Monday, October 31, 2011

Bagaimana bisa?

Bagaiaman bisa sesuatu itu didapatkan tanpa usaha? Bagaimana bisa es itu mencair kalau masih saja di dalam dingin? Bagimana bisa ada pelangi bila awan tak berusaha mengubah dirinya menjadi hujan? Dan segala sesuatu itu perlu usaha. Termasuk tentang kamu.

Kalau aku hanya berdiam diri dari sudut ku, melihatmu dari kejauhan, memperhatikan segala hal yang kau lakukan, memikirkan mu setiap malam, memimpikan kamu setiap hari dalam tidurku atau mencatat ribuan namamu di diary ku, bagaimana bisa?Bagaimana bisa kamu tau kalau aku adalah seseorang yang ingin menghabiskan waktunya bersama kamu untuk waktu yang sangat sangat snagat lama. Bisa kah diam ku menjadikan itu kenyataan? Kamu adalah sseorang yang normal, yang tidak bisa merasakan langsung kalau ada seseorang yang menyukaimu lewat indra keenam mu. Kamu bisa tau dengan mendengar, melihat setelah itu untuk merasakannya itu hanya urusan hati mu.

Bagaimaan bisa?Bagaimana bisa aku bersama kamu yang hanya tau tentang persaanku, yang hanya tau bahwa aku menyukaimu. Hanya itu saja. Tanpa ada usaha lebih sedikitpun, hanya menunggu setelah mengungkapkan. Cukup kah? Bagaiaman bisa ini hanya menjadi sesutu yang dianggap selesai padahal jelas ini akan terbawa ke dalam mimpi, resah, galau dan tulisan-tulisan kabur ku. Bagaimana bisa? Aku memang tidak mempunyai kemampuan untuk mejadikan hatimu juga menyukaiku langusng, tapi aku punya kemampuan untuk berusaha. Berusaha dengan hatiku untuk bisa bersamamu. 

Dan kalau semua usaha ku tidak juga bisa membuatmu balik menyukaiku, atau malah membuat mu takut dan lari sejauh-jauhnya. Aku yakin semua usaha ini tidak akan jadi sia-sia. Ingat, Tuhan selalu meperhitungkan setiap usaha baik yang aku lakukan, juga manusia-manusia lainnya. Jadi akan ada hadiah untuk ini, aku yakin. Meskipun bukan kamu tapi itu lah yang ternyata aku butuhkan. Atau kamu akan kembali pada ku dengan lebih baik suatu hari nanti. Entahlah, yang pasti aku akan lebih baik setelah mengusahakan apa yang aku inginkan. Dapat atau tidak, itu urusan nanti

Yeah. Cinta, uang, prestasi, bahkan kehiduapan ini sendiri memerlukan usaha kita. Membutuhkan tidakan, gerakan, perpindahan kita. Karena apappun itu tidak akan berubah tanapa usaha. Yah, jadi berusahalah untuk mendapatkan yang kamu mau. Berhentilah saat itu memang seharusnya berhenti, hatimu akan tau kapan waktunya untuk berhenti. ^^ Dan selamat berusahan.

Sunday, October 30, 2011

Permintaan di pantai

Kalau pun pada akhirnya kita gak hidup bersama, gak berpindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain  gak sama-sama punya hewan piaraan yang banyak, gak sama-sama menikmati hidup dengan cara kita, gak saling menatap saat pagi memulai hari dan malam menutup semua yang telah kita lakukan, JANGAN PERNAH PERGI, DIAM, dan MENJAUH. Meskipun ini menyakitkan, mengecewakan. JANGAN PERNAH PERGI, DIAM dan MENJAUH. Karena kamu, satu satunya orang yang sejak awal aku kenal yang gak pernah lakukan itu, semarah apapun kamu, seburuk apa pun aku memperlakukan kamu, kamu hanya menarik nafas dalam. Meskipun ingatan ku gak begitu bagus, tapi aku mengandalkan ingatan ku yang mengatakan  kamu gak pernah lakukan itu. Jadi JANGAN PERNAH PERGI, DIAM dan MENJAUH.

Kalau kamu di sini, di samping aku yang sedang menikmati pantai ini, aku akan mengulurkan kelingking ku dan meminta mu untuk menautkan kelingkingmu bersama punya ku. Tapi nyatanya kamu gak di sini, kamu masih di sana. Dan jika suatu hari nanti kamu dan aku benar nyata ada di sini, aku akan meminta ini langsung dan mengulurkan kelingkingku. Aku harap kamu mau.

Namun....kalau kamu menyembunyikan kelingkingmu, aku akan tarik punya ku. Dan berusaha agar kamu gak lakuin itu. Yah, semua harus ada usaha. Hingga aku tak perlu janji lagi. Karena itu sudah menjadi bagian dari kita. YEAH ^^

Pagi hari di sebuah pantai
Yogyakarta
Wulan

Saturday, October 29, 2011

Gelaran arusmu

abu-abu itu terbang sendiri.
kayu itu terbakar sendiri
sesederhana api menghampirinya
sesederhana pertemuan kita

tetes-tetes air itu jatuh sendiri
awan itu menghitam sendiri
sesederhana awan merubah diri menjadi tetes air
sesederhana perubahan kita

aku mnggenggam erat arus sungai itu
aku merekam jelas suara deras air itu
aku menyimpan abu-abu itu
aku menelan tetes-tetes air itu

dan sekarang...

tanpa izinmu...

aku melepas genggaman ku
biarkan aku terbawa arus (dulu)
aku membuang rekaman itu
biarkan aku lupa (dulu)
aku menerbangkan abu-abu itu
biarkan aku tersedak (lagi)
aku memuntahkan air itu
biarkan aku sakit (lagi)

berjayalah lah dalam diam mu
saksikan aku semakin jauh, lupa, tersedak dan sakit

bernyanyilah dalam murka mu
beri irama pada ku yang semakin jauh, lupa, tersedak dan sakit
akan ku beri tanda, bagi setiap luka yang bertambah
lewat gema alam yang kau jamah
hanya untuk sekedar kau tau
aku tak semakin baik (tanpamu)

Keranjang kebenaran

Aku terhenyak mengingat semua, seakan selaksa beban datang seketika ini juga. Sudut terjauh hati ku maju ke depan, lalu menguasai segenap ingatan dan kosong yang sengaja ku buat. Sesuatu yang disebut luka, yang masih tertanam, muncul ke permukaan. Aku maish menyimpannya. Dari dulu, sekarang, dan entah sampai kapan.

Aku merasakan kepergian mu dalam sabarmu yang tak berbatas. Aku merasakan jarak antar hati kita semakin melekat dengan jauh. Tapi tak pernah hilang sore dimana aku mengadu padamu, mengadu apa adanya, yang masih kau adili hingga sekarang atau bahkan hingga mati, nanti.

Aku benci tidak mengerti tentang hati yang dipilih cinta. Aku benci harus mencari-carinya, berusaha biasa, atau harus bagaimana, hingga yang tersisa hanya diam. Diam yang kau anggap penjauhan ku, penghindaranku. Aku hanya berlindung dalam malam, kepercayaan mimpi dan aku.

Diam yang kau anggap permainan ku. Diam yang kau kira dosaku. Diam yang kira semua salah ku. Mungkin kah diam ini karena memang sebaiknya aku tak bicarakan?Semua yang tidak kau ketahui, semua yang kau kira alasan semata. Semua yang kau kira BOHONG! Semua yang kau "kira" tersimpan rapi kebenarannya dalam keranjang yang ku letakan di belakang bahuku. Entah kapan dia akan maju, atau mungkin selamanya akan dibelakang dan aku beranjak ke tanah-tanah yang lain.

Entah pengertian ku yang terlalu luas, atau kau yang hanya bertahan dengan janji. Kita telah menyebrang berlawanan arah dan aku belum sanggup melihat kau pergi, hanya kaku di sisi yang ku pilih.

Thursday, October 27, 2011

Keramaian II

Sebenarnya ini sudah lewat dari jam perjanjian. Saya harus tidur pukul satu maksimal, tapi sekarang hampir mencapai pukul 2.30 pagi. Ah, semoga semua masih baik-baik saja. Termasuk saya, kesehatan saya dan Vio sang laptop kesayangan, dan satu lagi, otak saya, karena akhir-akhir ini saya sering merasa eror sana sini, semenjak tidur pagi selama satu minggu lebih. Tapi saya ingin sekali menulis yang ada di pikirin saya, yang mau meledak.

Saya sudah melepas dia di banyak keramaian, saya sudah melihat keramaian dari tempat paling sepi hanya untuk mengenang yang pernah terjadi dan yang gak akan terulang lagi, apa lagi lebih dari yang terjadi kemarin. Terulang saja tidak. Yah, saya sudah melakukannya. Saya sudah berbuat terhadap yang saya rasakan. Hanya tentang saya.

Masih belum merasa lepas, apakah ini karena belum saya sampaikan dengan apa adanya? Hah...untuk bertemu saja saya urung. Saya hanya merasa nyaman kalau melihatnya dari jauh, tapi kalau bertemu langsung, saya yakin saya memilih mundur. Yah...saya sudah terima ini. Tapi selalu masih belum terasa lepas semua...

Atau ini memang hak dia? Atau hak "rasa" saya untuk diketahui, untuk sekedar diceritakan bahwa dia pernah memilih hati saya untuk merasakannya? Jika memang ya, saya tidak akan bisa mmebayangkan yang terjadi kalau bertemu nanti dan harus mengatakannya. Hati saya masih urung, masih berat. Ataukah ini memang sebaiknya di simpan saja?

Baiklah. Saya mengerti. Ini akan menjadi baik jika mudah saya sampaikan, namun jika hati saya urung, terasa berat, mungkin ini akan berdampak buruk bukan hanya untuk saya dan dia, tapi juga lainnya. Yah...hati memang dipilih, tapi dia tau mana yang terbaik bagi pemiliknya. Sekarang tinggal saya dan usaha saya yang harus sama-sama bertahan.

Senyum-an

Dialog biasa sih. Biasa banget malah. Tapi kalau ini di berikan pada yang memang membutuhkan tertawa untuk keramaian yang di rasa sepi, ini jadi sesuatu.

Aku hanya sedang duduk saja di meja sambil menunggu pesanan datang. Sambil sesekali mengitari pandangan mencari yang menarik, mencari ide untuk berbincang dengan seorang sahabat di depan ku. Dan pesanan datang. Ah...akhirnya haus dan lapar ini ketemu jodohnya juga.

"Cookies milk nya Kakaaa" aku menunjukan kearah temanku.

Dan

"Maaf mba banana milknya gak ada." Padahal aku sudah merasa haus dan lapar yang keterlaluan saat itu. 
"Kenapa gak bilang dari tadi lagi..." ku ucapkan dengan mencampur sedikit tertawa, sedikit gemas, sedikit marah, sedikit kesal, yang penting ekspresi dan nada suaraku tidak jelas.

Dia tersenyum, aku mengkerut.

"Yang ada susu pisang....." sambil meletakan segelas susu pisang dingin di hadapanku. "Selamat menikmati."

Aku mengulum senyum.

Sudah. Itu saja. Biasa. Memang... tapi yang biasa itu aku butuhkan. Dan malam ini, aku tersenyum untuk itu, Aku bahkan mencatatnya. Menulisnya. Seperti malam kemarin, saat ku dengar kabar baik tentang mu Itu alasan ku loncat-loncat girang hari itu.

Inilah yang selalu membuat ku terperangah. Sesuatu yang biasa bisa menjadi yang sangat kita butuhkan, bisa mengubah sesuatu yang lain jadi luar biasa.

Keramaian

Aku memutarkan kepala, menemani mata mengawasi sekitar. Menemani pikiran menemukan sesuatu yang baru. Menciptakan senyum untuk hal-hal baru. Menciptakan cerita untuk setiap penghilanghatan, untuk sebuah tatapan. 

Dan padamu, tak ku berikan sudut pandanganku, sudut pikiranku, sudut senyum ku. Aku melewati mu. Tapi suaramu membuatku memandang mu penuh. Senyum apa adanya, berkata begitu saja, bercerita hingga tentang malamku, menatapa hingga kau menghilang.

Di keramaian aku menemukanmu dari sesuatu yang tak ku rasa ada. 

Kau bawa aku pada keramaian, dan (lagi) di keramaian juga aku dapati hangatnya matamu. Ku dapati rasa ku berubah jadi tak biasa. Dan disetiap aku di keramaian aku merindukanmu. Pulang dengan beban rindu yang berat. Dan kala sepi aku hanya perlu menyadari itu hanya rasa yang harus kuat ku tahan.

Dan dikeramaian aku mengingatmu dengan riang. Aku merindukanmu (lagi) namun sekarang dengan riang, karena telah ku terima bahwa itu hanya rasa yang harus ku tahan (saja). Karena ini lah yang aku butuhkan. Kemudian, aku melepasmu dikeramaian, menarik nafas dalam saat aku mengingatmu, berusaha tersenyum dengan apa adanya, menerima semua. Yah, aku telah melaps mu di banyak keramaian. Ku harap malam ini telah habis.

Karena sudah lama kau pun telah melepas ku di keramaian.

Wednesday, October 26, 2011

Karma

Benarkah dia ada? Akankah dia menghampiri di penjahat yang melakukan tindakan yang membuat seseorang terluka? Atau dia bukan bernama karma? Melainkan cermin? Cermin masa lalu. Cermin yang ada di masa depan namun datang dari masa lalu. Akibat perbuatan kita sendiri.

Ini kah yang di namakan apa yang ditanam, itu yang dinikmati?

Bagaimana dengan cinta? Mungkin kah dia yang dinamakan karma atau balasan akan datang bagi hati yang jujur dengan cintanya yang datang dan pergi? Apakah ini cermin masa lalu itu akan menjadi nyata di masa mendatang?

Bukankah sesuatu yang disebut cinta itu bebas datang kapanpun? Atau memang harus di rawat? Atau di jaga? Jika masih saja dia berterbangan, mungkinkah karena belum ada tempat yang nyaman untuk berhenti?

Benarkah semua kesalahan yang menyakiti hati orang lain akibat "liar"nya cinta adalah tabungan karma untuk masa dpan?

Entahlah...

Tapi yang pasti dia, sesuatu yang disebut cinta itu, datang dan pergi atas pilihannya sendiri. Atas kebebasananya sendiri. Atas pilihannya sendiri. Dan hanya membutuhkan kejujuran hati.

Thursday, October 20, 2011

Saya Ingin Kamu

Saya tidak bisa menggambarkan tentang mu sejelas keberadaan kamu di hati saya.
Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana nanti kita sejeals saya telah merasakanmu saat ini.
Saya tidak bisa memastikan apapun tentang kita sepasti saya tak ingin berbbagi dirimu dengan yang lain.
Saya tidak bisa menggenggap tanganmu seerat genggaman sebuah rasa yang ada pada hati saya.

Saya ingin tiba-tiba berada di suatu tempat bersama kamu, dimana kita hanya perlu memikirkan kita.
Saya ingin semua hal bodoh dan tolol yang kita khayalkan bersama menjadi kenyataan di tempat itu.
Saya ingin kebodohan itu jadi nyata.
Saya ingin permainan ini jadi nyata.

Saya...hanya ingin kamu tau yang saya inginkan itu adalah kamu....


A letter to you... My Vio

Hai Vio sayang...sudah sangat lama kita sama-sama. Awalnya saya liat kamu terpajang manis di sebuah toko elektronik. Seperti jatuh cinta pada pandangan pertama, dan saya jatuh cinta padamu. Lama saya liatin kamu, lama juga saya menyentuh semua yang ada di kamu. Dan saya jatuh cinta. Itu saja. Tak ada yang memilikimu saat itu, tak perlu minta izin untuk meminta, saya membeli mu. Saya jatuh cinta padamu.

Selanjutnya kita lalui hari-hari bersama. Kamu mau nemenin aku begadang ngerjain tugas, online atau hanya sekedar menulis. Kamu juga menjadi media pelepas rindu saya untuk orang-orang tersayang saya yang jauh dari saya. Kamu bersama saya, juga teman-teman saya. Kita telah bersama dan kamu telah jadi milik saya.
Hingga hari itu. Saya tidak tau. Kamu seperti kehabisan nafas dan sistem pernafasan kamu rusak. Baru saja kamu ingin tersenyum pada saya saat saya menekan tombol on, kamu sudah redup dan mati. Begitu terus. Kamu tau?saat itu saya begitu takut, begitu cemas, saya sangat takut tidak bisa bersama kamu lagi. Saya sudah cinta dengan kamu. Itu saja. Cukup kamu. Saya memang tergiur dengan yang lain, lebih canggih dari kamu, tapi saya hanya ingin bersama kamu selamanya, hingga suatu hari memang saatnya kamu istirahat selamanya. Demikian saya telah mencintai kamu. Sungguh!

Saya membawamu ke tempat dimana dulu kamu tinggal. Mereka bilang kamu harus tinggal untuk waktu yang cukup lama. Kamu harus menempuh perjalanan cukup jauh. Karena sistem pernafasanmu tak ada di Negri ku. Kamu tau? Saya sangat sedih saat itu. Saya kehilangan sesuatu yang saya cintai untuk beberapa waktu. Apapun yang menjadi penggantimu saat itu tak mampu mengobati rindu saya padamu. Saya hanya ingin kamu. Utuh. Tak kurang satu apapun. Dan tiga bulan berlalu, kamu kembali. Kamu tau? saya begitu senang kamu kembali. Saya peluk dan cium kamu, semalaman kita bersama, setelah berbulan kita berpisah.

Sekarang...saya gak tau kamu kenapa. Baru saja saya ingin memulai kebersamaan denganmu. Kamu bersuara tak enak dan kamu mati. Begitu saja. Hari pertama seperti itu saya takut sekali. Saya sangat takut. Takut kamu akan pergi lama lagi atau pergi selamanya. Ah, saya tidak akan bisa melepasmu begitu saja. Saya masih sangat cinta kamu.

Saya mencoba membawamu kepada teman saya yang memang terbiasa menangani sesuatu sejenis kamu. Ada bagian dari diri kamu yang sepertinya sedang mengalami sakit. Dia coba mengobati, dan kemarin kamu sehat. Kamu tau?Saya sangat lega. Lega sekali. Dan hari ini, baru saja tadi, kamu redup lagi dan mati lagi. Aku menuliskan ini semua pada dirimu, aku posting di situs blog ku yang siapapun dapat membacanya. Dan aku harap kamu juga tau. Aku cemas dengan keadaanmu, dan berharap kamu sembuh. Benar-benar sembuh.

Kamu harus tau bahwa saya tak ingin menggantimu.Secanggih apapun sesuatu sejenis mu yang ada di luar sana. Saya benar-benar telah mencintai kamu. Sungguh. Kamu harus percaya. Meskipun kadang gak sengaja saya menyentuh mu dengan kasar atau beberap waktu tidak menyentuhmu. Tapi percayalah, setiap hari saya selalu mengingatmu.

Saya gak mau kamu pergi lagi untuk waktu lama. Satu hari saja kamu di tempat teman saya kemarin membuat malam semakin gelap. Saya mau kamu selalu ada di sini Vio. Di sisi saya, selamanya. Satu hal yang tak pernah saya lupa. Suatu malam saat saya mengalami malam yang buruk. Kamu di samping saya, duduk di atas meja kecil saya. Menemani saya, tak beranjak tak juga rewel. dan setelah itu saya selalu menghargai kebersamaan kita. Saya sangat mencintai kamu. Itu saja.

Yah, hanya itu Vio, hanya itu ungkapan hati saya. Semoga di bagian terdalam kamu, dapat mendengar ini dan menyampaikan pada sistemmu yang sakit bahwa sangat mengharapkan dan berdoa untuk kesembuhanmu. Saya pun telah menyampaikan isi hati saya sebenarnya. Semoga bagian terdalam kamu dapat merasakannya dan memberi energi yang besar untuk mu terus sehat dan hidup.

Maharani yang mencintaimu.
Kotagede Jogjakarta

Jatuh Cinta V

Sudah lama bersama, lalu berpisah cukup lama, bertemu lagi, bersmaa, bernostalgia. Dan....tumbuhlah cinta itu, jatuhlah hati itu. Merasakan hal yang sama bersama. Sudah sama-sama mapan, berencana untuk serius, lalu komitmen, pertemuan dengan orang tua masing-masing, menentukan tanggal. Dan hari itu jadi hari b bersejarah.

Atau hanya satu pihak saja yang tumbuh cintanya? Sudahlah... masih bisa bertemu dengan pertemuan lainnya. ^^

Jatuh Cinta IV

Sudah biasa bersama. Di organisasi, di kelas, di kegiatan, di kehidupan sehari-hari.
Sudah biasa melihatnya, memperhatikannya.
Suda biasa, sudah lama...
Lalu...
Cinta itu ada, tumbuh, bersamaan.
Mengungkapkan, sama-sama mengaku miliki rasa yang sama.
Dan...hidup bahagia. atau kandas di tengah jalan. Pilihan.

Atau tak berbalas. Terus berusaha dan akhirnya bisa juga bersama.

Dan terus berusaha dan tak juga dapat. Saatnya bangun, berdiri, tegak, menatap ke depan. Cinta memang bisa tumbuh dengan pertemuan yang sering. Tumbuh yang subur, lama dan terus menerus tumbuh. Tapi...ada saatnya itu memang harus berhenti.

Jatuh Cinta III

Jatuh cinta menyebalkan!!! Menyakitkan!!! Mengerikan!!!

Jatuh cinta dengan dia yang sudah lama bersama kita, sudah sering bercerita berdua dengan kita, jatuh cinta dengan dia yang selalu ngadu dengan kita, jatuh cinta dengan dia yang sekarang sudah bersama orang lain dan kita baru sadar. Atau....kita menyesal karena belum mengungkapkannya. Dan dia? Dia sudah bahagia dengan pilihannya.

Hanya karena kita terlambat menyadarinya. Hanya karena kita terlambat mengungkapkannya. 

Memang, tak pasti juga kalau kita tak terlambat, pun di ajadi milik kita. Tapi setidaknya dia sudah tau dengan keadaan dia yang masih sendiri, sering bersama kita, atau setidaknya kita telah melakukan hal yang adil untuk cinta yang kita rasakan.

Tapi kali ini....seakan waktu tak memberi sejengkal pun kesempatan. Dan...berdirilah, tegaklah, terimalah, jalanilah. Karena besok mathari masih ada, kau masih punya waktu untu adil pada hidup dan dirimu sendiri.

Jatuh Cinta II

Biasa..... adik kelas yang tertarik dengan kepopuleran kaka kelas.

Biasa....teman sekelas yang terkesan dengan kecerdasan seseorang yang duduk pendiam di pojok kelas sana.

Biasa...anak kelas sebelah yang seneng dengan temen sebelah yang jago main gitar.

Biasa...adik/kelas yang suka dengan wajah canti/ganteng adik/kakak kelas.

Jatuh cinta karena alasan yang mengesankan. Fisik, otak, kepopuleran, bakat, tongkrongan. hal-hal yang terlihat langsung, seketika dna cepat.

Ada yang bisa bertahan sampai nanti, ada yang baru juga mulai udah kandas langsung. Semua tergantung bagaimana mereka menyikapi cinta yang sedang mereka tanam sendiri. Di rawat, di jaga, di sayang. Atau di biarkan begitu saja. Kering dan mati.

Jatuh Cinta I

Gak pernah bosen dan jarang jadi sesuatu yang garing kalo uda ngomongin tentang cinta-cinta-an, apa lagi kalo cerita baru, seperti baru jatuh cinta, baru putus, baru tunangan, baru..ah pokoknya serba baru. Subjeknya berbeda dan bat cerita itu pun jadi berasa beda. Meskipun muaranya sama saja. Bahagia dan Sedih. Suka dan Duka. Hitam dan Putih. Dua sisi berlainan dari hidup namun selalu bersama-sama. 

Dan kali ini, adalah tentang jatuh cinta yang punya banyak cerita dan selalu ada saja yang baru, yang ingin tau, dan seru. Meskipun ada yang mencemooh, benci dan jengkel. Tapi cinta itu seperti mimpi, kebutuhan penting dalam hidup.

Jatuh Cinta I

Pertemuan dua orang yang berniat untuk menambah daftar teman, kumpulan cerita dan memenuhi gudang-gudang pengalaman dari orang lain emnghabiskan waktu bersama untuk saling berkenalan. Lalu, berlanjut hungga ke pertemuan selanjutnya.

Salah satu merasakan perasaan yang berbeda dari yang biasa. Ingin selalu bertemu, ingin selalu tau kabar, penasaran tentang dia lebih jauh lagi. Senyum-senyum sendiri mengingat dia. Senang di hubungi olehnya, menunggu ajakan-ajkana selanjutnya.

Jatuh cinta yang singkat. Cinta kah?Oh mungkin hanya perasaan suak dan tertarik. Namun ini, kalau di teruskan dan tiak disikapi bijaksana bija menjadi penyakit yang mengganggu hidup. Bikin galau yang datang tiba-tiba. Perasaan sesak penuh tanda tanya. Lalu?

Kita hanya perlu mengucapkannya, mengungkapkannya, bahwa kita inign selalu tau kabarnya, inign memutari kota ini bersama dia, ingin menghabiskan akhir pekan dengannya, karena ada rasa rindu yang dalam di sini. Sangat menyenangkan kalau dia ternyata menginginkan hal yang sama. Kalau tidak?

Kembali lagi, harus bijaksana, harus sayang dengan hati sendiri, pikiran sendiri, gak boleh egois mempertahankan cinta. Ada kalanya cinta hanya bisa di rasakan tidak di sambut. Dia bukan orang yang pantas untuk kau titipkan hatimu. Itu saja.

Bukan!!! Bukan cari lagi yang lain secepat ka jatuh cinta padanya. Cukup rasakan dan terima saja kalau memang dia tidak menginginkan hal yang sama. Biarkan waktu memberi mu ruang, keistimewaan untukmu, sma seperti saat waktu mengizinkan kau bertemu dengannya.

Ini memang susah, tapi pasti bisa.

Tuesday, October 18, 2011

Bau Hujan

Sekarang sedang hujan. Tepat di satu hari setelah satu bulan aku di sini. Di Jogjakarta. Bau nya. Baunya menusuk hidung. Bau kering yang di sirami beningnya air dari langit. Cuma sebentar dan sekrang hanya tinggal sisanya. Tak apa, yang penting aku mencium baunya, merasakan basahnya.

Sekarang, setelah hujan. Baunya masih tinggal. Aku rekam. Aku simpan. Dan jika datang lagi, aku akan tau itu adalah bau hujan. Bau yang menguasai suasana hati ku, yang ku intip dari balik lubang hatiku. Dan kau tutupi dengan kedamaian.

Sekarang, kering lagi. Basahnya hanya mengurangi sedikit kering. Mengendapkan segelintir debu. Namun masih sejuk, walau sedikit. Bau hujan hanya tersisa sedikit. Sudah semakin jauh. Namun tidak ku lupakan dan tidak meninggalkanku. Hanya pergi berbagi ke tempat lain. SEPERTI KAMU.

Monday, October 17, 2011

A Soul Mate

Aku mendengarkan kau bercerita dan berbagi banyak hal
Aku mendengarkan kau berpendapat tentang berbagai hal
Aku melihat kau berbicara, tertawa dan geram
Aku melihat kau berjalan dan apa adanya dirimu

Kesederhanaan, idealis, dan sungguh apa adanya
Baik, tanpa pamrih, dan sungguh apa adanya
Lucu, tanpa paksaan, dan sungguh apanya
Sabar, aneh, dan sungguh apa adanya

Ah, aku terlalu sulit mendeskripsikanmu.
Aku hanya senang kau utuh
Apa adanya dirimu
Tak peduli tentang serpihan yang ada pada dirimu

Bau hujan ada padamu
Menyenangkan
Cerah ada padamu
Menghapus sedih

Dan aku tidak akan tau bagaimana.
Kalau kau menjadi pilihan orang lain
Kau juga memilihnya
Kau utuh dimilikinya

Aku, lebih baik berbagi dirimu dengan mereka
Daripada melihatmu utuh dimiliki satu orang
Mendengar kau bercerita tentang yang lain
Cukup membuat ku geram


Ntahlah akan bagaimana,
saat ini yang aku tau,
aku tak mau itu terjadi,
belahan jiwa.

Kapan terakhir kali jalan berdua dengan Ayah?

Dulu, saat belum mengenal naksir-naksiran sama temen cowok. Saat masih begitu bergantung dengan mama dan ayah. Saat belum ada geng di sekolah. Saat masih bertanya PR dengan mama dan ayah. Aku selalu girang berjalan berdua dengan mama atau ayah. Meminta bantuan mereka untuk urusan sekolah, Urusan apapun itu.

Sampai saat ini pun aku masih ingat detailnya. Siang itu panas matahari begitu terik. Ayah mengendarai motor di jalanan sepi dan sempit. Jalanan menuju luar kota Tungkal, demi memenuhi kebutuhan sekolah ku. Mencari tanaman yang ku mau untuk tugas sekolah. Aku bermain-main di boncengan. Tangan ku liar ke sana kemari dan setiap menit ayah bilang "pegangan Wulan."

Saat siang mendekati sore. Aku sibuk minta di ajak jalan memutari kota. Senang melihat apa yang terjadi di kota kecil itu saat sore. Saat pagi, aku membututi ayah atau mama jalan subuh. Berjalan pegangan tangan beriringan. Saat itu begitu senang dan girang. Aku diceritakan banyak hal dan aku bertanya banyak hal.

Waktu tanpa ampun terus maju. Aku bertemu bermacam pergaulan, bertemu temen, bertemu cinta, bertemu gengsi. Dimana bergantung pada orang tua adalah sesuatu yang "gak asik". Perlahan berubah. Aku memnuhi kebutuhan sekolah bersama temen-temen. Memenuhi kebutuhan lain bersama teman. Terlebih saat telah mengenal cinta. Hanya kebersamaan dengannya yang aku tunggu. Tidak lagi merengek dengan mama atau ayah minta di ajak jalan.

Dan tadi...di perjalanan menuju Ketep Pass bersama seorang sahabat, tiba-tiba aku teringat ayah saat melihat dia sedang menyetir motor. Tiba-tiba rindu itu datang. Tiba-tiba teringat ayah yang selalu bilang "pegangan Wulan" saat membonceng aku. Dan tiba-tiba, aku menangis. Aku begitu rindu masa itu. Takut itu tak akan terjadi lagi.

Ayah, dulu aku memang malu kalau jalan denganmu, malu kalau bergantung padamu. Tapi sekarang, saat waktuku banyak tersita dengan kesibukan bersama temen, cinta, kampus dan lain-lain, aku merindukan jalan-jalan denganmu. Aku rindu bercerita denganmu. Aku rindu. Dan pasti aku tidak malu lagi.

Ada banyak hal mengesankan yang kau berikan dalam hidupku. Saat kau berlari sekencang mungkin menuju apotek saat tanganku terbakar petasan. Saat kau tanpa baju menyusul aku yang tercebur di kolam. Saat kau antarkan makan ke kamar ku ketika aku dihinggapi keegoisan untuk ngambek. Ketika kau bertanya "bagimana kuliahmu Lan?". Ada banyak sekali ayah yang aku rekam di sini, aku simpan rapi dalam memori ku.

Kelak nanti,ketika waktu semakin bergerak maju, ketika fase kehidupan ku akan berubah. Aku ingin berjalan berdua denganmu ayah. Aku ingin bercerita denganmu. Aku ingin berpegangan tangan denganmu. Aku ingin berterima kasih denganmu. Aku ingin meminta maaf denganmu. Aku ingin berdua denganmu, bersama mengenangnya. Dan semoga waktu masih berbaik hati mengizinkan itu terjadi. Aku tulis catatan ini bersama rasa takutku kehilanganmu ayah. Sangat teramat takut.

Maharani yang merindukanmu

17 Oktober 2011, Ketep Pass

Sunday, October 16, 2011

Saat ini

Saat-saat seperti ini, saat di tanya apakah aku baik-baik saja. Aku sedikit bingung untuk menjawabnya. APa spesifikasi yang mereka tanyakan?Fisik ku atau batin ku? Fisik ku hanya sesekali merasa sakit, entah darimana sumbernya, aku abaikan. Sugesti ku aku sehat. Batin ku? AKu bahagia, aku tertawa, aku menangis, aku..yah aku merasakan itu semua di antara dua rasa Jatuh Hati dan Patah Hati, keduanya datang berasamaan. Lalu baik kah batin ku?

Saat aku menjawab baik-baik saja, sedikit sisi hatiku protes. "Hey kau sedang patah" demikian katanya. Namun saat ku bilang buruk, hati ku berbisik lembut "lihat akibat ptaha hatimu sayang" demikian katanya. Yah, patah hati ini membuat aku menulis lebih banyak, meski tak semua mempesona yang membaca tapi setidaknya ada hasil untuk tiap harinya.

Apakah membosankan tentang itu dan itu lagi? Tidak! Tidak itu dan itu lagi. Aku memadukannya, aku memadukan rasa syukur dan patah hati, marah dan patah hati, ikhlas dan patah hati, dan jatuh hati pada diriku sendiri yang lebih membahagiakan.

Baru tadi aku marah lagi. Sudah patah hati, rindu tertahan lagi. Betapa menyakitkan keduanya. Tapi sekarang aku sudah mmebaik lagi. Yah, aku membaik lagi setelah selesai menulis beberapa bait tentang marah ku. Meluap kah dia? Tidak, hanay terungkap kan dengan cara lain. Dan aku, begitu mensyukuri ini, meskipun patah hati. ^^


Lampu

Sudah berlari, bermain air.
Suda berlari, berteriak.


Balik lagi, bermain air lagi.
Balik lagi, berteriak lagi.


Lelah.
Lemah.


Aku berjalan pulang, melihat ke belakang.
Diam, hening, diam, menarik nafas. SAKIT.


Aku masih rindu kamu.
Aku masih ingin bertemu.


Tak bisa ku lempar pada ombak.
Tak bisa ku buang pada pantai.


Kenapa kau masih saja ribut di sini
Sedang nyata kau sibuk sendiri di sana.

Saturday, October 15, 2011

Gagah mu

Kicauan mu semakin jauh
Namun wajah mu ku dekap
Tatapan mu semakin redup
Namun tangan mu ku genggam


Masih gagah kau berdiri di ujung utara
Masih gagah kau berkobar di balik selatan
Hanya ku lihat dari sini
Hanya ku dengar dari sini


Entah kapan waktunya
Aku datang padamu
Entah kapan waktunya
Kau menyambutku


Rindu ku selalu seru, merebut ingin tapaki tanahmu

Bangun dengan matahri

Tidur bersama sinar matahari pagi
Bangun lagi bersama teriknya
Mendaftarkan diri pada mimpi
Ingin bertemu mu di sana


Ku telusuri dinginnya air
Ku siram penuh peluh
Kembali pada maya
Kembali melihatmu tersadar


Aku mundur dulu
Berbicara pada dunia (lagi)
Aku mundur dulu
Mengadu pada pantai (lagi)

Terima Kasih

Terima kasih untuk kamu yang mau tersenyum dengan keputusan aku meskipun itu menyakiti kamu.
Terima kasih untuk waktu yang sudah kita lalui sama-sama, ada suka dukanya.
Maaf untuk semua hal buruk yang sudah aku berikan.
Maaf telah gagal berusaha menetapkan hati bersamamu.
Maaf untuk tangisan perpisahan yang tak bertahan lama.

Kadang terasa begitu berat untuk memutuskan sesuatu yang pasti akan menyakiti hati seseorang. Tapi adalah hal yang tidak mungkin untuk menyenangkan hati semua orang. Karena khilaf serta pandangan yang berbeda akan jadi alasan mendasar. Namun lebih salah lagi membahagiakan seseorang yang benar-benar menginginkan kita dengan kebohongan dan usaha yang ternyata dihalangi oleh hati kita sendiri.

Sebuah keputusan bisa memberikan dampak penyesalan dan rasa syukur. Diantara keduanya kita hanya menginginkan yang terbaik. Semoga muaranya adalah rasa syukur. Karena apa yang terjadi sekarang, apa yang kita ikhlaskan sekarang, apa yang kita yakini sekarang merupakan sebab untuk hari esok.

Terima kasih "waktu" akhirnya aku berani melakukan ini.

Tidak Berjuang

Mau memaksa menulis tapi sudah tak dapat lagi merangkai yang panuh makna dan berarti. Tubuh sudah sangat lelah, seharian penuh di paksa beraktivitas. Ada yang menyenangkan ada yang tidak. Seperti harus ke kampus hari ini. Selebihnya hanya duduk diam di boncengan ikuti arah laju motor yang dikemudikan teman, melakukan wisata kuliner. Lalu makan dengan kurang bersemangat karena kram pada perut. Hal rutin tiap bulan untuk perempuan ( Kok jadi cerita makan?). Sudah mulai tidak konsen.

Yah, pada akhirnya harus sign out dan memejamkan mata. Berhenti sejenak menulis dini hari ini.

Sama seperti ... seperti aku berhenti untuk berjuang, bahkan sebelum perjuangan itu di mulai. Tadi aku ke toko buka. Membaca sinopsis singkat sebuah novel di cover bagian belakang. Tak begitu ingat runutan tulisannya tapi intinya "cinta itu begitu pantas untuk diperjuangkan". Yah, emang pantas dan layak. Jika diletakan pada hati yang benar dan juga pantas.

Aku memilih tidak memulai berjuang, karena menyadari aku meletakan cinta ini pada orang yang (bukan tidak benar dan tidak pantas) salah. Aku memilih mundur. Yah... cinta memang sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan, tapi ketika itu memberikan "patah dan sakit" tidak hanya untuk mu namun juga banyak hati, apa kah masih layak? ada kalanya cinta menjadi pantas hanya untuk diterbangkan dan di ceritakan begitu saja pada dunia. Sebagimana dia ada apa adanya. Ala kadarnya. Dengan kesederhanaannya. Dengan pilihannya. Dengan pelajaran yang di berikannya. Dan dengan setiap kejuatannya. 


Pasangan Jatuh Cinta dan Patah Hati.

Apakah aku benar-benar patah tentang perasaan ini? Tentang perasaan yang hanya aku ungkapkan dengan keegoisan kata-kata. Tak ingin dia begitu tau tentang yang telah aku rasa, tentang yang begitu cepat telah terjadi. Menyembunyikannya dengan tetap bersikap biasa saat berbicara namun bisa ku rasakan dia tau.

Apakah aku benar-benar patah tentang perasaan ini? Ketika informasi tentang dirimu mengabarkan hatimu telah bercinta dengan yang lain sementara kau masih sibuk membunuh waktu bosan mu dengan ku yang tak tau apa yang nyata terjadi sebelumnya dan saat itu. 

Apakah aku benar-benar patah tentang perasaan ini?Ketika lambat laun kau pergi dari hidupku dalam kurungan waktu yang singkat. Dan benarkah singkat juga waktu akan mengurung  perasaan ini? Atau aku akan terkungkung lama? Ini masih terjadi, aku masih belum tau.

Dan ketika aku melihat figura mu lagi, memastikan perasaanku saat melihatnya. Ada rindu, ada marah, ada ketulusan berbagi, ada keinginan membantu, ada suka dan tiba pada "tidak ada apa apa." Aku meyakinkan lah, kembali pada rindu (sesaat) lalu "tidak ada apa apa" lagi. Biasa. Lalu benarkah aku masih benar-benar patah?

Dan ketika ku lewati jalan-jalan dimana aku pernah bersama mu kemarin, aku kembali teringat tiap jengkal perbincangan kita. Lalu sangat ingin itu terulang lagi. Rindu kah ini? Kembali aku ingin melihat gaya jalan bodoh mu. Rindu kah ini? Atau hanya keinginan yang ala kadarnya saja?

Aku masih ingin bertanya banyak. Namun satu pun belum terjawab hingga sekarang. Urung dan ku simpan semua. Lalu kemana akhirnya rasa ini? Benarkah ini jatuh cinta lalu patah hati? Yang ku terima satu paket dalam waktu yang singkat. Atau hanya perasaan meriah sesaat saja?

Jatuh cinta dan patah hati. Keduanya memasangkan diri begitu cepat saat ini. Tanpa perlu pendekatan, sama sepertiku yang begitu saja merasakan rindu padamu, yang begitu saja cinta padamu tanpa alasan, tanpa pendekatan. Lalu mana yang nomor satu? Aku pada dirimu kah?Atau jatuh cinta pada patah hati? 

Sudah terjadi, sudah lewat, tak bisa kembali. Itu saja. Tak peduli itu sungguhan patah hati atau sungguhan jatuh cinta. Tapi aku merasakan keduanya. Penuh kupu-kupu di perut, dan penuh sesak di dada. Demikian sudah terlewati. Dan ya sudahlah.

Pesan itu telah ku terima, Tuhan

Aku melenakan diri dengan bahagia yang tak berarti ke arah-Mu.
Aku menyakiti hati dengan sengaja yang tak memohon pada-Mu.


Aku menerima hasil yang melukai hati Dewa dan Dewi.
Aku mendapati hari telah berlalu dan ternyata kemarin tak berisi.


Aku melihat diriku hanya mematung satu bulan kemarin.
Aku melihat diriku hanya diam sendiri satu bulan kemarin.


Aku banyak bertanya tentang satu hari sebelum satu bulan kemarin.
Aku banyak mengira-ngira tentang satu hari setelah satu bulan kemarin.


Dan nyatanya itu hanya sesuatu paling biasa dari banyak hal biasa yang ku temui.
Dan nyata itu hanya yang tak berarti dari yang memiliki arti yang ku miliki.


Akan ku potong kompas, menghapus satu bulan kemarin.
Aku mendapati pesannya Tuhan...

Patah kata si Patah Hati

Aku menulis menghindari mati.
Aku menulis menghindari patah bertubi.
Aku menulis menghindari perih berapi-api.
Aku menulis menghindari sendiri memakan diri.


Aku mencakar banyak langit ceritamu
mencari cintamu
tapi dinding kakumu menemui ku


Aku menerkam banyak kulit hari
mencari hatimu
tapi kaku diam dinding mu memelukku


Hantam, menahan, menangis, menerima
Menangis, menerima, hantam ,marah
Hingga bertemu reda
Tapi masih berulang


Ambil semua saat ini hei Patah
Rangkul seutuhnya saat ini hei Sakit
Peluk sekuat mungkin saat ini hei Perih


Setelah puas kau lumuri darahnya pada hatiku
Lepaskan, bebaskan, terbangkan aku.

Dialog sederhana II

Duduklah sepasang kekasih di taman sebuah kampus. Berdua mereka memandang gedung kampus empat tingkat di depan taman. Seorang Office Girl sedang mengepal lantai kotor akibat hujan seharian ini. Tiba-tiba pembicaraan tentang pelajar terhenti.
"Yang, office girl-nya mirip kamu deh" potong si cowok tiba-tiba, dengan polos.
Si cewek terdiam. Mengerutkan kening. Lalu meletakan buku di bangku dan pergi begitu saja.
Dong!!!! Si cowok bingung. Membereskan buku-buku dan mengejar si cewek dengan langkah biasa. Dia sudah tau kemana si cewek akan pergi. Pulang.
"Kamu mau pulang? kan masih ada kelas setengah jam lagi" kata si cowok saat berhasil mensejajari langkah cepat penuh amarah si cewek.
"Bodo!" ci cewek jutek.
"Apa yang buat kamu marah?" Lima bulan bersama cukup untuk memahami si cewek kalau sedang marah.
Cewek bergeming.
Si cowok teringat pembicaraan terakhir. Tiba-tiba dia menahan bahu si cewek. Lalu dengan sedikit memaksa, di hadapakannya wajah cewek tepat di hadapannya. Si cewek pun tak banyak menolak.
"Sayang...(tersenyum) masa office girl gak boleh secantik kamu?"
Cewek: tersenyum manja.

Si cewek senyum manja minta tabok!!! (penulis geram)

Dialog sederhana

"Ya tapi kenapa juga kamu gak ngasih kabar seenaknya gini." Jutek seorang cowok.
"Aku ribet kalo sambil megang hp, nah pas free aku pake buat istirahat total, aku bener-bener cape." Lembut seorang cewek.
"Cuma sekali ngirim pesan ngasih kabar gak bisa? kamu bener-bener gak inget aku ha?" Masih jutek seorang cowok.
"Aku lupa....." Pasrah sang cewek.
"Ohh...gampang ya buat kamu lupa. Kamu udah buat janji mau ketemu, aku nungguin sampe lumutan dan besoknya baru kamu bilang dengan alasan lupa...." Potong si cowok.
"Aku gak bilang lupa, aku cuma....." Semakin melemah si cewek.
"Itu namanya lupa!" Potong cowok lagi.
Sang cewek menatap si cowok dengan hati dan fisiknya yang masih lelah sisa semalam mengambil jam lembur tiba-tiba untuk menggantikan temannya di sebuah cafe. Cewek menatap dengan kedalaman perasaannya, betapa berharganya seseorang yang ada di hadapannya saat ini.
"Butuh ratusan hari untuk bisa bersama kamu, banyak cerita yang harus aku lalui. Bahkan sampe di fase aku berpikir saat aku berhenti perjuangin kamu hingga akhirnya ikhlas itu lah yang membawa kamu untuk aku. Apa hanya karena ini kita harus nodai yang sudah kita perjuangin?"
Si cowok meredupkan tatapannya.Mengembalikan ingatan sebentar ke dua tahun silam. Pada hari-hari penuh cerita yang tanpa sadar telah dia lalui dengan seorang yang dianggapnya tak berarti, hingga dia harus berjuanga dengan takut dan sadar yang terlambat untuk mengembalikan sang cewek pada hari-harinya.
"Aku cuma gak bisa lalui hari tanpa cerita dan kabar kamu lagi...." Si cowok lembut.
Sang cewek tersenyum dan "gak akan...aku akan selalu ada walau hanya sekedar bersyukur untuk hari yang ku lalui dengan masih bersamamu"

Friday, October 14, 2011

Hati ku

Ada sesuatu yang aneh yang sering aku lakukan, mungkin lebih tepatnya sesuatu yang bodoh. Sering kali aku memaksa hati ku merasakan sakit yang sebenarnya bisa saja aku lupakan dengan melakukan hal lain. Atau hanya dngan menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Tapi ternyata dan nyatanya, setelah itu aku ingin menulis, aku ingin menghasilkan sesuatu dari sakit itu, agar semua tertuang sesuai yang aku rasa tanpa ada kata yang sendirinya aku tidak merasakan.

Mungkin yang membuat ku setelah itu bisa berubah sangat berbeda dari rasa yang sebelumnya, dari yang menangis, bahkan hingga tertidur, menangis berjam-jam menghabiskan berlembar-lembar tisyu, menangis ditemani lagu-lagu mellow yang mendukung suasan hati atau malah bisa melebih-lebih ka suasana. Menjadi aku yang kembali bisa tertawa, bergurau atau bahkan menghibur yang lainnya.

Semua ini hanya untuk aku rasakan sepenuhnya agar besok tak terulang lagi, dan aku bisa tersenyum atau mungkin bangga dengan apa yang ku tulis dengan hati saat itu. Karena, hati ku terlalu berharga untuk sakit yang berulang kali, untuk remuk berulang kali, untuk merasakan patah berulang atau tersudut sendiri berkali-kali. Hati ini bagian hidup ku, bukan rasa yang kurasakan  untuk yang mematahkan nya sejenak yang sebenarnya bagian hidup ku. Tapi seutuhnya hatiku. Untuk itu aku harus menjaganya. Tidak membiarkannya merasa sakit berulang kali karena menyimpan rasa yang di kira adalah bagian dari hidup sang pemilik, padahal  jelas itu yang menusuk.

Dan ketika ketulusan dan keikhlasan dengan patah yang telah terjadi, perlahan hati akan membentuk diirnya lagi, seiring dengan izin sang pemilik yang ikhlas menerbangkan rasanya yang dengan tulus hadir meski tak berbalas, terbang tinggi. Lalu membentuk lagi hati yang baru yang lebih indah, lebih manis dan ceria ^^. Dan selamat datang hari dengan hati yang baru. 

Aku berbeda

Aku benci ketika kau menganggap aku sama dengan cerita-cerita mu yang dulu, aku ini beda, aku berbeda, tak sama. CAMKAN!!
Aku benci ketika kau samakan aku dengan yang lain, aku ini beda, aku berbeda, tak sama, CAMKAN!!!
Aku benci ketika kau memperlakukan ku sama, aku ini beda, aku berbeda, tak sama, CAMKAN!!!
Aku benci ketika kau kira akan sama aku dengan yang lainnya, aku ini beda, aku berbeda, tak sama, CAMKAN!!!

Kau bahkan belum tau aku
Kau bahkan belum mengenalku

Kau tak mencoba cara ku
Kau tak merasakan rasa ku
Karena itu kau tidak tau
Karena itu kau sama kan saja

Lebih baik diam daripada kau menyesal
Lebih baik lupakan daripada kau menyesal
Lebih baik pergi daripada kau menyesal
Lebih baik tinggalkan daripada kau menyesal

Sedikit saja kau tau perbedaan ku untuk masa depanmu
Sedikit saja kau tau perbedaan ku untuk kesuksesanmu
Sedikit saja kau tau perbedaan ku untuk hidupmu
Sedikit saja kau tau perbedaan ku untuk cita-citamu

Maka luruh hancur remuk apa yang sudah kau kira
dan hanya tinggal menyesal, KARENA AKU INI BEDA, AKU BERBEDA, TAK SAMA, CAMKAN!!!

Sunday, October 9, 2011

"Dia melakukan apa yang dia katakan"

Hei boy...aku beberkan sebuah rahasia yang dapat membuatmu menjadi pria paling bahagia suatu hari nanti karena di cintai setulus hati oleh wanita yang berhati mulia (semoga).

Enjoy....

Tak dapat dipungkiri, materi adalah hal yang sangat menggiurkan. Cowok bermobil, baju branded, sepatu keren, jam tangan mahal, gasper cute, celana keren dan wajah tampan. Wow, itu idaman banget. Di bawa-bawa kemana-mana bakal jadi kebanggan buat cewek yang (mungkin) beruntung mendapatkannya. Okelah, itu hal luar yang pertama kali di tangkep. Kami pun juga melihat pertama kali dari wajah, gak perlu ribet untuk cari-cari alasan, kalian pun pasti juga begitu di tambah lagi bentuk tubuh, Ya ka????? Wajar lah, karena yang pertama kali kita tau ya memang wajah, bukan sifat toh?

Setelah kenal, ternyata tu cowok cerdas yang kalau di ajak ngobrol bakal  nyambung banget (ini bagi cewek yang juga cerdas tentunya), terus bakatnya yang bisa show up, seperti jago main gitar, jago ngoong, jago drum, jago nyanyi, main piano, ah pokoknya ada punya keahlian lah plus tongkrongannya yang GAUL abis. Udah deh ini mah namanya lengkap banget. Persis kayak di sinema Korea sana. Aduhai, senangnya bersama mereka...^^ Congrats for a girl who gets this kind of guy.


Aku sudah lama memperhatikan juga mempelajari tentang perempuan luar biasa yang menginspirasi lelakinya (re:suami) untuk menjadi besar. Pengusaha-pengusaha, para motivator, ahli politik, juga penulis buku. Beberapa dari mereka tak mengawali hubungan sejak mereka sukses, mereka mengawali dari bawah, bersama-bersama. Apa yang membuat seorang cowok berwajah dan dompet pas-pas an bisa mendapatkan cewek yang cantik dan pinter saat itu? 

"Dia melakukan apa yang di katakan" jawab seorang istri pengusaha sukses.

Ini tentu tentang hal-hal baik, impian baik, keinginan baik dan rencana ke depan yang baik.

Sering sekali aku mendengar curhatan dari sahabat yang mengeluhkan cowoknya berlaku tidak sesuai dengan apa yang dia katakan dulu, tidak melakukan apa yang di janjikan kemarin, berubah sifatnya dari yang pertama jadian dulu. Bukan hanya sahabat ku, tapi juga aku. Bukan juga sekali aku bertemu cowok yang hari ini berlaku tidak sesuai dengan yang dia katakan kemarin. Okey, skip! Anggap saja tidak penting lagi. 

Kenapa ini jadi hal menarik, karena ini tentu berhubungan dengan masa depan si cewek. Bagaimana bisa bertahan selamanya dengan cowok yang gak bisa pegang apa yang dia katakan. Ada satu kalimat yang tajam, yang pernah ku dengar dari seorang cowok yang benar-benar tau apa yang dia katakan dan berusaha untuk membuatnya jadi kenyataan. 

"Seseorang itu yang bisa dipegang ya omongannya"

Tentu bukan hanya masalah "bisa pegang omongan", tetapi juga agamanya, prilakunya, prinsip dan banyak hal lain yang juga jadi pertimbangan. Tapi, cowok yang omongannya bisa di pegang tentu mengerti benar tentang menepati janji, tidak berbohong, jujur dan bekerja keras yang juga di ajarkan oleh agama. Untuk hal-hal lainnya itu menjadi urusan pribadi bagi sang cewek. 

Aku dan beberapa sahabat cewek ku dan aku rasa juga cewek-cewek baik di luar sana, mengingat dan merekam dengan baik semua ucapan dan rencana baik pujaan hatinya. Ada yang menagihnya terus-terusan, namun ada juga yang hanya menyimpannya dalam hati, dalam diary, dalam note handphone, membacanya berulang kali, berharap waktu itu cepat datang. Saat dimana apa yang cowok ucapkan menajdi nyata.

Yeah...kami memang suka gombal, meski sebenarnya kami tau itu hanya untuk menyenangkan kami. Tapi cewek, tentu kecewa dengan cowoknya yang ternyata hanya mengatakan hal-hal kosong untuknya. Semoga saja, cowok ini mendapatkan cewek kuat bin baik yang mau menuntunnya untuk menepati ucapannya.

Sebelum kesana kemari hingga tiba di materi palsu (versi alamat palsu-Atu Ting Ting :D) jadi aku sudahi saja cerita malam ini, cerita malam yang aku dapatkan saat aku mengelilingi daerah kota gede dan teringat dengan seseorang yang hampir semua ucapan kecilnya kepada ku  hanya kekosongan semata.

Saturday, October 8, 2011

Pertarungan Rindu

Bukan berarti aku tidak memikirkanmu kala hari sudah mendekati tengah malam dan aku masih tak menghubungimu
Bukan berarti aku tak peduli kala aku tak bertanya kabarmu
Bukan berarti sudah ada teman bicara ku kala aku tak menceritakan apapun padamu
Bukan berarti aku tak mengkhawatirkanmu kala tak ada pertanyaan dari ku "apakah kau baik-baik saja?"

Aku hanya terlalu terluka dengan jarak ini
Aku hanya terlalu marah mengapa selalu saja terpisah
Aku hanya terlalu sakit dengan perpisahan berulang kali ini
Aku hanya terlalu kecewa dengan kepentingan yang berbeda tempat ini

Bukan berarti aku tak sedih kala aku hanya berucap "daaaah" saat kita akan berpisah
Aku sedang menangis di balik tawa itu
Bukan berarti aku senang kala aku tak pedulikan pertemuan terakhir kita
Aku hanya sedang mencoba bertahan untuk tidak rapuh

Bertemu, bersama, berpisah, bertemu lagi, berpisah lagi...
Aku tak tau bagaimana menjadikan ini sesuatu yang biasa
Bertemum bersama, berpisah, bertemu lagi, berpisah lagi..
Aku tak tau bagaimana memakluminya

Hingga nanti...aku tak ingin jarak barang satu mili pun
Hingga nanti...aku tak perlu membiasakan sendiri lagi
Tak lagi bermain dengan jarak
Tak lagi bertarung dengan rindu yang menyesakan