Thursday, June 7, 2012

Cerita telinga

Telinga ini kadang bertanya dan bercerita.
Bisa aku mendengar suaramu? Bukan suara mereka yang menggema dalam pikiranmu kemudian menemui ku yang bosan dengan suara-suara itu. Kata-kata mu tak mampu redakan bosan ku. Bisakah ku dengar suaramu?

Bisakah ku dengar suaramu yang datang dari hatimu?Tak perlu kau sembunyikan luka mu lewat tawa palsumu. Aku tau kau merintih. Bisa kah ku dengar suara seseorang meredakan tangismu?Aku muak mendengar mu tergugu sendiri, hingga kau terlelap tidur. Aku lelah mendengar ini. Bisakah ku dengar suara orang lain meredakan mu?

Bisakah aku berhenti mendengar suara helaan panjang dari hatimu? Merasakan lirikan matamu menyapun bagian bawah pandanganmu, memejam sebentar lalu merasa seakan mendapat tenaga. Padahal masih bisa ku rasakan yang kau simpan. Bisakah aku berhenti mendengar itu?

Bisakah aku berhenti mendengar mu menghembuskan nafas panjang untuk mencegah buncahan air matamu, kala kau merasa belum saat berhenti tapi lingkunganmu sudah memberhentikan itu, dan kau tak mampu berbuat apa-apa. Bisakah aku mendengar itu beriring dengan kebahagiaanmu?

Dan semua kesakitan yang ku dengar itu, selalu kau obati dari suara ketikanmu. Karena saat itu aku merasakan kau benar-benar tersenyum.

Sembunyi

"Kalau sudah salah jangan berlagak benar dengan mencari-cari pembenaran. Mau di asingkan dunia kau ha?" Ko Ang menyulut batang rokoknya yang lusuh. Murahan.
"Aku tidak mencari pembenaran. Aku hanya tidak merasa salah dengan ini semua" Selly menjawab serius sambil terus membersihkan sepatu hak tingginya.
"Tetap saja pemikiran mu itu tidak dapat di terima." Ko Ang menikmati roko murahannya.
"Oleh mereka?Kenapa juga harus di terima. Aku ini hidup bukan untuk mereka" Selly berdiri tepat di depan Ko Ang, telah selesai membersihkan sepatunya.
"Tapi kau akan di asingkan Selly. Tak ada satu pun aturan di Negri ini yang bisa menerimamu" Ko Ang berhenti mengisap rokok murahannya, mejawab sambil meredakan kekagetannya oleh Selly yang berdiri tiba-tiba di depannya dengan wajah merah padam.
"Aku tidak membuthkan penerimaan mereka. Memangnya mereka sudah berbuat apa untuk aku ha!" Selly berteriak dari kamar mungilnya sambil sibuk menyiapkan diri.
Ko Ang hening.
"Koko bisa meninggalkan aku kalau sudah tidak tahan lagi dengan pengasingan mereka. Aku akan tetap menjalani hidup ku ini." Selly berdiri lagi di depan Ko Ang, dengan gaun ungu tanpa lengan, hanya menutupi sebagian paha dengan wangi parfum menyengat dan sepatu hitam serta polesan make up yang menor.
Ko Ang kembali terkejut "Koko di sini hanya untuk menemani mu, itu lah tugas Koko, jadi meskipun berat menerima pengasingan mereka. Ko Ang akan tetap denganmu. Karena ini tugas Ko Ang. Kalau kamu merasa tugasmu adalah mencintainya meski dengan semua perbedaaan dan keterasingan ini, ya sudah jalani saja. Ko Ang masih menjadi tugas Ko Ang. Baru berhenti kalau sudah mati nanti."
Selly menunduk menyembunyikan air matanya. "Sudah ribuan kali Ko Ang mengatakan ini."
"Ya karena ini tugas Ko Ang"
Ko Ang yang sudah menua tak pernah berhenti mengingatkan Selly akan ini. Dengan gaya yang sama. Dengan nada yang sama, tak pernah berubah. Selly pun masih menjawabnya, kadang dengan hanya menatap, kadang dengan nada biasa kadang marah, seperti malam ini. Selly tau, Ko Ang sangat menyayanginya. Sejak kecil tak pernah Ko Ang membiarkan Selly terluka. Baginya, hidup Selly dewasa adalah kebahagiaan, tidak menderita seperti ini. Selly tau ini yang membuat Ko Ang tak pernah memikirkan hidupnya, hanya tentang Selly. Karena sampai sekarang, Selly masih menderita, menurut Ko Ang. 
"Dan ini pun tugas Selly Ko" air mata itu masih hangat.
Selly menjalani kehidupannya dalam kepalsuan, bertindak sebagai seorang pencinta suci, dalam perbedaan yang paling mendasar, menulikan kuping, membutakan mata, mematikan hati, hanya untuk melindungi Koko terkasihnya. Jejak-jejak masa lalu Ko Ang telah menjerumuskannya dalam sebuah piutang yang tak akan mampu Ko Ang bayar dengan apapun yang dia miliki. Ini semua berawal dari ketidak tahuan Ko Ang dalam memulai bisnis. Hingga akhirnya sebuah penipuan yang hanya bisa di telannya. Selly lebih dulu mengetahuinya dan berusaha mati-matian untuk menutupinya agar Ko Ang tidak tahu. Seoalah bisnis itu masih berjalan. Bayaranya adalah dirinya.

Kehidupan ini kita jalani dengan tugas masing-masing. Semoga dapat terlesaikan sampai berhenti bernafas nanti. Dan terkadang ada hal yang tak perlu kita sampaikan, biarkan dia tersembunyi hingga mati.


K.I.T.A

Aku menangkap lelah mu dengan tinggi sensitifitas yang ku miliki. Sialnya sebagian hati ku ingin menangkan. Padahal jelas aku pun lelah dengan keengganan mu menaikan kadan sensitif mu. Kau pun masih mau membebani dirimu untuk sedikit berubah. Kita masih sama dengan rasa ini dalam kekurangan masing masing, dalam keluh kesah atas mu dan aku. Kita masih utuh saat bersama.

Aku tau logika tak bisa menerima ini. Para netral yang mendengar cerita ini mengusungkan untuk sebuah perpisahan. Adakah mereka tau suara hati kita menjerit? Meski aku dan kamu pernah mengucapkannya dan nyata tak mampu meyakinkan diri bahwa itu bukan keputusan yang hanya di peluk emosi.

Kita mampu mengerti tidak dalam kepalsuan. Mampu memahami lelah meski dengan marah. Mampu menahan sesak yang di perdengarkan tawa kita masing-masing. Aku telah menjadi aku , kamu pun begitu dan kita masih merasa utuh menjadi aku dan kamu.

Kadang ingin ku pertanyakan pada dunia. Memekikan peristiwa ini. Tapi undur, ku sadar kisah ini hanya menumpang pada bumi. Tak perlu berlagak dewa, berlagak paling benar, cukup di biarkan saja. Dan aku pun tau kau begitu. Menerima. 

Kamu yang mampu menerima ini begitu saja, dan aku yang tak lagi pernah mempertanyakan, menciptakan sedih dalam diam yang semakin memilukan. Pengertian kita melebihi pengertian untuk menerim kekurangan. Kita saling mendengar dalam diam, kau mampu mendengar hati ku, mampu mengerti pikiran ku dan ini bukan bagian bait puisi, ini yang terjadi pada kita. Aku pun mampu membatasi setiap gembira dan amarah. Kita bekerja sama dengan baik.

Mungkin kah ini ada batas waktunya?Selayaknya proyek? Entahlah...saat ini aku dan kamu masih menjadi KITA

Asing

Rapi aku susun cerita kita yang penuh perbedaan. Seketika teringat seketika air mata ini ingin jatuh, nafas menjadi semakin dalam, menenangkan diri sendiri. Entahlah apa yang kau pikirkan tentang ini, terkadang aku ingin sekali tau. Tapi tak ingin membebanimu juga hatiku.

Aku telah berhenti mencari pembenaran, aku telah berhenti mencari cari ujungnya, tetap tak bertemu. Samudranya adalah matamu, adalah dirimu, yang berada di dekatku, yang bernafas menghembus pelan pipiku, dan membiarkan waktu berjalan begitu saja. Tak tersesali.

Meski rapi ku susun cerita ini, tetap acak jalan kita. Pertemuan, kebersamaan, pertengkaran, perbincangan, semua tanpa rencana. Nafas-nafas malam menemani, tetes-tetes pagi menandakan hari dimulai menyimpan senyum kita. Adakah dunia tau?

Tak ada yang kita tepiskan, tak ada yang kita paksa menjadi benar. Tak ada yang kita persalahkan, perkataan apapun kita terima. Tanpa keluh, kita biarkan semua. Gusar, gemuruh dan kekhawatiran pun kebas. Setiap pertemuan dan jarak menjadi arti dan tak membebani.

Kita masih di sini, masih dalam cerita ini. Akan dunia mengasingkan cerita ini?Akan kah ini patah dan musnah dengan sendirinya oleh keegoisan kita yang nyatanya selalu mampu kita redam? Entahla. Kita masih sama-sama tertidur lelap. Perkaran nanti, aku dan kamu telah menyerahkan seutuhnya.


Ku Biarkan

Masih mengalun bait kesakitan itu, menancap setiap gerak gerik hari. Panas terasa menenggelamkan rindu dan cinta yang membaur dengan nafsu dan benci, semua telah menyatu. Teringat saat kita telanjang bersama, aku mengingat dan menerima mu dengan semua cela yang kau miliki. Kita menyatu bersama cinta dan nafsu, di balut keringat. Dan kini aku berkeringat marah saat mengingatmu.

Dunia telah menarikmu, menghancurkan janjimu, meremukan aku. Di sudut kamar busuk yang panas tergugu aku menangis di tinggalmu yang membenarkan keputusanmu begitu saja, seakan demikian lah cinta yang bisa datang dan pergi begitu saja. Kau jejali aku paham itu, masih logika tak terima itu. Entah sampai kapan.

Ikhlas, terima, entah kalimat kalimat manis macam apa lagi yang sudah mereka jejali dalam tubuhku. Muntah aku dalam tubuh ku menelan itu semua. Tetap tak berguna, perih ini senilai dengan tingginya cinta ku. Membuat tawa sering kali datang bersama air mata. Banyak kalimat baik ku telan untuk obati gemuruh ini, tetap saja datangnya pagi ku sesali.

Kau, yang dapat membuat ku tersenyum walau hanya dengan mengingatmu. Kini menjadi pembunuh , membuat ku terasing dalam keramaian. Meski ku tau, perempaun seperti ku tak sendiri, namun perih tetap tak berkurang. Meski ku yakin aku dapat berdiri sendiri. Kau tetap hadir sebagai pembawa perih.

Ku biarkan semua. Ku biarkan pagi ku sesak, ku biarkan mimpi ku gelap hanya berbayang, ku biarkan mulut ini mengatakan aku selalu baik-baik saja, ku biarkan mata ini tak mampu lagi menangis. Ku biarkan. Tanpa ucapan selamat tinggal aku terus berjalan ke depan.

Bagian menyakitkan ini, yang sayangnya di berikan oleh kau yang ku cintai, telah jadi lirik-lirik hidupku. Telah ku dengarkan, ku lafalkan dan ku hafalkan dan ku biarkan. Hatiku? Tak perlu ada yang tahu sekalipun aku. Biarkan Tuhan yang menyusunnya.

Mengalir begitu saja saat mengingat cerita seorang sahabat.

Thursday, May 31, 2012

sudut

Silih berganti aku mendengar cerita-cerita cinta, bahkan sebelum aku benar-benar mengenalnya. Silih berganti ku baca cerita-cerita cinta, menyentuh, membawa senyum dan inspirasi. Silih berganti juga, cerita cinta itu aku rasakan. Dikhianati mengkhianati. Meninggalkan ditinggalkan. Dilupakan dan berusaha melupakan. Cerita itu masih bergulir hingga sekarang.

Cerita dua orang yang bersahabat begitu dekat, lalu menjadi renggang hanya karena satu orang yang dicintai secara bersamaan dan aku ada dalam salah satu tokoh di dalamnya. Cerita tentang dua orang yang harus terpisah hanya karena sampah-sampah masa lalu, aku menjadi tokoh utamanya. Sebagai hakim ku putusakan untuk membuang rasa yang ku simpan manahun. Kalau tentang meninggalkan dan mengkhianati pun aku pernah ada di dalamnya.

Bukan bermaksud memberikan peringkat, mana yang lebih menyakitkan. Mana yang bisa di lupakan begitu saja. Namun untuk kali ini, aku bahkan tidak tau harus berjalan ke arah mana. Kiri terasa begitu egois, kanan merasa seakan aku yang paling benar, maju seakan menodai apa yang yang sudah ku jaga selama ini, ke belakang seakan tak menghargai apa yang sudah ku perjuangkan bersamanya.

Melingkar pun, aku coba semua sudut sekali pun, melipir, tetap saja ada kata "tapi" yang menggantung. Ketidak pedulian yang menggelantung. Kadang mengusik namun kadang diam pada tempatnya. Pertanyaan-pertanyaan yang setiap hari harus ku tepis dengan banyak aktivitas "apakah yang dia rasakan terhadap ku?" "apakah yang dia rencanakan untuk ku" "adakah namaku untuk rencana masa depannya?". Sementara jalan kami semakin tak sama, tujuan kami semakin berbeda.

Bagaimana bisa terus bersama jika salah satu memilih tetap dan yang satu memilih maju. Bisakah itu masih tetap di katakan bersama. Telinga awam akan mudah mengatakan "lepaskan saja". Sementara aku, tokoh yang berperasaan, bukan hanya penghapal script, tidak bisa begitu saja melupakan. Menanggalkan semua harapan. Melupakan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Insting ini masih menuntun untuk tetap mencari. Aku hanya ingin menemukannya.

Namun keterbatasan ini, menemuiku pada berbagai keluahan atas rasa sakit akibat kebertahanan ini. Ini kah tanda aku manusia, ini kah tanpa kehidupan ku masih terus berjalan?Mencari namun jalan pencarian itu tak ada sudutnya, 360 derajat bukan petunjuknya, arah mata angin pun bukan. Atau memang ini belum selesai. Penonton masih harus bersabar. Dan tokoh yang berperasaan ini harus mengisi kekuatan ekstra.

Teka teki ini bergulir seiring waktu. Bersama waktu juga belitannya merenggang. Kepada waktu ku letakan segala target, ku titipkan pertanyaan-pertanyaan ini. Kepada waktu aku menuliskan sisi-sisi kehidupan, yang masih dalam lingkaran. Jika pun tak berujung, ini lah jawaban itu semua. Tak perlu ada kata "selesai" untuk menamatkan sebuah cerita. Kalau dia memang harus berakhir ya berakhir lah.

Yihaaaaaa !!!!

Saat ini seperti menapaki jalan sendiri sambil menyeret seseorang. Entah itu paksaan atau keharusan, dia tetap terseret begitu saja. Semakin hari semakin berat, bawaannya semakin banyak, dan keterpaksaan itu semakin terlihat. Membebani pandanganku yang kabur oleh air mata sendiri.

Kepedihan itu satu nama, tapi berbeda beda cerita. Ini termasuk ke dalam golongan pedih. Sampai detik tadi, aku masih mengira, bahwa menganggap pedih ini selintas lalu, melupakannya dan fokus pada hal lain, akan menjadikan ini semakin baik. Ternyata malah menghempaskan perjalanan ini. Karena awalnya aku kira aku telah terbang bersamanya.

Ada banyak pilihan untuk terus berjalan menyeret beban, sebagai kebiasaan dan menghindari perubahan atau membebaskan diri, lepas. Tidak akan pernah tau mana yang terbaik kalau semua tak di coba. Kalau pun yang kemarin tak dapat kembali lagi, tentu ada penawaran lain. "Beban" lain yang mau bekerja sama.

Tanpa menghapus apa yang sudah lama di rasakan dan tak berubah. Aku harus menjaga "punggung" ku dari beban yang menyiksa ini. Untuk merasakan kebebasan. Dan merayakannya dengan kembali berjalan. Ke DEPAN!!!!

Tuesday, May 22, 2012

Jenuh

Tersentak, seketika tersadar, bahwa hanya baumu yang memenuhi ruang rindu. Meski kita sedang bersama. Pandangan kita tak lagi saling susuri cinta. Sentuhan pun hanya pada udara. Sudahkah saat ini sampai pada titik terendah?

Tubuh yang sedang bersama, di buru nafas yang membawa hati dan pikiran semakin jauh. Terasa begitu lelah karena keterpaksaan. Pemberontakan mengejang di dalam, menyelimuti lelah fisik yang menjadi alasan untuk semakin menjauh.

Selalu memilih jalan yang berjauhan, memisahakan diri diantara keramaian, kemudian hilang. Hadirpun dalam bisu, tuli dan buta hingga cerita ini diserap dinding dan melebur bersama udara, tatapan ini hanya menghantam kekosongan.

Hilang sudah sesuatu bernama "saling", tiada cerita, tawa, yang tersisa tetes air, desau angin pun sungkan mendekap. Terlalu beku dalam kesakitan yang dianggap tiada. Dia yang bernama pura-pura. Kepedulian pun mendekam angkuh.

Ini kah petunjuk untuk belok? Atau sekedar penghalang yang harus dihilangkan? 
Bisakah urusan rasa ini di campuri? Atau memang sebaiknya direlakan?
Walau pahit


Monday, May 21, 2012

Semoga aku tidak mengambil tempat orang lain

Tadi sore itu sangat menyebalkan. Aku sudah rapih, cantik dan siap untuk bertemu seseorang. Setelah jauh-jauh menyetir motor (sebenarnya cuma 3 menit si, ababil ya gue, ya udah si, anggap aja jauh). Sudah gue perisapin mau ngapain nanti di tempat itu. Tapi apa yang terjadi setelah gue di sana? Cengok dengan suksesnya, melihat dan mendenar orang-orang lagi nonton tv dan berkomentar ini itu. Sialnya lagi itu tentang berita yang sudah gue baca kemarin  dari internet. Di cuekin sama orang katro, lebih terhina lagi -_-. 

Kemudian, daripada menumpuk marah lebih banyak lagi, gue keluar, udara sore itu benar-benar terasa sejuk, dan cerah, berada di jalan lebih baik sepertinya. Tapi sial, asap kendaraan menyekap mulut dan hidung dengan tersiksa (sumbangan dari motor gue juga si). Lalu gue belok pulang langsung menuju lantai tiga tempat tinggal sementara gue ini. Ciaaaauuuut, matahari indah luar biasa, mau siap-siap tenggelam (tidak, tidak, bumi kita bagian Indonesia sedang mengitari matahari dan bersiap mengahdapi malam, berbagi terang bagia bagian lainnya), angin semilir begitu sejuk, benar-beanr sejuk dan suara burung di atas pohon (ntah lah namanya apa). Sukses sore itu indah sekali.

Kalau sedang marah, aku lebih memilih diam di kamar, ya syukur kalo kamarnya punya halaman yang bisa masukin udara segar, luas, dan ada makanannya sekalian. Kalau kamar kost ku sekarang, boro-boro deh, ada juga sesak kalo ngunci diri disini. Bukan main lagi panasnya Jogja semakin menambah penderitaan. Hasilnya, marah semakin panjang, sibuk mencari-cari pembenaran atas kemarahan, menumpuk kekecewaan. Eh tapi benar bukan, marah kan hasil dari keadaan yang tidak sesuai keinginan, kecewa lalu marah. Seperti aku sore tadi. Dan aku simpulkan keputusan ku untuk memilih keluar, mencari bagian lain, kesenangan lain itu lebih dari benar, menolong sekali.

Belum lagi saat malamnya, aku tetap beraktivitas tanpa membawa-bawa perasaan marah, seidh, kecewa. Seperti sedang memasaki ruang baru saja, dengan perasaan di kosongkan. Yeeeeee, sukses, sukses punya teman baru, sukses ketawa-tawa bersama, sukses menghapus atau mendebukan marah. Mematikannya malah.

Akhirnya si marah maker itu gue temui dengan perasaan biasa-biasa lagi, kepala dingin, hati damai, dan besok sepertinya akan gue sampaikan, bagian yang itu gue gak suka, jadi ada baiknya gue sama dia dapat saling menjaga perasaan. Manusia penuh kekurangan yang saling mengisi dan belajar mengerti dan memahami.

Untuk marah atau kecewa yang bersumber dari cerita yang lebih hebat lagi, mungkin tidak segampang ini. Contohnya, di putusin, proposal sripsi tidak juga di ACC, atau temapt penelitian belum juga ketemu, sahabat berkhianat, dan banyak lagi. Tapi bukankah namanya sama, marah dan kecewa.

Cheese Cake itu resepnya tak pernah berubah. Hanya kalau ada tambahan rasa blueberry, strawberry atau mungkin kiwi baru dalam pembuatannya ada bahan tambahan. Nah sama, kalau di rasa semakin besar, adakan perjalanan lebih jauh lagi di tambah obat bahagia paling ampuh (menolong, berbagi). Hasilnya Cheese Cake rasa lebi baru lagi. Marah hilang, pengalaman nambah, badan sehat, hati sehat, dan waktu perlahan mengantarkan pada kebaikan kedua sisi.

Selamat jalan-jalan bagi yang sedang Marah. Sssst, jangan berdiam di kamar. Oya, jalan-jalannya bisa juga lewat membaca, dan berjalan menemui Tuhan lewat doa dan membaca ayat-ayat suci-NYA. ^_*
aku samarkan atap-atap penyimpan kehidupan itu .

Friday, May 18, 2012

Katty dan Karin

Katty mematut dirinya di depan cermin setinggi 180 cm. Tubuhnya bahkan hanya satu perenam tinggi dari cermin itu. Ke kiri, ke kanan, berusaha berdiri menghadap ke belakang, memainkan ekor. "Sudah aku bilang, aku yang tercantik di sini", gumamnya sambil tersenyum angkuh. Katty masih ceria dan begitu percaya diri 3 tahun yang lalu.

Putih bersih, tebal, bersih, hidung pesek dan mata bulatnya yang biru di sertai bulu mata nan indah, Katty menjadi kucing favorit di sebuah komplek perumahan ternama. Di huni oleh kaum hedon, yang tak mempunyai kesulitas sedikitpun dalam keuangan, bahkan bisa di jamin tujuh turunan tak akan habis.

Hidup Katty bak seorang putri, mempunyai ruangan khusus, perawat khusus, semua serba khusus. Bahkan perawat Katty mempunyai bagiannya masing-masing. Nyonya Sury sangat membanggakan Katty. Setiap sore, saat mereka berjalan sekedar mengelilingi taman komplek nan megah, semua mata yang ada di sana, bahkan sulit membagi mana yang harus di lihat dengan seksama. Nyonya Sury, sebagai seorang istri dari Tuan Sury yang memiliki 45 cabang perusahaan baik di Indonesia maupun di Luar Negri, hasil dari perawatan dan perkawinan kedua orang tuanya, menghasilkan wajah, tubuh serta keseluruhan fisiknya cantik luar biasa. Kulit kuning langsat bersih, bertubuh tinggi langisng, berkaki jenjang, sangat Indonesia namun tentu saja cantik dan menarik. Kalau Katty? Jangan lagi di tanya, sudah 3 tahun ini Katty menjadi kucing tercantik di Komplek ini, atau mungkin dunia.

Hari itu, rumah yang tepat berada di depan kediaman Nyonya Sury di isi oleh tetangga baru. Tuan Magic dan Nyonya Agis. Pasangan suami istri itu berserta kedua anaknya adalah pencinta binatang. Ada lima jenis hewan peliharaan mereka yang turut serta menjadi penghuni baru. Ical si Anjing. Jewel si kucing berbulu pirang. Ibas si  Kura-Kura, Bagas si Marmut dan terakhir yang paling menyeramkan namun menjadi kesayangan Tuan Magic, Raka si Buaya. Ical dan Jewel menjadi hewan peliharaan Rika si sulung perempuan sementara Ibas menjadi peliharaan Diman si bungsu leaki-laki dan Nyonya Agis adalah sisanya. Mereka semua seperti sebuah keluarga yang ramai dan bahagia.

Halaman kediaman Nyonya Sury cukup unik. Pada kebiasaannya halaman sebuah rumah adalah taman dan air mancur. Namun kediaman Nyonya Sury sunguh unik, mereka semua memang selalu menajdi pusat perhatian semenjak menjadi penghuni komplek itu 3 tahun yang lalu. Halam di bentuk seperti pantai lengkap dengan ombak buatan. Biasanya pemandangan seperti ini lebih cocok di halaman belakang, namun keluarga ini ingin menghadirkan kedamaian bagi siapa saja yang menginjak kediaman rumah ini pertama kali. Sungguh unik. Namun sungguh terlihat cantik. Replika pantai itu sungu mirip seperti film-film Hollywood, ada rumah di tepi pantai. Namun kali ini rumahnya lebih besar dari pantainya.

Pagi itu Katty sedang asik berjemur, di temani dengan pengawalnya yang saat itu sibuk mempercantik kukunya setelah memijat Katty. Ical pun saat itu sedang asik bermain basket bersama Tuan Magic. Katty melepaskan kaca matanya, mengamati Ical dengan cermat. Lima belas menit Katty terus memandangi Ical. Lalu dia memutuskan untuk masuh ke rumah.

Dua tahun yang lalu. Ketika Katty belum mengenal Kara, Katty adalah kucing periang yang senang bercengkarama bersama kucing-kucing komplek lainnya. Suka berbaur, bercerita, bergosip atau melakukan perawatan bersama. Namun setelah hari itu, setelah Katty sadar akan perbedaan itu, setiap sore Katty hanya menghabiskan waktu dengan berjalan di samping Nyonya Sury. Kemudian mendengarkan cerita Nyonya Sury dan membalas cerita itu dengan tatapan. Namun Nyonya Sury tak pernah tau, luka yang di simpan Katty dua tahun ini.

Kara adalah hewan peliharaan yang bebas, meskipun begitu Kara selalu ingat pulang dan selalu ada jika pemiliknya membutuhkannya. Kara sering berjalan keliling komplek saat pagi dan sore. Sekedar Jogging atau mengiring bola basket kesayangannya. Saat itu Katty baru menjadi penghuni komplek, sementara Kara, yang mempunyai majikan seorang duta besar asala benua Eropa, telah empat tahun berada di sana.

Katty tak pernah tau apa itu perbedaan. Katty senang melihat Kara dan murung jika sehari saja tak bertemu Kara. Setiap hari Katty selalu mencari tempat untuk sekedar melihat Kara. Entah itu saat sedang berjemur, bergosip, semua hal itu adalah hal penting nomor dua, yang pertama adalah melihat Kara.

"Kita hanya boleh jatuh cinta dengan sesama kucing Katt" komentar Ika tiba-tiba, saat kedua sahabat itu sedang melakukan diam bersama. Katty benar-benar sedih saat itu, sehingga dia hanya butuh teman untuk diam bersama.
"Kalau memang begitu, kenapa aku punya perasaan ini?" Katty yang cantik berubah murung beberapa hari setelah menyadari perbedaannya dan Kara.
"Buat ngajarin kamu, kalau perbedaan itu ada, kalau ada perbedaan yang gak bisa kamu bantah, kalau ada perbedaan yang memang harus kamu terima, dan antara cinta dan rasa ingin memiliki itu beda."
"Harus ya pelajaran itu aku dapat dengan cara kayak gini?"
"Tuhan ngajarin kita banyak hal dengan cara yang beda-beda Katt."
"Hhhhhhhh" Katty menghela nafas dan menunduk. 
Malam itu Katty membasahi tempat tidurnya yang beralas sutra dengan air mata.

Katty teriangat pembicaraannya dengan Ika satu minggu yang lalu, yang mengambil sebagian semangat Katty untuk menjalani hidup.
"Kamu kenapa si, kok senyum-senyum terus? Lagi jatuh cinta yaaa?" cecar Ika sore itu saat mereka sedang manicure bersama
Katty hanya senyum.
"Cerita dong Katt, sama siapa? Gilang, Agung, Rio atau?"Ika menyebutkan nama-nama kucing jantan di komplek.
"Bukan kucing Ka...." Katty masih menjawab dengan wajah penuh senyum.
"Ha? Lalu?"
"Kaaa...raaa.." Katty menjawab terbata
"Katt kamu tau kalau Kara beda sama kita. Sekalipun Kara juga suka dengan kamu, gimana kalian bisa berkomunikasi. Kehidupan kalian jelas beda Katt."
Katty seakan tersadar, apa yang di rasakannya tiga bulan terakhir ini adalah hal yang salah.

Namun dua bulan masih bisa di atasi Katty dengan baik-baik saja, Kara masih tetap di perhatikannya dari jauh. Namun setelah Kara pindah bersama majikannya ke luar negri Katty perlahan menarik diri, lebih banyak menghabiskan waktu untuk sekedar berdiam di replika pantai, ruangan membacanya atau menulis sebanyak banyaknya puisi. Terkadang Ika datang menghampiri Katty, sekedar menghibur dengan melakukan kebiasaan mereka yang menyenangkan. Namun Ika sadar, kepergian Kara mengambil sebagian ceria Katty. Dan dia kehabisan cara untuk mengambalikan Katty yang dulu.

Ical dengan bola basketnya mengingatkan Katty akan Kara. Pagi menjelang siang itu Katty berhenti berjemur dan masuk menuju kamar Nyonya Sury. Katty mendapati Nyonya Sury sedang melamun. Wajah cantiknya tak hilang barang sedikitpun, cantik yang sedang berduka. Katty datang dan duduk di pangkuan Nyonya Sury. Katty tau Nyonya Sury begitu kesepian. Kesibukan suaminya dan ketiadaan buah cintanya bersama suami membuat Nyonya Sury sering kali bersedih.

Sekalipun sedang tidak sibuk Tuan Sury lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Dua orang yang tidak lagi menginginkan hal yang sama, di paksa bersama entah karena apa, hingga yang tinggal hanya luka dan sandiwara. Nyonya Sury sadar, Tuan Sury masih mempertahankan pernikahannya hanya karena kecantikannya yang luar biasa, yang dapat di b anggakan kemanapun Tuan Sury pergi untuk urusan bisnis dan Nyonya Sury bertahan dengan ketulusan cintanya.

"Kadang memang harus ada yang kita tinggalkan dalam hidup ini. Entah itu untuk sementara waktu atau selamanya, untuk memberikan pesan untuk yang menyianyiakan kita" Katty berkata lirih dalam hati lewat tatapan matanya saat Nyonya Sury menatapanya bersama aliran air mata.

Katty duduk di atas bukit. Matahari yang baru saja terbit sedang cantik-cantiknya tampil tepat di hadapannya. Katty memejamkan matanya. Semua kenangan itu terlintas seiring satu tarikan nafasnya. Katty membuka matanya. Karin, yang sekarang berstatus janda masih memejamkan mata di sampingnya. Katty beringsut ke pangkuan Karin.Keduanya meninggalkan kemewahan, kenyamanan bersedih dan memilih menjalani dan menikmati sisa hidup sebaik-baiknya, di sebuah kota kecil di Swiss. 

"Meninggalkan bukan berarti tak mencintai, menginginkan juga bukan berarti telah mencintai dengan baik."

Thursday, May 17, 2012

Insomnia

a.k.a Insomnia
Adalah saat dimana dapat menulis lebih banyak lagi. Atau berpikir kemudian berkesimpulan lebih baik lagi.

Pesanmu

Perpisahan


Baunya patah-patah menusuk hidung
Pelukannya samar mendekap penuh
Sentuhannya perlahan membelai kulit
Ciumannya tak sampai menyentuh diri


Nafasnya berat merasuki tubuh
Ingatannya berat memasuki pikiran
Matanya berat terpejam
Perasaannya luka menguasai hati


Akan kah putaran yang menykitkan ini terhenti di antara nafas terakhir dan pejaman mata selamanya?
Akan kah satu tarikan nafas ini bisa membawakan senyum untuku setelah meninggalkanmu selamanya?


Akan kah pelukanku mampu menghapus ingatanmu akan semua sakit yang tercatat dalam hidupmu, cerita kita?
Akan ciuman ini mampu menghangatkan dingin yang melukaimu?


Akan kah cinta yang kita dasari selama ini mampu memejamkanmu dengan senyuman?


Akan kah cinta yang kita dasari selama ini mampu membantumu berjalan tegar sendiri?

***
Tak pernah sedikitpun ini ada dalam bayanganku. Pertama kali menyadari perasaan ini ada untukmu, aku merasa menjadi aku yang baru. Meninggalkan masa hitamku, aku sanggup melepaskan itu semua hanya dengan senyumanmu. Dan ketika tiba-tiba keputusanmu datang begitu saja, menghempaskan janji ku, harapan ku, yang juga dengan mu ku buat. Yang aku pikirkan, adalah bagaiaman aku tanpa kamu? Bukan apa yang telah terjadi padamu? Sedang apa kamu dan hari mu tanpa aku?Lalu merusak hari hari ku. Betapa kuatnya ego ini.

Enggan aku melihatmu matamu menyimpan sedih melihatku. Terlebih saat itu tubuhmu menampakan segala luka yang kau pendam. Apakah ini ego? Memilih meninggalkanmu, yang menyakitkanmu, daripada menahan sedih mlihat luka di matamu?Meski ini ingin ku, rasa ini mengamuk ingin bertemu denganmu. Apakah dia terlalu kuat hingga dapat tersampaikan pada mu? Sehingga merusak rencanaku untuk hanya tinggalkan sepucuk pesar. Sebuah surat yang banyak untuk kau baca kemudian buang. Sebagian diriku menolak ini, tapi rasaku menjinak ketika melihatmu. Sayangnya, tak banyak waktu, bahkan patah-patah kata pun tak mampu melayang pada telingamu.

Kita berdua hanya mampu saling "berterimakasih" karena "maaf" terlalu perih.
(Untuk jalan yang sudah berbeda)

Mecampuri Hatimu

Batas hati ku masih mencoba mencapai penerimaan ketika tau bahwa aku hanya sebagian mengisi hatimu, bahwa aku, sekalipun tak lagi memandangmu, tak akan berpengaruh apapun untuk mu.
Ingin sekali bertanya, mengapa sedikitpun tak bisa kau pikirkan aku luka, air mata ini sudah mendidih.

Perjalanan ku membuat semua ini hanya mampu ku hadapi dengan diam. Berpikir sekeras apapun tentang aku yang mengapa kau perlakukan seperti ini, tak akan mengubah apapun, hanya membuat malam semakin pekat.




Dan jika ada kesanggupan, tak ingin aku ubah apa yang kau rasa, karena masih sampai saat ini, tak ada yang ingin aku ubah darimu atas egoku. 

Apalah yang dipikirkan seorang yang luka, selain lupa akan luka itu. Adakah cara membenturkan jalan ini agar buyar semua ingtana ku padamu, menjadi serpihan yang terbang bagai debu lalu hilang tak dinyana lagi.

Satu tarikan nafaspun terasa berat dengan semua ingatan ini, kepalsuan yang meraja tanpa batasnya, hingga luka dimana-mana.

Wednesday, April 25, 2012

A song

Tadi pas aku liat kamu, coba memetik gitar dengan kata-kata yang biasa, namun nadany begitu indah.
Suaramu pun hanya menyentuh bunyi indah senar mu, samar, tapi nada yang kau buat indah.
Seakan menggema bersama rasaku, yang lalu ingin terus ada di sampingmu.
Di sampingmu untuk setiap lagu kita.
Kau pencipta lagu
Aku pencipta lirik
^^
This is it ...


Malam mendebarkan hati
Anginnya membawa harum
Harummu yang mendebarkan hari ini


Sebentar ingin ku pejamkan
Terasa lelah akan semua gerak
Bayangmu menghapus setiap resah


Adakah jalan menujumu
Selain merusak yang telah kita jalin
Adakah jalan menjadi milikmu
Selain membuat kau menjauh


Aku yang telah membodohi rasa
Menghadirkan mu untuk mengisi ruang
Aku yang telah merusak janji
Menghadirkan cinta antara kita


Tuesday, April 24, 2012

I love...."Hal baru"

Hal baru selalu menyenangkan. Mungkin tidak untuk semua manusia. Tapi, siapa sih yang kesel kalau punya barang baru. Baju yang baru, buku baru, alat tulis baru, atau apapun barang sederhana itu. Meskipun kadang ada barang lama yang tidak ingin di gantikan. Dulu, aku selalu bersemangat berangkat ke sekolah setiap punya peralatan tulis baru. Sampai sekarang juga begitu. Kalau malam ini aku baru beli buku baru dan pulpen, besoknya saat di kampus, aku akan semangat mencatat. Sesederhana itu untuk mendapatkan semangat yang jadi dua kali lipat. Haa, aku selalu bersemangat setiap harinya ^^

Bagi orang yang tidak ingin berpindah dari zona nyamannya, mungkin menemui tempat baru tidak lah begitu menyenangkan. Tapi buat ku, itu luar biasa menyenangkannya. Tapi, pecinta zona nyaman sekalipun senang berlibur bukan? Bertemu orang baru, berpindah ke tempat baru (tidak tentang hati) adalah hal menyenangkan, karena memberi cerita baru, pengalaman baru dan pelajaran baru. Itu pasti. 

Mungkin inilah yang menybabkan orang yang penuh kejutan selalu lebih menarik daripada dia yang datar-datar saja. Yang sudah bisa di tebak apa kesukaannya, karakternya, caranya menjalani hidup, dan sebagainya. Karena seperti sebagaimana biasanya, mudah di tebak dan selalu itu ke itu saja. Berbeda dengan dia yang penuh kejutan. Berbeda dengan dia yang menikmati hidup dengan caranya sendiri, dengan dia yang ternyata menyanangi ini dan itu yang pada awalnya tidak terlihat, atau kemampuannya melakukan ini dan itu.

"Oh ternyata kamu bisa 'ini' juga?"
"Wah aku gak nyangka kamu bisa 'ini'?"
"Kamu pernah ke sana? Kapan? Sama siapa?"
"Kamu suka sama 'ini'? Aku kira kamu sukanya 'itu'.."
Bermacam ekspresi suprise. Hal yang baru memang menyanangkan. Dapat berbagi dan berdiskusi dengan seru. Bercerita dengan tanggapan yang memberi cerita baru juga.

Semua yang mengejutkan, semua yang baru,  memang akan kembali pada rumahnya. Rumahnya yang meng-cover dia seutuhnya. Hal-hal penuh kejutan itu hasil dari menikmati hidup dengan sebenar-benarnya. Hasil dari berani keluar dari zona nyaman. Hasil dari mendengar dan berbagi sebanyak mungkin. 

Kita punya tangan dan kaki untuk melangkah dan berbagi. Punya bibir dan telingan untuk bercerita dan mendengar. Punya mata dan hidung untuk melihat dan menghirup. Punya hati dan pikiran, untuk menyelaraskan semuanya. Lebih banyak lagi. Setiap 24 jam kita sama dengan 24 lainnya. Lalu mengapa dia bisa mendapatkan A lalu kita hanya -A. Tidak berbicara tentang kemampuan materi dan tubuh namun hal baru selalu ada disekitar. 

Perubahan tak bisa di tolak. Selalu terjadi menjadi sebuah kepastian. Kenapa tidak diringi saja dengan total menemukan apapun yang baru ada di dunia ini? 

Menerima dia


Dalam lingkungan, wajar kalau kita bertemu seseorang yang apa yang di lakukannya sering menyakitkan hati. Bahkan ketika sedang bercanda atau mengobrol sekalipun. Apa yang keluar dari mulutnya, dari tingkah lakunya sering kali menyakitkan. Kadang aku berpikir, lebih baik orang seperti ini tidak di sapa saja sekalian Setiap klai ngomong hanya nyakitin hati. Sakit hati karena omongan itu lebih nyelekit ketimbang di gigit semut. Tidak bermaksud menganggap diri ini lebih baik, tapi aku telah mendiskusikan ini. Jadi tidak mutlak pendapat sendiri.


Satu hari itu, hari dimana aku seperti biasa aku bangun dengan perasaan gembira, dan berangkat ke kampus juga dengan riang gembira, tapi begitu duduk, dan mendapati dia yang sedang menanggapi ucapanku dengan mimik dan nada bicara menyakitkan. Aku yang sedang dangkal saat itu, sontak kesal tak karu-karuan, wajah yang awalnya penuh keceriaan, berubah menjadi kusut, suram, durjam. Syukurnya aku punya hati yang tak kuat menyimpan marah lama-lama, beberapa menit kemudia itu semua hilang. Lalu barulah bisa normal berpikir "buat apa juga aku marah?"

Kalau di urutin ya... dia itu memang begitu, ngomong dengan nada nyelekit, menggunakan kata perkata yang mungkin tanpa dia sadari sudah nyakitin banget, di tambah ekspresi yang mewakili itu semua plus gesture. Dan kalau dia melakukan itu ke aku, begitu juga dengan orang lain. So? Apa urusan sama hati aku untuk sakit? Gak ada kan? Gak bisa dong setiap orang berbicara sesuai yang aku mau. Mungkin juga aku pernah ngomong semenylekit itu. Ups, tapi aku udah koreksi ke yang lain kok. Apa aku seperti itu juga?

Dia hanya seperti itu, mempunyai nada bicara yang menyakitkan, kata-katanya seperti kulit duren, yah mungkin di tambah kejelekan lain yang mungkin sama dengan yang aku punya. Yah, dan hanya seperti itu sama dengan manusia lain. Punya kekurangan. Bukan bermaksud mengambil keunungan, tapi kenapa harus tidak lagi bersama-sama hanya karena gaya bicara yang menyakitkan? Mau sakit atau tidak, itu pilihan hati ku. Mau memikirkan atau tidak itu keputusan pikiranku.

Jika menegurnya sama dengan seperti menyeludupkan senjata dalam hubungan ini, untuk saat ini, lebih baik menerima dia apa adanya. Menjaga diri untuk tidak merasa sakit hati hanya karena hal tidak penting. Dan melupakan segala urutan sikap hitamnya. Itulah ciri dia, sebagai seseorang yang akan aku kenang hingga nanti. Dia dengan ucapan nyelekitnya. Yang menempel disini, yang pernah ngasih rasa sakit sedikit di hati. 

Thank you , kamu ^^

Monday, April 23, 2012

Play and Repeat

Aku penikmat musik, tapi gak punya satu pun idola yang aku jadikan kiblat bahwa musik apapun akan jadi indah di tangannya. Apapun akan aku dengar. Yah, walaupun kadang butuh pemalsaan, seperti saat di mobil sang Babe dengan enaknya memutar lagu dangdut khas jambi yang melengking kemana-mana. Mana panas, macet, lagu dangdut itu lagi. Tapi mau gimana? Ini telinga gak bisa digunakan khusus untuk mendengar apa yang ingin aku dengar saja, seperti kamera. 

Karena malas dengan perasaan kesal dan ngomel tak berhenti, jadi mending milih untuk mencoba menikmati. Kadang liriknya lucu juga. Kadang kalo lagi musik dan penyanyinya berenti nyanyi enak juga. Dan kadang saat diam, saat perpindahan lagu satu ke lainnya aku merasa seperti dapat bernafas dengar oksigen. Lah tadi  dengan apa? Helium kayaknya. Aku menjadi bagian dari planet tak bernama di angkasa sana selama musik itu mengalun.

Sejak aku mencintai yang namanya kaset, punya dua kotak berukuran besar berisi koleksi kaset saat jaman SMP, mulai dari Indonesia, Barat, sampe Cina dan sekaraang entah kemana kaset-kaset itu setelah di mendengarkan musik bisa dimana saja yang disponsori oleh produk digital, aku suka memperhatikan lirik. Senang mendalaminya, membayangkan di dalamnya saat mendengarkannya. Pantas saja pas lagi mellow, dapet banget rasanya kalo denger lagu mellow juga.

Dulu, yang aku inget, pas zaman SMP, aku merasa tertohok saat mendengar lagu Audy-Salahku. Ah, terlalu malu mengakui itu, zaman SMP sudah berani sekali merasakan perasaan seperti itu. Kalau sekarang ada anak SMP menyontraki kisah cintanya dengan lagu-lagu seperti itu, dapat ku pastikan akan ku cibir habis-habisa. Bagi ku mereka terlalu kecil, dan aku terlalu menjadi tua mungkin saat itu.

Dan sekarang, aku sudah merasuki yang lebih pantas lagi. Hey, 21 tahun ke atas I am. Sudah mulai menutup mata saat mendengar James Morrison- I won't let you go, Breaking Benjamin-Give a sign, A love song from Robin Lim-Thank you for mine, Crash-Sum41 atau Snow Patrol-Chasing Chasing Cars. Aku senang membaca dan liriknya. Senang merasakan kata perkata. Mengartikan menurut pikiran dan perasaanku. Tapi, tentu dan pasti, aku bukan pengamat musik yang baik.

Juga dengan lagu dari Indonesia, seperti Raisa-Bersama, Abdu and The coffee Theory-Ku cint kau lebih dari kemarin, Sammy (kalau ini khusus suaranya), dan oh masih sama seperti kemarin saat SMA, Dgyta. Sekumpulan lagu mellow, yang cenderung cengeng. Masih saja ku senangi, terlebih memaknainya, hmm maksudku mengerti maksud lagu itu.

Dan, dari setiap lirik itu, melahirkan sebuah cerita, perasaan baru, atau pengalaman baru, atau menarikmu berjalan ke suasana hati yang diceritakan lagu itu. Seperti saat ini Jewel-You were meant for me, lagu mengalun dengan volume sedang di telingku. Seperti bercerita I called my momma, she was out for a walk. Consoled a cup of coffee but it didn't wannat talk. So I picked up a paper, it was more bad news. And soon you will see. You were meant for me. And I was meant for you. Sebuh cerita yang bernada.

Sebuah lagu seperti sebuah cerita yang membawa si pendengar ke dalam cerita lewat lantunan musik, Mengantar bab perbab nya lewat kata per kata yang ada di dalamnya. Dan saat telah behasil merasukinya, kata dan melody itu berhenti. Masih ada tombol repeat. Masih bisa di ulang hingga bosan Masih bisa mengobati dan menyadari  berulang kali. Berbeda dengan nyata, di bawa kepada sebuah cerita, terkadang harus berakhir, tak bisa di ulang, tak akan sama. Waktu tak akan mengulang dan mundur.

Lagu telah merekamnya menjadi cerita yang dapat membawa di pendengar. Simpan dan rekamlah ceritamu. Seperti kamera, bebas mau mengambil gambar mana yang mau di simpan,  cerita mana saja yang bisa di simpan. Seperti tombol play dan repeat, bebas lagu mana saja yang mau dimainkan dan di ulang. Waktu memang terus berjalan. Berjalanlah, bersama cerita  pilihan yang telah di rekam. Dengan lagu yang di play dan di repeat. Sebagai pengingat, kalau setiap hari harus selallu lebih baik.

Wulan, kadang dalam hidup, memang ada yang harus kita hapus. Seperti gambar di kamera dan lagu di play list. Demikian kata seseorang kepadaku malam itu.

Ditutup dengan Sigur Ros-Andvari. You, thank you ^^

Sunday, April 22, 2012

Seperti semudah saat "sebelum"


"See...musisi tu patah hati juga kali, makanya jadi lagu. Patah hatinya jadi keren. Ngambil yang baiknya, jadi lagu, nginspirasi orang, dapet duit. Nah lo, ngejorok di sini dengan begonya, doing nothing. Patah hati gak ngebegoin lo juga kali....Stupid parah lo emang. Kasian gue"

"Sadis banget lo ye"

"Emang iya. Kenyataan kan? Iye, gue ngerti banget lo sakit. Tapi mau jatoh sejatoh jatohnya atau abis tu bangkit tu pilihan girl. Gue kira lo pinter beneran, hal ginian aja perlu gue ulang bekali-kali"

"Tapi boleh kali gue mellow mellow dulu.."

"Mellow aja sana. Seharian ini aj alo pilih buat bediri, senyum dan berkarya atau gih sana jalan, baca buku, uda dapet apa lo. Daripada nangis, sampe bikin pusing. Ih, rugi gila. Hidup cuma sekali, lo nistain sama yang beginia. Cuih abis"

"Kalo gitu ngapain lo di sini?"

"Nyari pahala buat nyadarin lo. Buat bangkitin sisi cerdas lo lagi. Hahahahaha"

"Gue masih sulit"

"Yeukh, itu lo aja kali yang sengaja nginget-nginget hal manis, nginget-nginget yang dia ingkari, nginget-nginget apa yang uda terjadi anatar lo dan dia. Makanya diem, pasang lagu mellow terus nangis jadi yang nyaman buat lo. Lama-lama stres juga lo."

"Eh ini cuma buat nenangin gue aja kali."

"Nenangin dari sisi mana? Sisis makhluk halus? Ada juga ngancurin lo. Nenangin itu sama dengan sadar, hidup lo, waktu lo terlalu berharga buat beginian. Ngerti? Cerdas dikit kek eh kayak gue. Bosen gue ngomong sama orang bego."

"Sialan lo ye dari tadi ngebego-begoin gue. Gak inget lo tiap ujian nyontek siapa?"

"Tapi gue pake logika juga kali."

"Lo lagi gak ngerasain. Lo lagi gak patah hati, gampang mulut busuk lo itu ngomong begini . Setan!"

"Hahahahah, justru karena gue pernah cantik. Justru karena gue  sadar, kalo gue udah buang bulanan hari gue cuma buat sesuatu yang salah karena patah hati. Gue gak mau lo kayak gue. Waktu dulu ada lo yang bantuin gue apa-apa, karena kecerdasan lo. Lah sekarang? Gue kan gak secerdas lo buat bantuin lo apa-apa karena lo berenti mikir dulu untuk mengenang path hati brengsek lo ini"

"Lo ngambil untung dong dari gue?"

"Terserah si lo mau bilang apa. Tapi gue serius buat ini. Serius kalo lo cuma ngabisin waktu lo buat hal gak mutu. Dia uda nyaikitin lo, uda bikin lo nangis, dan sekarang dia juga bikin lo stagnan gini di hari-hari lo. Emangnya dia siapa?Orang tua lo yang uda ngegedein lo sampe nyumpekin kota ini? Gak akan? Dia cuma seseorang yang datang ke hidup lo lalu pergi gitu aja ninggalin cerita pait dan gak bisa pungkiri, juga cerita manis. Bukannya hidup emang kayak gini? Ada yang pergi, ada yang datang."

"Lo emang ya...."

"Nah! come on. Ada sale buku di luar sana. Ayo kita pergi, ngebuka mata dan hati lo yang sempet ke tutup kalo dunia ini terlalu luas cuma buat mikirin hal gak penting dari patah hati. Ayo kita buru ilmu dan cerita baru. Gue nebeng."

"Sial lo!"

"Hahahhaha"

"Tapi mungkin gue bakal mellow lagi kalo lo gak nemenin gue terus setelah ini"

"Hahahahaha. Eh, di kondisi lo paling tolol sekarang aja, gue masih mau di sini nemenin lo berjam-jam, padahal uda berapa film yang bisa gue tonton daripada ikut bego sama lo di sini ha? Masih belum cukup? Mau gue sodorin kartu garansi?"

" ^,^ "


Sahabat itu emang luar biasa. Luar biasa adanya. Kalo aja sendirian, ngejalanin patah hati, atau apa lah hal buruk yang terjadi di hidup ini. Tanpa sahabat yang bisa dengan logikanya, hatinya, atau mungkin hanya keberadaannya, ngobatin atau hanya sekedar nemenin, mungkin ada banyak sekali nothing yang uda di lakukan. Dengan dia, menajalani hari hari sulit sama seperti mudahnya menjalani hari sulit ini seperti sebelum mengalaminya.

Saturday, April 21, 2012

Rindu

Seperti apa sebenarnya aku merindukanmu? Rindu yang membutuhkanya? Atau rindu untuk menyampaikan rasaku?Yang pasti, aku hanya ingin dia segera ada di sini. Sesaat setelah rindu menghampiri. Namun demi memberi kebebasan untuknya, demi memberikan hidup yang adalah haknya, aku membebaskannya. Tapi tidak semudah membebaskan aku akan rindu ini.

Selepas semua telah ku ikhlaskan, selepas semua telah ku berika senyum, bahkan untuk sesuatu yang menyakitkan. Aku menerima adanya ini, sebuah jarak, sebuah jarak yang ternyata terlalu jauh melebihi perbedaan antara pulau yang berbeda, yang kita pijak. Ini menyakitkan menyimpannya. Rindu ku tak miliki hak untuk bermuara padamu.

Kepada carikan kertas, kepada desing parau suara sore, kepada oranye langit sore di depan kamar sepi ini, aku menghela rindu yang terasa semakin pekat, menyulitkan nafasku. Begitu sesak kadang hingga berair wajah ini. Datanglah ke sini walau lewat kabar, walau mungkin kau berbohong, membodohi ku, untuk membebaskan aku bernafas.

Selepas semua telah terbang kembali pada tempatnya masing-masing. Rinduku pun seharusnya menemui ajalnya. Harusnya mati dan tiada lagi. Selamanya. Memang dia tak harus datang lagi. Waktunya memang singkat, meski telah merubah tahunan hidup yang telah ku jalani dan ku buat. Hanya seperti itu rindu akanmu datang. Yang bahkan aku tak sadari ini rindu karena rasa ini atau rindu membutuhkanmu. Selamat tinggal rindu.

Friday, April 20, 2012

Update Status

"Ciee...update status ni... ugh ikannya pedas nich" Teman ku menyindir saat aku sedang memegang hp saat kami makan bersama. Aku hanya menoleh mencibir, sudah jelas mereka tau gaya ku mengupdate status bagaimana. Galau kata mereka.

"Ini ni bagian yang aku gak ngerti, sudah tau besok ujian, harusnya kan belajar, atau apa kek ni malah ngetwit dugh besok ujian tapi gak tau harus ngapain, ataau bahan gak ada ni buat ujian, ampun mak.... emang bisa tring gitu ni status nolong kaum kau ni pas lagi ujian?"
Aku mendelik "sekali lagi kau bilang aku, ku siram kan ni!"
"Hahahahaha" terkekeh menjijikan.
"Tapi biarin kali, mereka kan gak ngerugiin siapa-siapa, biarin lah sana. Benci ya udah unfollow, remove" tidak bermaksud membela, tapi menurut ku protes dengan kelakuan para si undate status maniak ini juga gak penting. Sama aja mereka dengan mereka. Loh?(bingung ya?sama).
"Ya bagus lah ada manusia-manusia seperti kami ni, jadi mereka dapat pahala." nyeleneh teman ku menjawab.
"What the hell did you said budy?" Aku masih melihat layar hp.

Kesel kadang kalao liat timline twitter, atau home fb isinya status2 yang bener2 deh bikin pengen goyang ulek bulu saa membacanya. Sulit dimengerti aja, kok bisa berpikir untuk mengupdate status seperti itu.Tapi ya sudah si, hak hak mereka dan bangsanya deh, urusan gue juga apa. Gak suka ya gak usah baca aja. Atau unfollow. Gue pernah ngamukin sahabat gue di kelas 
"Woi, twit twit lo nyampahin TL gue banget si, gue unfollow juga ni! Gak mutu tau. Jijik gue bacanya"
Temen ku tertawa geli. "Ya uda si, kalo gak suka unfollow aja. Gak temenan di twitter kan gak berarti gak temenan di dunia nyata. Twitter for me, just for fun cantik"
See. Gue tau banget sahabat gue tu bukan kaum pengupdate status menggelikan. Tapi dia melakukannya buat kesenangan semata. Sama seperti gue kadang kala, menyampahi profil temen, atau TL temen dengan status status penggugah kegalauan atau kejijikan. 

Gak temenan di dunia maya tapi bersahabat baik di dunia nyata lebih baik bukan daripada manis di dunia maya tapi nyaci abis-abisan di dunia nyata? 

Social Network tu media, buatan manusia. Jangan sampe bodoh di buatnya. Galau karena abis meratiin profil mantan, atau cewek yang kecentilan sama pacar, marah-marah setelah liat tingkah temen di social network, iri karena liat foto temen abis jalan ke luar negri. Irinya gak bagus gitu, iri yang ngomongin yang gak  mutu. Ini namanya di bodohin teknologi man. Atau ada ni, iri karena abis liat foto temennya temen di fb yang ke bali pake bikini ciuman sama pacarnya di bawah sunset pantai Sanur. Terus bertekad mau melakukan hal yang sama, karena like-nya banyak banget, yang komen muji-muji juga ratusan. Ampun!!!!!!!! Gue minta ampun sama yang beginian!!!!

Gue ngaku kadang gue norak. Update status galau-galau. Tapi kalo boleh gue mau bela diri, gue update status yang terasa galau, dengan kata-kata yang bisa ngasih tau pembaca tentang rasa itu, tentang hikmat dari rasa itu. Ah tapi ya udahlah, status gue juga kadang gak mutu. Lo boleh nulis apa aja. Boleh. Tapi tetaplah jadi cerdas ya guys.....

Selamat ber-update status ria.... ambil yang positif, musnahkan yang negatif. Gue banyak kok dapat informasi dan inspirasi dari social network...



Rakus?

"Ternyata kita,manusia, tidak lebih sosial daripada tumbuhan" Begitu kata dosen ku pada pelajara Etika Lingkungan sore tadi. Pembawaannya yang santai, kata perkata penuh dinamika, terkadang begitu lambat, terkadang begitu cepat, seakan sedang berpuisi, membuat ku terkantuk kantuk mengikuti pelajaran ini. Tapi materinya begitu mencungklik hati, pikiran dan kesadaran.

Tak ada yang protes, belum ada yang bertanya saat kalimat itu meluncur tanpa penejelasan. Kemudian "Tumbuhan begitu saja menyerahkan dirinya untuk kelangsungan hidup manusia. Manusia yang merasa paling kuat, paling hebat, paling pintar di dunia ini. Padahal belum tentu benar. Coba saja manusia di tinggal sendiri di hutan dan bertemu hariamau, manusia pasti lari terbirit birit ketakutan. Manusia menciptakan teknologi untuk melindungi dirinya namun tidak memperhatikan ekologi yang terluka" demikian lah kira-kira yang di sampaikan dosenku. Aku bergumam "untung tadi perbandingannya bukan pada hewan"

Seseorang pernah juga bicara pada ku "semut yang kita injak injak ini bisa saja berpikir mereka yang terpintar, terhebat dan manusia itu mahkluk yang tolol, jadi kehidupan ini bukan cuma tentang manusia, nafsu manusia" begitu lah kira-kira. Ya, dosen ku juga menambahkan, binatang dan tumbuhan sekalipun punya rasa sakit, keduanya memiliki moral, jadi tidak bisa seenaknya di sakiti hanya dengan alasan untuk mempertahankan kehidupanmu karena tumbuhan dan binatang tidak punya akal".

Di sebuah pulau, yang jauh, jauh sekali. Manusia sulit menjangkaunya. Di huni oleh ribuan kera. Kera-kera itu berwarna keemasan,. Hidup makmur, hidup sejahtera. Pulau tempat kera-kera tersebut tinggal pun begitu hijau, tumbuhnannya beragam, warna-warni. Airnya jernih. Kebiruan yang menampakan cahaya saat siang. Kehidupan yang begitu indah. Mereka hidup saling bergantungan satu sama lain. Namun hanya mengambil sesuai kebutuhan mereka. Saat ingin makan, kera akan makan buah dari tumbuhan, setelah kenyang, maka tidak akan rakus mengambil yang tidak dapat lagi masuk ke perut kera. Kera emas itu memang berbeda. Mereka keturunan kera dari kerajaan. Jadi lebih beradab.

Kesadaran, bahwa semua yang ada di dunia ini mempunyai nilai instrinsik, bahwa semua yang ada di sini saling membutuhkan dan berkaitan, dan bisa merasakan sakit serta rakus itu sangat tidak penting bagi kelangsungan bumi ini berputar. Bisa membuat negri ini seperti pulau yang jauh sekali itu. Pula Kera Emas. 

Coba deh? Apa sih? Kita sering keterlaluan mengeksploitasi Sumber Daya Alam. Lebai. Cukupnya hanya satu truk, ngambil bertruk truk. Di timbun, di simpan, lama-lama, akhirnya nyampah. Kalo dalam kehidupan sehari-hari nih, nyuci baju cukup dengan air 3 ember, di bikin 5 ember, alasannya, "ah masih ada busanya". Kalo gitu penggunaan sabunnya sesuai kebutuhan aja dong. Mau nanti anak cucu mu minum air kencing? Kadang kita juga sering  beli barang yang gak kita benar-benar butuhkan? Yang kita masih bisa hidup, masih tetap cantik kalo kita gak punya? Kalau di runut, sama aja dengan lebai dalam penggunaan Sumber Daya Alam.

Sebuah cerita. Malam itu di asrama air galon tinggal dikit banget. Tukang galon gak mungkin nganterin galon yang baru. Jam 10 asram sudah di tutup. Gak bisa keluar, lagian toko juga gak ada yang buka lagi.Aku mengambil air yang terakhir dan pas memenuhi botol air minum ku. Aku minum dan masih ada setengah. Aku simpan di kamar. Lima belas kemudian, aku dengar seseorang bergumamam "yah habis...". Aku yang lagi asik membaca buku, sontak keluar, "kamu mau minum?" "iya...aus banget." Aku menyerahkan air minum ku di botol.

Kalau saja malam itu aku bablas tidur, saudara seasrama ku bakal kehausan. Betapa egoisnya aku, butuh hanya setengah botol dan di waktu yang sama ada yang haus airnya malah aku simpan. Air yang dibutuhkan saudaraku saat itu dan yang akan aku minum mungkin keesokan harinya. Parahnya kalau ternyata sisa air itu malah aku buang.

Sangat seram cerita tentang rakus ini. Tentang mengambil yang sebenarnya tidak kita butuhkan, hanya untuk medewakan uang. Memang sulit benar hidup benar di jaman sekarang. Uang seperti Tuhan. Manusia selayak setan. Setan-setan jalanan yang bukan haus darah, tapi uang (mengutip sebuah lagu). Jalan kita untuk menghabiskan hidup di dunia ini  memang pilihan kawan. Dan...silahkan memilih.

Oretan anak Teknik Lingkungan yang kadang bingung dengan dunia yang fana ini *halah

Kau dan Dia (disini)


Kau bilang...tak usah gusari misteri, pelajari saja. Bukan kah kau punya rencana?

Masih santai kau bicara impianmu, meski saat ini, saat yang ingin kau bawa pergi, masih menyakitimu.
Masih santai kau bayangkan senyuman, meski saat ini, senyuman itu mengkhianatimu.
Masih santai kau menghabiskan malam untuk berbagi, meski cerita itu melukaimu.
Masih santai kau lewati malam membawa diri, meski dia meninggalkanmu.

Kau bilang...tidak usah, teruslah jalani. Bukan esok belum kita ketahui?

Kau mencoba mengalihkan, menghilangkan, tapi waktu seakan mempermainkan, mengizinkan kita sama-sama mengingat kembali. Tahunan luka yang tertutup berbagai macam pertemuan
Ku coba pertahankan, melupakan menganggap tak ada, tapi semesta seakan mengajak berteka teki, mengizinkan kita bercerita lagi. Bulanan kenangan manis terulang lagi.

Pengetahuannya hanya tentang hari ini, kesadarannya hanya detik ini. Tak berani miliki dan berikan janji. 
Meski kau dan dia masih tentang hari esok.

Yang harus kau tau...tulang rusuk tak akan tertukar. :)

Sunday, April 15, 2012

Basi

Akhir-akhir ini aku merasa "basi". Inspirasi menulis itu ke itu saja. Kurang jalan-jalan, kurang tambahan temen, kurang banyak membaca, kurang banyak mendengarkan lagu-lagu terbaru, kurang menonton film-film. Inilah menulis, terinspirasi dari lingkungan, dimana kamu berada, dimana kamu merasakannya. 

Ternyata menerima "apa adanya" itu...

Kenapa ada tanda kutipnya di dua kata apa adanya ini? Karena menurut pandangan saya, menerima apa adanya itu ada batasannya. Maksudnya, ketika kita dapat pasangan yang sudah memenuhi karakter yang kita mau, maksudnya karakter untuk hati kita hatuh kepadanya. Namun ada beberapa tingkah lakunya yang kalau terus dia lakukan akan merusak dirinya sendiri, yah, meskipun dia menyenanginya, tapi tetap tidak boleh. Itu tidak baik. Itu tidak sehat. Dan bukan kah hubunga yang baik itu membuat kita menjadi lebih baik? BUkannya makin hancur, terpuruk dan gak berharga? Kalo sampe kamu ngerasain itu dengan hubungan kamu, coba deh pikir ulang buat melanjutkan.  Oke balik lagi. Kalau sudah begitu, kamu akan bantu pasangan kamu untuk berubah lebih baik kan? Tidak melakukan yang sama, yang salah lagi dan lagi? Ini tentu bukan apa adanya. Ada yang kamu ubah.

Apa adanya yang aku maksud adalah, ketika kamu sama sekali tidak mempermasalahkan pandangannya tentang suatu hal, meskipun kamu berbeda dengannya, gak memperdebatkan masalah apa yang dia suka dalam perpakaian, meskipun itu bukan seleramu, toh masih sopan dan pantas. Kamu gak mendiktenya untuk menjadi seperti "dia" atau "ia" saat jalan denganmu. Kamu mampu mengerti ke"labil"annya dalam mengambil keputusan atau memilih, maklum, kadang sseorang dapat berubah-ubah ketika mendekati batas harus memilih. Yah, kamu menerima dia yang plin plan (kadang) dalam memilih, kamu nerima dia yang sibuk banget berkaca tiap menit, yang suka dengan musik yang kamu benci., yang gak romantis meskipun kamu suka diperlakukan romantis. Yah, itu lah dia, dengan kehidupan sebelumnya dan sekarang ini.

Tapi kadang kamu gak suka bukan saat dia dengan gaya bicaranya dengan nada tinggi ke temannya, juga dilakukannya ke kamu, dia yang cuek sama penampilannya, dan dia juga begitu saat jalan sama kamu. terlebih saat sudah mengundang omongan dari orang lain. Besoknya kamu bakal bilang, coba bicarain. Dan oke! Aku coba berubah. Satu bulan, dua bulan, ternyata balik lagi seperti itu. 

Memangnya kenapa kalau dia ketus? Kalau saatnya harus lembut dia akan lembut. Memangnya kenapa dia dengan penampilannya yang menurutmu gak banget itu? Kalau dia jadi yang kamu mau, dan hatinya juga berubah? Apa kamu tetap atau masih sebahagia sekarang? Apa pentingnya lagi fisik, ketika hatinya sudah nyakitin kamu.

Kamu sudah memilihnya, menajalninya, dan jika seiring waktu ada yang bikin kamu gak suka, itu lah hidup bersama, saling nerima satu sama lain, saling mengerti, saling menghargai. Ada perbedaan, yang gak harus di hadapi dengan "meminta berubah" atau "menolak bersama-sama (lagi)"

Wednesday, April 11, 2012

Kangen 3


Ada manis senja ku jilat saat mengingatmu dari jauh
Aku tak bisa memelukmu dengan tatapan rindu
Ada hujan yang mengirim kilas cium mu
Aku tersenyum di balik kusutnya hujan

Rindu sudah bosan merengek
Hanya tinggalkan pesan
Rindu sudah bosan bergelayut
Hanya menyisakan aroma

Aku..meski ingin bersama tapi hidup milikmu, tetap memisahkan kita
Aku..meski ingin selalu beriringan denganmu, tapi waktu milikmu, memisahkan kita
Aku…meski ingin selalu menggandengmu, tapi  mimpimu milikmu, memisahkan kita

Kita tak tersesat dengan jarak ini, kita tak tersesat dalam perpisahan ini
Hai waktu, ada banyak pilihan arah dalam sebuah perjalanan,
Berbaik hatilah untuk pertemukan kami di suatu tempat nanti,
Yang nantinya menjadi tujuan akhir kami….

Pare, 21 Feb 2012 11.30
Saat merasa bahagia dengan rasa rindu untuk kamu

Lihatlah

Mungkin aku seperti hantu
Atau kesalahan mu yang menghantui mu?

Mungkin aku seperti bau yang enggan kau cium
Atau kesalahn itu yang membaui mu?

Aku menerangi gulita yang kau ciptakan
Aku menyinari luka yang kau hadirkan
Sehingga semua tampak jelas
Tapi bagi diriku sendiri

Apa kau dapat melihatnya dari tempatmu?
Saat bersanding dengan namaku
Hingga hanya dengan membaca namuku
Kau memilih menghilang

Seketika itu juga

Jika kesalahanmu melelahkanmu
Jika kesalahanmu menjauhkanmu dari ku
Jika kesalahanmu menjemukanmu
Jika kesalahanmu mengahancurkanmu

Lihatlah tatapanku beberapa detik, meski dari jauh
Ada maaf di situ
Yang tak akan melelahkanmu, dan menghapus semua malam gulitamu
Lihatlah

Kangen 2

Hany sesaat tapi diingat. Namamu menjadi dua kata sakral yang jika terbaca menerbangkan ingatan pada malam-malam yang sebentar itu, namun itu untuk pertama kalinya. Pertama kalinya ku kemas sebagai cerita untuk di bagi pada keramaian.

Masih terekam jelas meski tak dengan hati, cara mu memutar setir, cara mu berjalan yang gontai namun semangat, dan itu lah gayamu memang, dan ceramua memakan senar-senar gitar, seperti saat itu kau sedang jiwamu. Seharusnya banyak lagi yang bisa ku ingat, dan ku tulis. Namun waktu sudah mengobati semua. Semua sudah menjadi sekedar ingatan.

Kangen yang dulu menggebu, yang dulu ku paksa ku simpan, telah di packing oleh waktu dengan begitu indah. Begitulah kangen, seperti penyakit yang sudah pasti kita ketahui obatnya namun tak bisa di telan saat itu juga, Namun waktu pasti akan mememluknya, menjadikan sekedar kenangan, bukan kangen-an (lagi)

Never Mind

Terlalu sering memperhatikan hal dengan detail, lalu mencoba menghubungkannya, dan itu terus saja berkeliaran di pikiran saya. Entah kepada siapa harus di diskusikan, karena terkadang itu semua tak butuh jawaban, itu semua adalah kenyataan.

Suatu malam, di antara tidur dan bangun, saya bertanya-tanya. Mengapa penulis ini menulis seperti ini, hampir 70% tulisannya bertemakan keluarga, lalu yang ini tentang cinta, lalu yang ini tentang pendidikan, ini tentang itu dan itu tentang ini.

Dan ketika saya hanya mendiami pertanyaan itu, sebuah kaimat lewat dalam pikiran saya, bahwa seseorang menulis apa yang ada di dekatnya. Di hatinya di pikirannya, sebagai inspirasi. 

Apapun yang ada di dekatmu saat ini, di dalam dirimu (juga) saat ini, namun bisa juga kemarin dapat kamu tuangkan dalam bentuk tulisan. Seperti lensa kamera yang menangkap gambar yang ada di sekitarmu.

Dan selamat menulis...

Tuesday, April 10, 2012

Kangen I

Bagaimana kabarmu saat kita berjauhan?
Meskipun dekat dan kita masih sulit bertukar cerita. Bagian yang paling ku cinta dari pertemuan kita, aku senang bercerita denganmu. Di antara gelapnya angkringan kota ini, di bangku gerobak angkringan dengan segelas es teh manis dan sepiring kecil ceker bakar dan gorengan, di lesehan pinggir jalan, di bawah jembatan yang bising, di sebuah cafe yang cukup elok, di sepanjang jalan temarang kota ini, atau di pinggir pantai dan di bawah hujan, aku cinta itu semua.
Bagaimana kabarmu saat itu semua semakin sulit kita lakukan?Kalau aku, aku merindukannya.

Bukan aku tidak tau kalau kehidupan itu terus mengalami perubahan, begitu juga dengan cara kita menjalani hubungan ini. 

Aku tak keberatan, aku hanya merindukan saat-saat itu, dan kadang yah, itu menyakitkan. Tapi demikianlah itu telah terjadi. Tak apa, aku tau ini cara kita, ini perubahan cara kita, bukan tentang hati kita.

Cantik

Saat itu sedang program ba'da magrib. Seorang penghuni Camp maju untuk Public Speaking, dia mengangkat topik tentang Arti Sebuah Kecantikan. Di sampaikan dengan bahasa Inggris yang apik. Lalu timbul pertanyaan dari seorang tutor "Bagaimana kalau seorang perempuan ingin menjadi atau meniru gaya seseorang, sebuat saja artis, karena memang gayanya bagus, enak di lihat?" Ah, aku sering kehilangan konsentrasi kadang, jadi aku lupa apa jawaban dari teman ku sebagai speaker malam itu.

Tapi aku mengkui pertanyaan itu pernah ku lakukan, aku anggap seseorang itu bagus lalu berusaha meniru gayanya. Tapi tau apa yang ku dapat, kelelahan. Awalnya begitu excited, begitu antusian, begitu menggebu, tapi setelahnya, aku lelah. Dan terutama untuk ini, untuk menulis, sudah berkali-kali aku mencoba untuk menjadi penulis blog semenarik dia yang punya blog dengan jumlah pengunjung ratusan abhakan ribuan setiap harinya. Lalu yang ku dapat? Aku seperti seorang plagiat. Gak seru! Gak keren!

Setelah aku lelah menirukan gaya seseoarang, aku hanya jadi tau, "oh dia demikian karena apa yang dia punya pantas untuk itu semua, meskipun tak seluruhnya juga benar" dan penulis itu menulis demikian, karena apa yang dia pikirkan, di alami, apa yang menginspirasinya dna itulah dia. Aku dengan keadaan ku yang pantasnya begini, yang nyamannya menulis begitu sudah seharusnya menjalani yang seperti ini, yang aku punya.

Dan perempuan, kamu selalu cantik, kamu selalu canti ketika kamu cerdas memperlakukan dirimu sendiri dan orang lain, ketika kamu menanamkan kecantikan itu sebagai sesuatu yang memang kamu miliki dan ketika kamu memaknai hidup ini dengan lebih dan lebih baik.

dan Selama malam cantik...

Pertemuan yang hakiki

"Perjalanan kita sama seseorang saat ini, kemarin atau mungkin besok adalah salah satu jalan buat kita menemukan dia yang hakiki"
"Maksudnya?"
"Kadang kita gagal menjalani sebuah hubungan dengan seseorang lalu bertemu dengan orang lain, gagal lagi dan bertemu lagi, dan gagal lagi, dan akhirnya kita bisa menemukan yang terakhir, yang bersedia dan kita pun bersedia bersama-sama dengan membawa pengalaman sebagai pembelajaran kita dari masal lalu, agar tidak mengulang kesalahan yang sama lagi dan lagi"
Aku terdiam, lalu "Ini gak adil dong?"
"Kenapa?"
"Ya masa, kita ngabisin waktu, tenaga, materi untuk orang yang akhirnya gak sama-sama kita."
"Tapi kita gak bisa maksa toh kalo memang pada akhirnya gak bisa bersama?"
"Tapi tetap gak adil" suara ku merendah. Seperti merasa kembali beberapa kekecewaan tempo dulu.
"Ya memang begitu lah kehidupan, sedikit kejam, tapi memberi peljaran buat kita begitu juga dengan dia"

Apakah itu sesuatu yang bernama jodoh? Sekuat tenaga sekalipun kita mengusahakan sebuah hubungan untuk terus bersama, sekalinya bukan jodoh, tetap aja berpisah. Dan apakah semua ini tak pantas di katakan kejam?
Entahlah, karena rasanya sakit, dan itu tidak enak, maka itu aku menyebutnya kejam. Namun memang demikian lah pertemua dan akhir dari sebuah pertemuan membawa kita pada sebuah tujuan. Semoga tak banyak waktu dan kebersamaan yang aku, kamu dan kita sia-sia kan.

*dari sebuah sharing di siang yang panas di Pare dengan 2 lelaki yang -aneh-

Indah dari Pare


Memang benar, ada yang datang dan ada juga yang pergi begitu saja dalam hidup, ada yang pergi begitu saja namun ada yang meninggalkan kenangan dan kesan. Begitu lah Pare telah memberi cerita di salah satu sisi perjalanan hidup ku. Sebuah kota kecil yang di kunjungi banyak orang dengan tujuan yang hampir sama, bersahabat dan menjadi begitu dekat dengan bahasa Inggris. 

Banyak orang yang berdatangan, menghadirkan cerita yang berbeda-beda juga bagi ku. Awalnya, yang ada di bayangan ku Pare adalah sebuah kampung kecil yang semua orang di sana menggunakan baha Inggris, hidup bersahaja dan sangat sederhana. Karena itu aku membawa segala kebutuhan harian di dalam koper, sampai yang seharusnya bisa ku beli di sana pun aku bawa. Alasannya "jangan-jangan yang biasa aku pake gak ada di sana". 

Dan tadaaa....ternyata aku salah sesalal salahnya. Pare bukan seperti sebuah kampung yang aku bayangkan, Pare seperti sebuah kabupaten yang sudah cukup maju. Siapa bilang juga kebutuhan harian ku gak ada di sana. Lengkap dan murah malah. Hhhhh.

Dalam bayangan ku, Kampung Inggris itu hanya ada beberapa tempat kursus dan itu letaknya di pinggir sawah. Eh ternyata, ada kali mau ratusan tempat kursusnya. Dan gak di pinggir sawah, yang lebih penting lagi, semua orang di sana gak ngomong bahasa Inggris. Bahkan ada yang gak bisa sama sekali. Ibu kost ku, aku kira mereka sekeluarga mahir bahasa Inggris, ternyata malah membecinya. Ah, buyar semua bayangan ku tentang sebuah perkampungan nan asri bernama Kampung Inggris.

Menyesal? Yah, pasti, awalnya nysel banget. Apa-apaan ini!? seperti tertipu pada cerita orang yang aku intrepetasikan apa adanya di pikiranku yang ku simpan selama 5 tahun. Ouch!! What a pity I am. 
Gak! aku sudah memilih, jadi harus di jalani. Sudah mendaftar jadi harus masuk. Sudah punya tujuan, jadi harus di raih. Okey, aku jalani aja meski dengan perasaan penuh marah. Hari ke hari, dari tempat kursus satu ke tempat kursus lain. Pertemuan dengan berbagai macam karakter orang. Finally, aku sulit meninggalkan Pare.

Meskipun gak semua orang di Pare menggunakan bahasa Inggris, toh bahasa Inggris ku tetap semakin menigkat, meski hanya untuk speaking, sesuai tujuan utama ku datang ke Kampung Inggris. Atmosfer semangat yang ada di Pare, atmosfer yang tidak bolong karena global warming, atmosfer yang membawa ku pada setiap hari yang semakin indah.

Di mulai dari teman sekamar saat aku tinggal di kost an, bernama Dewi dan Desi. Dua tahun di bawahku, tapi mereka sepakat untuk tidak memanggil ku kakak, karena sikap ku yang kekanakan kata mereka. Dewi gadis katholik yang baiknya baik banget, tulus, lugu dan kadang suka protes hal-hal yang gak penting. Tapi begitu tulus dan baik. Desi, gadis bongsor yang punya banyak cerita dari daerah asalnya, meski hanya seminggu bersama, tapi sudah banyak sekali cerita yang kita tukarkan, dan aku rindu dia yang berita dengan waktu yang lama, wajar, keturunan Jawa tulen.

Dan tempat tinggal pada bulan kedua, yaitu Camp Zeal Girl. Ada Nana, gadis asala Palu, berkulit hitam, berambut kaku, kekanak kanakan, tapi saat pretama kali melihatnya, aku tau dia baik, aku tau kami bisa dekat. Dan ternyata benar, meskipun hanya sebentar, namun aku sudah bersahabt dengannya. Zulfa, Ratih, Maya, Intan, Mira, dan semua yang ada di Zeal saat aku tinggal di sana, termasuk ke tiga tutor Miss. Emi, Miss. Zulfa dan Miss. Tria. Percaya aku mengingat semua wajah kalian, tapi maaf aku lupa nama kalian. Aku memang pelupa. Meski hanya sebentar, aku gak nyesel pindah ke Camp Zeal karena ada kalian, karena bertemua kalian semua. Aku malah menyayangkan dan menyesalkan kenapa harus segera balik ke Jogja.

Begitu juga dengan tempat kursus ku. Terutama Mr. Bob, kenal dengan Mr. Bob itu sendiri, Miss. Arta, Mr. Ken, Mr. Siroj, Farhan dan Ibnu. Manusia-manusia ajaib, aneh tapi nyeneangin, ngangenin dan recomended untuk di jadiin sahabat. Yeeeeeee.

Dari Camp Zeal Boy juga gak kalah, ada Mr. El yang juga sama-sama dari Kuala Tungkal, kalau ngomong dan kita perhatikan bibirnya maka yang kamu dapat hanya lah bengong, semua seperti gelombang bunyi tak beraturan. Cukup pejamkan mata dan jangan lihat bibirya, cukup aneh. Hahahahha, tapi di balik itu semua penguccapan bahasa Inggrisnya begitu baik. Pertama kali melihatnya dia seperti cowok yang belagu, tpai setelah mengenal, aku menyesal sudah berpikiran jelek, dia baik, benar-benar baik dan senang berbagi ilmu, tetutama tentang kehidupan. Ada Danu yang selalu berpenampilan seperti tidak mandi dan dia kocak. dan yang paling aku inget, ada Robert dengan botol minumannya yang seperti botol minuman anak TK. 

Spesial, buat Kak Sari, sahabat ku asli dari Pare. Kadang nyebelin karena dia suka aneh pikirannya, suka males bawa jaket kalau pergi, padahal jelas butuh dan setelah itu mengeluh. Huh. Tapi di balik itu, dia perhatian banget sama aku. Pernah waktu itu di tempat kursus di atau aku sedang sakit, dia menawarkan diri untuk seperti memijat sebentar, supaya angin dalam tubuhku keluar. Dan saat setalah jatuh di tempat cuci di Camp pun, kak Sari juga yang mengantarkan aku ke tukang pijit. Setiap aku berkunjug ke rumahnya, selalu di beri makan. Kak Sari juga mau nganterin aku kalau mau belanja. Mudahan cita-cita kak Sari tercapai ya.
Dan semua-semuanya itu ada lah sepenggal cerita ku dari Pare, dan akan ada lagi, karena aku berencana akan menginjakan kaki di sana lagi. Aku senang bertemua banyak orangm berkenalan dan berbagi cerita, ilmunya lebih dalam. Mungkin aku lebai, tapi begitu sulit mendeskripsikan persaudaraan macam apa yang aku dapatkan di Pare, seperti sebuah Magic. Mempesona. Saat aku memajamkan mata, aku bisa merasakannya, dalam dan indah.

Mungkin saat aku kembali lagi, Pare akan memberikan cerita yang berbeda dari yang kemarin. Tapi semoga dan aku pun percaya akan tetap indah. Terima kasih Allah, mengizinkan aku ke Pare, mengizinkan aku mendapatkan kebahagiaan ini.

Buat kalian yang mau ke Pare, dan punya tujuan tentang bahasa Inggris, fokuslah, maka kalian akan dapatkan, Meskipun kadang lingkungan kalian gak sesuai dengan yang kalian inginkan, tapi kalian, pasti bisa mengubah itu semua jadi meneynangkan, karena hati kalian lebih besar daari pada ketidapenerimaan itu sendiri. 

Tuesday, April 3, 2012

Semoga Kemarin adalah Kampungmu

Kalau hari ini kamu tidak mencintaiku seperti kemarin, tidak akan ada yang aku rubah.
Kalau hari ini kamu lebih ingin bersama teman temanmu daripada aku, tidak akan ada yang aku rubah.
Kalau hari ini peduli mu berkurang bahkan menghilang, tidak akan ada yang aku rubah.
Kalau hari ini kamu melupakan janjimu kemarin, tidak akan ada yang aku rubah.
Kalau hari ini kamu biarkan aku kehujanan sendiri saat malam, tidak akan ada yang aku rubah.
Kalau hari ini kamu biarkan aku yang sedang sakit begitu saja, tidak akan ada yang aku rubah.
Kalau hari ini kamu ingin tanpa aku, juga tidak akan ada yang aku rubah.
Aku hanya berubah saat kamu membuka jalan untuk itu.
Jalan yang kamu buka karena jenuhmu, jalan yang harus kulewati meski dengan sesal.
Meski masih begitu jelas, begitu manis kamu bercerita tentangmu, meski masih terekam bagaimana kamu saat mengatakan bersedia ada untukku.
Meski sudah ku camkan, tiada rasa yang abadi, tapi tetap terasa mendung.
Semoga kemarin adalah kampung halamanmu, hingga kau bersedia pulang.