Sunday, March 27, 2011

Kini

Pengantar matahari kembali pada peraduan
Pertunjukan demi pertunjukan telah selesai
Tiada lagi peran utama dan antagonis
Telah diakhiri tanpa keputusan
Telah selesai sebelum fajar dengan menghindar

Namun kini, masih saja bercerita lalu
Berjalan dengan pelan namun sangat terasa
Dan kemarin, masih saja disimpan
Berjalan dengan diam


Kusadari semua rencana menunjuk ke depan
Kuketahui tiada dalam daftar 
Namun kini, biarkan berdua saja
Namun kini, biarkan sebentar saja
Tiada kenangan, 
Hanya memastikan kebaikan satu sama lain

Telah tersadar harapan punah meluluh dengan waktu
Telah tersadar keinginan menghilang dengan pertemuan

Tiada yang ingin berakhir lagi
Jadi biar kan mulai ini tiada disadari
Bogor, 27 Maret 2011

Tuesday, March 22, 2011

Pertemuan

Sebuah potongan cerita
Tania menutup bukunya perlahan, berharap waktu berjalan lebih cepat tanpa dirasa lamanya. Sekali lagi ditatapnya foto kecil disudut meja kerjanya, lalu tersenyum. Sebentar lagi, batinnya. 
Pertemuan itu pun terjadi. Dua manusia yang sudah tidak bertemu selama 3 tahun, terpisah karena masalah dalam hidup yang memang selalu ada.
Hanya senyum dan pancaran rasa rindu yang sulit di asingkan lagi saat pertemuan itu terjadi. Sulit memulai kata-kata, padahal awalnya sudah Tania rencanakan akan menceritakan apa saja pada pendengar terbaiknya. Namun semua seakan terpenjara karena sulit untuk percaya ini nyata. Memang tidak ada kesepakatan tapi keduanya telah menerima tidak akan berhubungan lagi, namun hari ini terjadi. Seperti dilemparkan waktu untuk merasa 7 tahun yang lalu saat kasmaran itu memeluk hari-harinya. 
Takut untuk berbincang, takut mendengar kembali kenyataan yang sudah terjadi. Biarlah, biar saja diam sebentar, biarkan perasaan ini bebas merasakan apa yang dia mau dulu, jangan berpikir agar tidak tersadar kembali. Berprasangaka baiklah dengan hari ini. Tania membiarkan semua.
Dan itu pun berakhir. Tak terasa begitu sakit, karena sudah membuat kesepakatan dengan hatinya bahwa ini hanya. Biarlah kekuasaan waktu yang membawa ini semua pada muaranya masing-masing. Biarlah untuk saat bahagia itu ada hingga luntur dengan sendirinya. Biarlah, biar kan ini terasa perlahan.


Tania menyingkap lengan bajunya yang panjang untuk melihat jam tangannya. "Sudah lewat 5 menit" batinnya.
"Misi mbaaak" Suara itu Tuhan. Suara yang benar-benar Tania rasakan seperti embun saat mendengarnya. Sekesal apapun dulu, seketika sejuk itu ada ketika suara itu menyentuh gendang telinganya. Dan saat ini, setelah 3 tahun berlalu tanpa suara itu lagi, Tani kembali mendengarnya secara langsung. Mematung Tania membawa pikirannya kembali ke tujuan tahun yang lalu, saat Tani berusaha mencuri-curi mendengar suara pria ini dari kejauhan.


"Aaaaa..pengen ngacak-ngacak. Kangeeeen" Tak berubah, Ari selalu ramah, akrab. Seperti dulu. Tania menatap nanar lirih, tarikan nafasnya terhenti, bibir mungilnya mengatup menahan linangan air dati matanya. Perlahan Tania mencoba tersenyum
"Kamu kenapa nangis? Kamu gak boleh nangis. Tania ku gak boleh nangis, Tania harus selalu ceria."
"Tania ku?" Tania berteriak protes dalam hati. "Bukan bodoh!!!" Merasa akan menjadi sia-sia Tania memutuskan berlari menjauh. Sebelum semua menjadi terlanjur, seangkan keadaan sudah tidak memungkinkan mereka kembali bersama.

Monday, March 21, 2011

Waktu Pagi

Good Morniiiiiiiiiing...
Pagi ini cuaca tak begitu cerah, awan hitam mengelayut bagai monyet kecil di langit. Semakin membuat malas langkah menuju terminal Damri Bogor untuk bisa duduk manis di kantor manajemen Garuda Indonesia , masih sebagai mahasiswi PKL, jadilah memohon pertolongan teman untuk diantarkan dengan sepeda motor. Dan tepat pukul 08.00 pagi tiba juga di kantor ini. Sudah sepi di pintu utama karena memang sudah jam kerja, tapi cuek saja. Tidak ada yang dikejar untuk diselesaikan juga.

Tidak lama, dosen dari institusi datang untuk melakukan supervisi. Aku, teman PKL, pembimbing lapang dan dosen duduk sambil ngobrol-ngobrol seputar PKL. Pembimbing lapang dan dosen ku yang satu universitas dan hanya berbeda satu tingkat juga sibuk membicarakan para almunus almamater mereka. Cukup seru didengar. Dan akhirnya...terungkap juga mengenai judul laporan akhirku yang masih abu-abu, tidak begitu jelas. So sad for me. Masih di berikan pilihan lain, tapi aku bersikeras untuk judul yang satu ini. Desa binaa di Sambas desa Sumber Harapan Dusun Semberang. Memaksimalkan industri kecil dari masyarakat pedesaan. Sounds great yeah... Masih banyak yang belum ku kuasai mengenai program ini dan dusun ini, jadi perlu dan sangat perlu bagi ku untuk menuju Sambas. Dan ternyata tidak jadi berangkat maret ini, kemungkinan april, tidak tau di awal, pertengahn atau akhir dan jadilah PKL ini diperpanjang. Ah, tidak apalah, aslakan bisa ke Sambas, dekat perbatasan Malaysia-Indonesia, sekalian jalan-jalan. Tapi ini artinya, gagal lagi rencana pulang kampung yang awalnya dijadwalkan berangkat tanggl 17 April. Mungkin saja mundur atau gagal karena jadwal ke Sambas masih belum bisa dipastikan. Belum lagi laporan akhir yang belum jelas pembahasannya.

Dan, pagi ini sesuatu telah terjadi dalam hidupku. Memang kecil, tapi sesuatu ini berpengaruh untuk masa depan. Hasil diskusi dan cerita yang bisa menolongku untuk memperlancar pembuatan laporan, seminar dan sidang nanti. Semoga. Semoga sesuatu yang baik juga terjadi dalam hidup kalian hari ini.....

Hati Wanita

Sebuah pajanan kata-kata yang menjelma menjadi paragraf berbait yang terinspirasi dari suatu kisah....
menyeruak aku ke dalam ramai itu
mencari aroma lama dan suara khas
melecutkan waktu yang singkat
mencari wajahmu untuk mengobati nanah rindu ini

meski sadar semua nun jauh di sana
karena telah tertutup merdu itu
meski tau kau bukan disini
karena jauh sudah perbedaan kita

dan semua hanya menjadi buku fiksi
demikian cinta menghardik pemuja yang tak berkekuatan
dan semua mengabdi pada angan
demikian cinta menghukum pesakitan yang melarikan waktu

aku bukan lagi mentari pagimu dan kau bukan lagi bulan malamku
abu-abu sudah
lembaran tulisan ku tak berguna untukmu
dibuka dan ditutup dengan senyum, yang sama menyakitkannya

tak ada bayangna ini benar terjadi meski ikhlas itu sudah kita genggam
meski sama-sama tak sadar dalam langkah
meski patah-patah mencoba kuat
meski subuh dan siang itu masih ku genggam, erat, tak ingin lepas.

tapi tertatih kembali aku...saat semua ini nyata adanya.
dan rahasia ini bagai dalamnya samudra....

Monday, March 14, 2011

Kebebasan dan Privasi

Tadi malam aku berbincang singkat lewat telphone dengan teman SMA. Percakapan yang cukup gila karena menembus batas waktu. Setiap aku dia menceritakan apa yang sedang dia alami dan dia rencanakan, aku selalu menyambutnya dengan apa yang aku pikirkan, dan tentu saja itu belum terjadi. Pembicaraan itu seolah-olah membuat suatu peristiwa benar-benar terjadi. Hahahahahahaha. Cukup untuk menambah senyum hari kemarin.

Salah satu kalimat penting yang dia ucapkan malam tadi adalah "ada kawan aku yang bilang Lan, 'ada dua hal yang gak bisa di beli, kebebasan dan privasi' ." Seketika aku menyetujuinya, Kebebasan itu meskipun kita rasakan tapi bisa saja tak sepenuhnya bisa kita miliki. Beberapa hal yang terkait dengan hidup kita dapat seketika merenggut kebebasan itu. Dan privasi...yah, semua orang membutuhkannya. Ada kalanya kita gak bisa berbagi dengan orang lain karena itu sangat amat rahasia untuk diri kita. 

Tapi....kadang kala kita menggadaikan kedua hal yang paling penting dalam hidup itu hanya demi cinta. Bodohkan? Entahlah, tergantung akibat yang ditimbulkan dari kedua hal tersebut, mungkin. Kadang kita berpikir jika sudah resmi menjalin hubungan, pacaran atau menikah. Handphone, laptop, password jejaring sosial dan email atau bahkan diary sudah bukan lagi hal yang bersifat pribadi. Untuk alasan "aku untuk kamu, kamu untuk aku" hal-hal penting itu dengan mudahnya dibagi pada pasangan. Pada awalnya menyenangkan, bisa melihat aktivitasnya, membaca e-mail-e-mail dari teman-temannya, atau bahkan membaca apa yang di tulis tentang hari ini pada diarynya. Tanpa disadari, privasi itu telah digadaikan, hilang. Masih kah nyaman? Bagi sang pencinta yang terlalu, saya pikir hal tersebut masih sangat menyenangkan. Tapi bagi saya, tentu saja tidak.

Kemudian kebebasan. Sekarang saya sering menertawakan sikap saya sendiri yang sempat menurut saja saat sang pacara saya (dulu) meminta saya untuk tidak pergi ke sini, ke situ (saat SMA). What a studpi tings haaaa?? Tolol bukan? Menuruti permintaannya begitu saja. Lalu apa untungnya buat saya? Jelas saja itu mengurangi kesempatan saya untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin berguna buat saya kalau saya pergi. Ah, terlalu ribet untuk mengulang-ulang hal tersebut. Masa lalu. Berbicara saat ini, saya sudah tidak mau lagi melakukan hal-hal bodoh itu, tidak penting seperti itu. Buat apa? Menyenangkan pacar? Saya rasa bisa dengan cara lain. Bahkan menurut saya, jika dalam sebuah hubungan pun kita masih memerlukan kebebasan dan privasi. Kekasih kita bisa memiliki hati dari fisik kita seutuhnya. Tapi tentu tidak hidup kita.

Kepercayaan, komitmen, komunikasi, rasa cinta dan saling memiliki. Ke empat hal ini lebih penting dari pada menggadaikan kebebasan dan privasi. Mengecek e-mail pasangan, aktivitas jejaraing sosial, memutus hubungannya dengan orang lain, bukan kah suatu bentuk ketidak percayaan? Padahal pada awalnya sudah berkomitmen untuk bersama, tentu juga membutuhkan kepercayaan dong...

Dibuat dengan penuh rasa syukur atas semua pengertian dan penerimaan.

Terima kasih untuk inspirasi dan penerimaan. :)

Tuesday, March 8, 2011

Maafin aku nenek

Biasanya setiap pagi aku menuju kantor menumpang motor teman ku yang juga bertujuan sama. Tapi kali ini dia sedang survei untuk program desa binaan tempat aku PKL. Sayangnya temanku menitipkan motor tanpa STNK, jadilah motor itu tidak bisa keluar wilayah kantor selama STNK tidak ada. Awalnya aku berniat naik ojeg menuju kantor, tapi sulit sekali membedakan yang mana ojeg yang mana pengendara motor pribadi. Sambil mencari sarapan aku terus berjalan di trotoar ditemani polusi kenaraan bermotor. Semua pada ngebut seakan dikejar monster dari belakang. Nasi uduk di warung tempat biasa aku beli habis, dana ku terus berjalan mencari tempat sarapan lain.
Di tengah perjalanan aku menemui seorang nenek di bagian tengah jalan yang dibagi dua oleh trotoar. Neneh itu seperti ingin menyebrang, bolak bali menghadap kiri dan kanan. Aku berhenti tepat di depan nenek tua itu di halangi berbagai macam kendaraaan bermotor. Aku berusaha mau menyebrang, awlau sebenarnya aku tidak bisa menyebrang dengan benar. Selama ini aku selalu dibantu untuk menyebrang. Lama aku menunggu kendaraan yang lewat namun tidak ada habisnya. Mungkin memang benar-benar ada monster di belakang. Nenek tua terus menatap ke arah ku, aku tersenyum namun wajah nenek itu tetap megkerut, seperti memikirkan sesuatu. Namun karena sangat sulit untuk menyebrang, aku memutuskan terus berjalan menigggalkan nenek yang terus menatap ke arah ku. Argh. Aku khawatir nanti bukannya memabntu aku malah mencelakai nenek itu. sampai seakrang membedakan kiri dan kanan saja aku sulit, apa lagi menyebrang jalanan ramai begitu. Meski tidak ada hubungan kduanya.
Dan sekarang aku di kantor, mengetik tulisan ini dengan rasa bersalah. Maaf nenek.

Friday, March 4, 2011

Ekspresi

"Gue pengen deh motret semu ekspresi orang. Gimana yah?"tanya temen ku di suatu sore.
"Ya bisalah, lo beli aja kamera paling canggih yang bisa ngezoom jauh. Kalo lo mau motret langsung bisa-bisa di ajak ribut lu, belum tentu ada yang seneng di poter. Apa lagi kalo lagi sebel, bisa-bisa lu jadi sasaran. Hahahahha" jawab ku asal. Dan temen ku hanya ikut tertawa. 

Aku pun sebenarnya mengingnkan hal yang sama. Memotret ekspresi itu dan menjadikannya tulisan. Pasti hasilnya lebih dalam karena dilengkapo dengan ekspresinya.

Ada beberapa ekspresi yang masih ku ingat hingga sekarang. 
Malam itu aku menumpang Kereta Rangkaian Listri kelas Ekonomi jurusan Jakarta Kota Bogor. Aku menuju Bogor. Aku berdiri di dalam kereta yang penuh sesak. Mata ku sesekali memutar melihat keadaan yang sumpek, panas dan menyebalkan. Mataku menangkap satu pemandangan yang buat ku sangat berharga saat kerena sudah mulai sepi penumpang yang turun dibeberapa stasiun yang dilewati. 
Pedagang tahu itu menurunkan harganya demi menghabiskan dagangannya. Seorang Bapak menghabiskan tahu itu dengan uang dua ribu rupiah. Aku melihat kantong plastik kecil hitam itu penuh. Bapak itu mengikatnya, menggenggamnya, dan menatapnya. Tatapan sedih. Aku terus menatap Bapak itu. Dia menunduk, dalam dan semakin dalam. Aku penasaran apa yang sedang dia pikirkan hingga menampakan wajah begitu sedih. Apakah hari ini tidak bisa pulang membawa uang yang banyak? Apakah tiitpan keluarganya tidak terpenuhi? Atau apa? Atau tadi dilukai hatinya? Ahhh....karena berhenti. Bapak itu turun. Sedangkan aku masih harus menempuh perjalanan, belum sampai di stasiun Bogor. Ekspresi itu masih tersimpan di hatiku hingga sekarang. Apa lagi mata sedih Bapak itu saat melihat bungkusan tahu itu.

Dan hari ini, ada seorang Bapak datang ke ruangan tempat ku  PKL (Praktik Kerja Lapang), wajahnya terlihat sangat lelah. Masih dengan wajah lelah, Bapak itu menyerahkan beberapa berkas ke salah satu staff di ruangan ini. Ekpresi lelah yang memiliki beban. Aku menatap Bapak itu sampai dia berlalu keluar ruangan. "Sedih kenapa Pak?" aku ingin seklai bertanya. "Apakah orang disini menyusahkan Bapak?". Ahh, ekspresi sedih, lelah, sakit karena beban hidup memang memilukan. Aku sering terbawa dalam kesedihan itu kala melihatnya di wajah seseorang.

Semoga ekspresi gembira dan seseorang yang lain dapat mencerahkan hati seseorang yang sedang bersedih. Itulah sebabanya senyum itu ibadah, karena dapat menyenangkan hati orang lain. Jadi...tersenyumlah, untuk dirimu dan untuk yang sedang sedih saat ini.

Wednesday, March 2, 2011

Langit Cengkareng dan Udara Paginya

Setiap bangun pagi dan aku menyempatkan diri keluar rumah kostan, tercium bau tidak sedap dan tidak segar. BErbeda dengan rumah kostan ku di Bogor, terlebih di rumah di Jambi, segar dan memang benar terasa oksigen segar dari tumbuhan. Masuk ke celah-celah tubuh, berubah menjadi ion-ion positif dan menjelma menjadi semangat untuk hari itu. Menyenangkan. Saat masuk ke dalam rumah, aku melihat nenek sedang menonton televisi siaran ceramah agama, dan sedang ada yang memasak di dapur, "Marsiah". Enatah memasak air, memanaskan lauk semalam atau masak nasi goreng yang rasanya pasti kurang enak. Hahahahaha. Tapi nasi itu tetap sering ku bawa ke sekolah dulu sebagai bekal. Sudah diajarkan oleh orangtuaku dari kecil, bahwa kami tidak boleh cerewe soal makanan. Sudah bisa makan yang bergizi dan mempunyai pilihan saja sudah syukur. Kami sering diceritakan kehidupan orang-orang yang kurang beruntung agar kami lebih bersyukur dengan kehidupan kamu. What a parents!!! I love them more n more. 

Kalau di rumah kost Bogor aku menghirup udara segar dari jendela kamar yang cukup besar. Udara malam berganti udara segar subuh. Setelah merasa kantong paru-paru terisi udara baru. Aku bersiap kuliah, kalau msuk siang aku memilih menonton, ada banyak siaran tv yang bermanfaat kalau pagi. Kalau bosan, aku menjahili anka kost yang akan berangkat kuliah dan kalau malamnya aku tidur larut, aku akan menarik selimut. Tidur lagi. Padahal sudah jelas tidak baik. Tapi mau bagaimana lagi. Mata mengantuk, badan terasa lemas. 

Ternyata dibelahan dunia lain, disisi kehidupan lain, yang bahkan aku alami sekarang, tidak ada yang bisa menikmati apa yang aku nikmati setiap pagi. Aku sedikit bingung membawa arah tulisan ini. Tentang bersyukurkah atau dari sisi lingkungannya kan? Tapi aku akan tetap menulis mengikuti keinginan arah otak membawa kata perkata ini.

Hanya tentang udara yang kita hirup saja setiap hari ada banyak hal yang bisa disyukuri. Nikmat Allohmana lagi yang tidak kau syukuri? Semua yang diberikan adalah kebaikan. Udara yang sering diremehkan, karena ada setiap hari, disediakan Alloh secara cuma-cuma menjadi sesuatu yang cukup mahal untuk mendapat kemurniannya, seperti yang Alloh berika dulu, sebelum gedung raksasa memperkosa langit, sebelum hitamnya asap dari pabrik pengeruk alam bertaburan. Memerlukan perjalanan yang cukup jauh menuju pedesaan atau daerah dataran tinggi untuk menikmati kesegaran udara.

Cengkareng adalah kawasan Bandara. Entah berapa tinggi tingkat polusi di langitnya. Hilir  mudik pesawat setiap hari melewatinya, tiap menit, tiap jam. Seram. Aku berangkat untuk Praktik Kerja Lapang pukul 07.30, sudah harus menggunakan masker atau penutup hidung lainnya demi menghindari polusi yang bertebaran dengan leluasa. Kendaraan berebut merenggut aspal kosong. Semua brebut, menuju tujuan untuk kehidupan. Uang.

Ini semua sudah terjadi begitu saja. Tak perlu dipertanyakan. Tapi inilah yang terjadi. Sisi kehidupan memang berbeda.