak ngehargain usaha cowoknya "Gila,tu cowok kan uda usaha banget,udah sayang banget..kejam tu cewek" ato apapun itu asumsi yang ada.

satu hal,kita gak bisa menyamakan usaha kita dengan orang lain hanya karena kita menginginkan hal yang sama, jalan hidup kita berbeda broh...right? kamu butuh dua hari belajar untuk ujian besok, tapi kalo aku cuma satu hari, ini beda kan?

besarnya usaha juga menetukan hasil,tapi kita gak bisa menyamakan tiap usaha yang mereka lakukan, mereka yang telah berhasil,,mereka yang udah punya kerjaan, usaha sendiri, yang udah keliling Eropa, mereka yang udah punya pacar atau pasangan sekalipun. Gak bisa. Yang kita bisa ambil dari mereka, yang bisa kita contoh, adalah tidak menyerah, berusaha terus terus, sampai dimana saat alam dan semesta memberi tahu untuk berhenti, saat itulah kamu dan aku tinggal menyerahkannya pd semesta, biarkan tangan Tuhan yanh bekerja.

sorry broh, bukan karena lo udah galau semingguan, bukan karena lo udah ngajakin tu cewek jalan ketempat yang dia mau, bukan juga karena hadiah hadiah yang lo kasih, lantas lo berhak atas hati dan dirinya. Hanya segitu usaha lo? dan setelah itu lo nuntut, atau bahkan men-judge dia yang lo mau gak, ngehargain lo?

kalo kamu belum dapet apa yang kamu mau, coba cek lagi usahamu.
Tujuan kita itu gak punya salah lagi atas kegagalan kita.

okey, selamat berusaha brother sister.

Tuesday, March 6, 2012

Sebuah kata "terlalu"

"Kamu dingin" katanya.
"Iya,di luar hujan, jaket,syal, sarung tangan dan kaos kaki saya belum kering" jawab saya sambil tetap menatap hujan.
"Hatimu juga sedang basah?" tanyanya hati-hati.
Sayang senyum sambil menggeleng. Sejak kapan dia bisa melontarkan kalimat tersirat seperti ini.
"Sikapmu juga dingin ke a...ku" terbata lagi.
Saya menaikan alis, melihat ke arahnya yang duduk di samping saya, lalu memberikan senyum.
"Apa dari senyumku, terlihat ada rasa tidak suka denganmu?
Dia menggeleng.
Setelah itu kita hanya menikmati malam dengan bunyi hijan.


Aku, hanya baru saja sadar, telah terlalu mencintai dan menginginkanmu. Mungkin, setelah ini, aku akan kehilanganmu.

Tulisan Galau

"Blog Galau" Demikian sebutan dari beberapa pembaca tentang blog saya. Awalnya saya terganggu sekali, berulang kali saya coba menjelaskan bahwa yang saya tulis itu adalah fiksi, kesimpulan dari apa yang saya alami dan di tambah sedikit bumbu-bumbu hasil khyalan saya. Ah, tapi tidak bekerja dengan baik, tetap saja di sebut "Blog Galau". Malah ada yang menyebutnya "Blog Diary". Ah, semakin mengesalkan.

Tapi setelah saya pikir dan rasakan lagi. Memangnya saya menulis untuk siapa? Memangnya saya buat blog untuk siapa? Untuk mendapat pengakuan? Atau pujian? Sedikit picik (padahal saya tidak terlalu mengerti arti picik). Atau apakah saya harus mengikuti jenis tulisan para penulis idola saya? Lalu saya jadi apa?just follower?

Ah sudahlah. Saya penikmat puisi, novel, cerpen dan saya senang berkhayal. Dan kalau itu semua menghasilkan tulisan yang di anggap galau dan curhat, memangnya kenapa? Tidak menimbulkan masalah bukan?

Saya mengidolakan penulis dan ingin jadi penulis, tapi bukan seperti mereka, tapi diri saya sendiri. Mereka adalah sumber inspirasi dan ilmu untuk saya terus belajar lebih. Saya adalah saya yang akan menulis dengan gaya saya. Salam menulis.

Hanya ingatan

Aku dengarkan rentetan rencana-rencana indahmu (kemarin). Aku hanya tersenyum, setengah saja hatiku menyetujui itu semua. Rencana masa depan yang kau libatkan aku di dalamnya. Detail dan tentu saja indah. Tanpa peraetujuanku.

Hari dan hari terus berjalan, sedikitpun tak pernah mundur, sekalipun tak pernah berhenti. Kita semakin berjarak. Kau kadang masih saja menguraikan rencana-rencanamu itu. Dan sedikit dari setengah itu bertambah.

Dan saat aku membaca, ummm, bukan, lebih tepatnya melihat dan mendengar langsung kau bercerita tentang rencana-rencana indahmu tanpa ada aku sedikitpun. Aku berpikir, ah mungkin kau amnesia sesaat. Ternyata, dan nyatanya kau sadar.

Tidak akan aku uraikan kalimatmu dulu. Tidak akan pernah sekalipun. Kemarin dan saat aku tau tentang pergantianmu, cukup saja untuk tau bagaimana kamu.

Terakhir, semoga bahagia. Oh ya, aku masih mau mendengar senandung rencanamu karena sebelum jadi nyata, aku akan menganggap itu lawakan saja.