Showing posts with label Sisa-sisa patah hati. Show all posts
Showing posts with label Sisa-sisa patah hati. Show all posts

Thursday, May 17, 2012

Mecampuri Hatimu

Batas hati ku masih mencoba mencapai penerimaan ketika tau bahwa aku hanya sebagian mengisi hatimu, bahwa aku, sekalipun tak lagi memandangmu, tak akan berpengaruh apapun untuk mu.
Ingin sekali bertanya, mengapa sedikitpun tak bisa kau pikirkan aku luka, air mata ini sudah mendidih.

Perjalanan ku membuat semua ini hanya mampu ku hadapi dengan diam. Berpikir sekeras apapun tentang aku yang mengapa kau perlakukan seperti ini, tak akan mengubah apapun, hanya membuat malam semakin pekat.




Dan jika ada kesanggupan, tak ingin aku ubah apa yang kau rasa, karena masih sampai saat ini, tak ada yang ingin aku ubah darimu atas egoku. 

Apalah yang dipikirkan seorang yang luka, selain lupa akan luka itu. Adakah cara membenturkan jalan ini agar buyar semua ingtana ku padamu, menjadi serpihan yang terbang bagai debu lalu hilang tak dinyana lagi.

Satu tarikan nafaspun terasa berat dengan semua ingatan ini, kepalsuan yang meraja tanpa batasnya, hingga luka dimana-mana.

Wednesday, December 7, 2011

Bukan Dia, Tapi Aku

Mengalah untuk sesuatu yang jelas kamu pemenangnya termasuk hal yang paling berat dalam hidup. Seperti (lagi-lagi tentang Cinta). Sudah jelas kamu mencintai dia lebih dan lebih dan lebih dari pada orang lain yang baru saja datang ke kehidupannya. Kamu setia menunggunya hingga dia mau kenal lebih dekat denganmu, kamu sabar menghadapi sikap kasarnya, kamu belajar untuk menjadi yang terbaik untuknya, kamu berjuang untuk tidak mengecewakannya, kamu menguasahakan apapun yang dia inginkan, meskipun itu akan menyakiti dirimu sendiri, mengorbankan sebagian waktumu, dan apapun yang kamu punya, bahkan mengorbankan hatimu hanya untuk kebahagiaannya.

Pengorbananmu, perjuanganmu, penantianmu, kesabaranmu, kesetiaanmu, sungguh luar biasa, Menimbulkan marah pada sahabatmu yang berangapan kamu sudah terbodohi oleh cintamu sendiri, menimbulkan decak kagum dan iri pada sebagaian hati, segala yang kamu lakukan menimbulkan banyak komentar. Tapi kamu tetap percaya bahwa yang kamu lalukan benar dan kamu terus melakukannya.

Tapi apa? Ketika kamu masih dengan ksabaranmu, kesetiaanmu, masih dengan luka perjuangan dan pengorbananmu. Berharap untuk satu senyuman dari seluruh luka yang telah kamu dapatkan, dari seluruh penantianmu, dan kamu hanya berharap satu anggukan, satu senyuman, satu genggaman yang akan berjung pada "selamanya". Dia, bagian terpenting dari hidupmu, menemukan orang lain dalam waktu yang begitu cepat, dalam perjalanan hidupnya. Dia menemukan orang lain yang  dengan sekejap mengambil hatinya. Mengisi pikirannya, menghadiri lamunannya, singgah di mimpinya. Dia menemukan orang lain, dia mencintai orang lain.

Dan pertemuan dia tak menyisakan sedikitpun tempat untuk mengingat perjuanganmu, pengorbananmu, kesabaran dan kesetianmu. Tak sedikitpun. Bahkan untuk sebuah jawaban dan penjelasan. Bahkan untuk menoleh menguatkanmu. Tak sedikitpun. Tak setitik pun. 

Patah hati saja sudah cukup untuk membuat setiap pagi menjadi buruk. Lalu bagaiaman dengan ini semua? Pengorbanan, perjuangan, kesetiaan, kesabaran yang seakan tak berarti barang sedikitpun. Sedikitpun. Benar-benar tiada arti. Orang lain itu tidak melakukan apapun, sedang kamu berjuang dengan segala yang kamu miliki. Orang lain itu tidak melakukan apapun. Tidak. Tapi dia lebih memilih orang lain yang hanya menjadi dirinya sendiri, apa adanya, atau mungkin menjadi palsu. Entahlah, tetap saja dia lebih memilih orang yang tidak melakukan perjuangan seberatmu, pengorbanan sebanyak kamu, kesetiaan dan kesabaran selama kamu. 

Dan kamu tau, Tuhan tidak menyia-nyiakan air mata dan keringat hamba-NYA. Beratnya tanggungan sakit dan patah hati yang kamu rasakan sekarang, beratnya rasa tersia-sia kan yang kamu miliki sekarang, akan tersampaikan pada hati yang lembut nan indah di suatu tempat, di sana. Yang akan memberikanmu mata air untuk membasih seluruh lukamu. Hingga menajdi tak tersisa. Perjuanganmu meski bukan untuknya, akan mengesankannya, pengorbananmu sebelum bertemu dia akan menjatuhkan hatinya padamu. Dan kesetiaan dan kesabaranmu akan mengesankannya.

Karena tidak ada perjuangan untuk kebaikan yang sia-sia di dunia ini. Selamat berjuang, selamat sakit hati dan selamat bahagia.

Wednesday, November 9, 2011

Setidaknya

Entah mengapa aku masih saja gelisah dengan pikiran tentangmu. Sedalam apakah kau sudah masuk ke dalam ingatanku? Bahkan memimpikanmu saja baru satu kali. Dan aku masih ingat detail mimpi itu. 

Kita hanya bersama saat terik, saat malam terasa panas. Tanpa hujan. Dan kala hujan aku memikirkanmu, karena saat itu aku ingat, aku inginkan hujan turun saat kita bersama, agar hujan menahan kebersamaan kita lebih lama.

Hanya secuil perjuanganmu untuk setiap pertemuan kita. Dan itu pun hanya sebentar. Tapi yang secuil itu mampu membuat ku seperti ini. Kamu tidak akan tau, aku tau kamu menutup indramu tentang ku. Sekarang, gantian aku yang berjuang untuk menerima dan menjauh dari ingatan ini.

Bagimu, tak ada yang berubah. Setelah pertemuan yang cepat, kau menghilang. Kembali lanjutkan hidupmu. Tapi aku, aku yang bertarung dengan diri ku sendiri, dengan ego, janji dan perasaan, telah merubah sebagian yang sudah ku susun. Hanya dengan keisengan mu, sesuatu yang serius dari hidupku telah berubah.

Setidaknya, yah, setidaknya aku masih bisa menulis karena mu. Walau dengan tulisan seperti ini, walau dengan tulisan yang menciptakan tawa bagi sisi lain, atau miris untuk sisi lainnya. Setidaknya aku tidak mengganggumu seperti kau yang merusak susunan ceritaku. Setidaknya, aku telah menulis.

Sunday, November 6, 2011

Bekal untuk RIndu

Aku masih sangat ingat sejak kapan, yah..sejak aku dapat melihat kedalaman mata itu, sejak saat itu tulisan ini kembali hadir lagi, meski setelah itu hanya patah-patah kata kau berikan, hanya satu dua butir kalimat kau ceritakan, hanya segaris senyum kau berikan. Hei, siapa dirimu ha? berani membuat aku lelah, lelah mencari-cari jawaban mengapa seenaknya saja kau isi bagian hari ku dengan memikirkan mu, dengan segelintir waktu yang kau berikan. Mengapa hanya itu saja yang selalu menguap, berembun, setiap pagi, setiap malam setiap aku terjaga, bahkan dalam pejaman mata pun aku masih dapat merasakan ingin kembali mundur agar ini tak terjadi saja. Lelahnya membuat ku sulit bernafas.

Entahlah bila kapan, entahlah akan kapan, hancurnya  di depan mata, namun aku tau tak akan terjadi harapan yang dengan kurang ajar nya menjelma mengisi hari-hari ku sejak saat itu. Meski baru samar, meski hanya dari mu bukan aku, meski ku patahkan pertahanan yang baru ku mulai untuk mengikutimu, jarak ini perlahan sudah ada, padahal...padahal baru saja ingin mengkonversi menjadi milimeter sudah berubah lagi menjadi kilometer. Begitu jauh. Siapa dirimu hei? Beraninya membuat ku resah dengan jarak?Beraninya membuat jantungku berdegub kencang saat ingin bertemu.

Jangan bertanya tentang untai-untaian cerita yang dapat kau baca, tanya saja pada hatimu sekiranya bisa kau rasakan. Karena aku tak mampu lagi jelaskan ini semua, tak mampu jika kau dapat melihat langsung titik mata air yang mengalir karena kuatnya rasa ini , hanya dapat ku simpan setiap hari saat kau tak melihatku, saat kau tak peduli dan saat kau menjauh seperti saat ini. Tak akan mampu aku menceritakan pada mu. Karena hasrat ini seperti di hempas semesta, yang kemarin mengizinkan kita bertemu meski aku masih bebas menceritakan pada dunia. Bercerita tentang ini adalah pengalaman pertama ku, dapat merasakan sesuatu yang di sebut cinta secepat ini, sekilat ini dan rindu serekat ini.

Ini telah jadi bagian dalam hidupku, biar saja ku ceritakan pada dunia. Yah, aku tak perlu kau tau, meski sejujurnya aku ingin berteriak di depanmu tentang ini, agar kau tau aku menungu beritamu setiap hari, menyenangi pertemuan ku dan dirimu, menyenangi ceritamu, pelit senyummu, dan aku merindumu, tapi sadar ku memenjarakan keinginan ini menjadi tak perlu, aku tak perlu kau balas, dan ini sungguh karena ini hanya ketulusan ku, tak perlu kau jawab semua pertanyaan ini, karena sudah tau kemana muaranya, kemana ujung dari pertemuan itu yaitu melayangnya rasa yang hadir atas izin alam yang mempertemukan kita, atas kebaikan waktu menyediakan tempat untuk kita berbincang sesaat. Dan ku harap cepat perginya, karena terasa berat aku untuk memikul ini sendiri. Meskipun jelas aku masih merasakannya utuh saat ini.

Dimana saja bisa terguncang, dihempas deretan cerita yang belum hadir, bagian dari hidup yang masih bersembunyi, kapan saja badai itu bisa datang, dan aku masih merasakan mu. Masih melihat dalamnya tatapanmu. Bila sudah tak mungkin lagi aku melihatmu, tak mungkin aku melihat garis senyummu, maka, jejak pertemuan kita yang telah ku abadikan lewat tulisan ini akan menjadi obat setiap detail rindu yang hadir. Karena hanya ini rekaman pertemuan kita. Dan tanah dimana kita pernah berpijak bersama akan menjadi saksi yang membawa semilir penyejuk rindu yang mungkin akan memanas suatu saat nanti.

Satu dari catatan tentang kehadiranmu

Note from facebook  on Tuesday, September 27, 2011 at 9:21pm

Membuka Memori

Hanya sekedar menulis dari sebuah ingatan

Aku menyesali pertemuan kita kemarin meninggalkan jejak di beberapa tempat, hingga aku harus berperang dengan "galau" saat ke sana dan tidak lagi denganmu, tidak lagi berbicara denganmu.

Aku benci harus ada nada dan lirik yang kita dengar bersama, hingga saat itu berputar di "playlist ku" aku harus berusaha memikirkan yang lain agar tak lagi berputar rekaman kita saat itu.

Aku kesal dengan urutan gambar yang kita tonton, walau sedikit, karena saat itu "berputar" lagi di hadapan ku, aku harus mengucek mata berkali-kali karena merasa sedang melihatmu.

Aku marah dengan cerita-cerita mu, karena seperti semua benda disekelilingi ku mengingatkan itu padaku, juga berarti padamu.

Aku sebal dengan waktu-waktu dimana kamu mengajak berbicara, bertemu, karena saat waktu itu bertemu takdirnya, dan mendapati kamu sudah tak ada, aku harus "guling-guling" menghibur diri.

Dan semua ini menyakitkan.
(note from facebook on Monday, October 3, 2011 at 11:37pm)

Setan itu kamu

Hujan turun tepat saat aku mulai jengkel. Jengkel dengan aku yang terjebak dalam permainan mu. Entahlah kalau itu memang bukan permainan. Tapi ini seperti permainan kurang ajar yang melempar ku ke banyak rasa. Detik ini aku loncat-loncat girang karenamu sedetik kemudian kau mampu membuat ku tak bergerak hanya dengan diammu. Dan aku terpaksa menuggu huja reda di pinggir jalan, sendiri di tengah malam.

Hujan pun tepat terhenti saat aku mulai jengkel (lagi). Jengkel dengan lagu yang ku suka namun ternyata nadanya dari mu. Menyadari nada yang ku dengar ini adalah karya mu, hasil mu dan hasil gerak jemarimu membuat ku merasa dekat namun terasingi karena engganmu. Aku senang kau kenalkan lagu ini pada ku di awal cerita kita, tapi sekrang aku benci mengapa aku suka mendengarnya.

Aku mengikuti jejakmu, sembarang berbicara. Mengatakan besok aka begini dan begitu tapi dalam hati meniadakan itu semua. Bukan! Bukan balas dendam, bukan juga memberimu pelajaran. Aku hanya ingin tau, bagaiaman rasa menjadi mu. Menjadimu yang hanya ku tau. Jalan mu bukan miliki ku dan rasanya ini tidak enak. Kita memang berbeda.

Dua orang berbicara tentang matamu kemarin. Yah! Aku menyukaimu sesaat setelah ku lihat mata mu. Tajam dan masih saja ku ingat detailnya hingga sekarang. Sial! Aku tidak suka bagian ini. Bagian dimana aku kembali terlempar di waktu itu, yang berkesan buatku dan yang terlupakan bagimu. Aku harap ini hanya tentang matamu.

Aku menulis ini di temani lagumu. Seakan aku melihat kau memainkan musik ini di sampingku, seperti hari keamrin. Aku pernah melihatmu gila dengan banyak lagu. Namun kemarin aku masih bisa bertanya, bisa tersenyum dengan mu, dan sekarang, hanya lirikan nanar dengan amarah. Kau berbicara tentang setan, sementara kau telah menjelama menjadi setan di sini, di sisa-sisa patah hati.

Pilihan mu untuk menjadi setan bagiku. Pilihanmu untuk menjadikan semua hambar tanpa rasa lagi. Besok, aku tak akan tinggal diam, kau harus dengar sebuah tuntutan. Kemarin aku memaksa bisa bertemu denganmu, namun nyata selalu gagal. Besok, aku ku biarkan waktu lagi yang bermain, saama seperti kita pertama bertemu.

Thursday, November 3, 2011

Suara Rindu

Aku melihatmu dari depan pintu. Hanya beridir tegak. Mata ku terpaku melihat apa yang kamu lakukan. Melakukan sesuatu yang hanya mengizinkan ku melihatmu sebentar saja.

Rindu ku begitu besar hingga mampu membuat kaku apa yang ingin ku lakukan. Sebelumnya aku telah menyusun banyak momen untuk ku ciptakan dari waktu yang hanya sebentar ini. 

Aku melihatmu bergerak dan berbicara. Aku masih berdiri di depan pintu, Padahal sudah kau minta agar aku masuk. Tapi aku hanya mampu melihatmu sebatas itu. 

Kau telah menyelesaikan kegiatan yang menjadi alasan ku berada di sana. Alasana aku dapat melihatmu. Kau datang ke tempatku beridiri. Tanpa ku sadar itu adalah menit-menit terakhir.

Aku masih belum mengatakan apapun, berbuat apapun. Dan aku menunduk. Merasakan bening di mataku. Kembali tegak menatapmu dan bening itu pun jatuh bersama senyumku.

Hanya itu yang dapat kulakukan untuk menyampaikan bendungan rindu ini. Begitu penuh dan tumpah. Semoga tidak mengganggu mu dan hari-harimu selanjutnya. 

Aku pergi.


Kartu Ucapan

Seperti hujan saat langit sedang terang benderang, datang tanpa pertanda. Begitu juga kamu ada begitu saja tanpa banyak bicara namun ciptakan cerita dan kenangan. 

Aku tak banyak lagi kata untuk menulis tentang apa yang ku ciptakan sendiri, tentang yang terjadi apa adanya antara kita. Mungkin aku butuh kembali bertemu. Dan memiliki sensasinya lagi.

Tapi kartu ucapan tergeletak di depan rumah ku yang tak berpagar. Kau letakan dengan sembarang. Lusuh, berantakan, mungkin akibat hujan semalam. Kartu ucapan itu kosong. Tapi aku tau itu pertanda kepergianmu.

Aku tulis dua buah kata di kartu itu "terima kasih". Yah, setidaknya kartu darimu itu ku isi ucapan dari ku. Jadi kita seri. Kini lebih baik, setidaknya kau pergi dengan sebuah tanda


Saturday, October 29, 2011

Gelaran arusmu

abu-abu itu terbang sendiri.
kayu itu terbakar sendiri
sesederhana api menghampirinya
sesederhana pertemuan kita

tetes-tetes air itu jatuh sendiri
awan itu menghitam sendiri
sesederhana awan merubah diri menjadi tetes air
sesederhana perubahan kita

aku mnggenggam erat arus sungai itu
aku merekam jelas suara deras air itu
aku menyimpan abu-abu itu
aku menelan tetes-tetes air itu

dan sekarang...

tanpa izinmu...

aku melepas genggaman ku
biarkan aku terbawa arus (dulu)
aku membuang rekaman itu
biarkan aku lupa (dulu)
aku menerbangkan abu-abu itu
biarkan aku tersedak (lagi)
aku memuntahkan air itu
biarkan aku sakit (lagi)

berjayalah lah dalam diam mu
saksikan aku semakin jauh, lupa, tersedak dan sakit

bernyanyilah dalam murka mu
beri irama pada ku yang semakin jauh, lupa, tersedak dan sakit
akan ku beri tanda, bagi setiap luka yang bertambah
lewat gema alam yang kau jamah
hanya untuk sekedar kau tau
aku tak semakin baik (tanpamu)

Keranjang kebenaran

Aku terhenyak mengingat semua, seakan selaksa beban datang seketika ini juga. Sudut terjauh hati ku maju ke depan, lalu menguasai segenap ingatan dan kosong yang sengaja ku buat. Sesuatu yang disebut luka, yang masih tertanam, muncul ke permukaan. Aku maish menyimpannya. Dari dulu, sekarang, dan entah sampai kapan.

Aku merasakan kepergian mu dalam sabarmu yang tak berbatas. Aku merasakan jarak antar hati kita semakin melekat dengan jauh. Tapi tak pernah hilang sore dimana aku mengadu padamu, mengadu apa adanya, yang masih kau adili hingga sekarang atau bahkan hingga mati, nanti.

Aku benci tidak mengerti tentang hati yang dipilih cinta. Aku benci harus mencari-carinya, berusaha biasa, atau harus bagaimana, hingga yang tersisa hanya diam. Diam yang kau anggap penjauhan ku, penghindaranku. Aku hanya berlindung dalam malam, kepercayaan mimpi dan aku.

Diam yang kau anggap permainan ku. Diam yang kau kira dosaku. Diam yang kira semua salah ku. Mungkin kah diam ini karena memang sebaiknya aku tak bicarakan?Semua yang tidak kau ketahui, semua yang kau kira alasan semata. Semua yang kau kira BOHONG! Semua yang kau "kira" tersimpan rapi kebenarannya dalam keranjang yang ku letakan di belakang bahuku. Entah kapan dia akan maju, atau mungkin selamanya akan dibelakang dan aku beranjak ke tanah-tanah yang lain.

Entah pengertian ku yang terlalu luas, atau kau yang hanya bertahan dengan janji. Kita telah menyebrang berlawanan arah dan aku belum sanggup melihat kau pergi, hanya kaku di sisi yang ku pilih.

Saturday, October 15, 2011

Pasangan Jatuh Cinta dan Patah Hati.

Apakah aku benar-benar patah tentang perasaan ini? Tentang perasaan yang hanya aku ungkapkan dengan keegoisan kata-kata. Tak ingin dia begitu tau tentang yang telah aku rasa, tentang yang begitu cepat telah terjadi. Menyembunyikannya dengan tetap bersikap biasa saat berbicara namun bisa ku rasakan dia tau.

Apakah aku benar-benar patah tentang perasaan ini? Ketika informasi tentang dirimu mengabarkan hatimu telah bercinta dengan yang lain sementara kau masih sibuk membunuh waktu bosan mu dengan ku yang tak tau apa yang nyata terjadi sebelumnya dan saat itu. 

Apakah aku benar-benar patah tentang perasaan ini?Ketika lambat laun kau pergi dari hidupku dalam kurungan waktu yang singkat. Dan benarkah singkat juga waktu akan mengurung  perasaan ini? Atau aku akan terkungkung lama? Ini masih terjadi, aku masih belum tau.

Dan ketika aku melihat figura mu lagi, memastikan perasaanku saat melihatnya. Ada rindu, ada marah, ada ketulusan berbagi, ada keinginan membantu, ada suka dan tiba pada "tidak ada apa apa." Aku meyakinkan lah, kembali pada rindu (sesaat) lalu "tidak ada apa apa" lagi. Biasa. Lalu benarkah aku masih benar-benar patah?

Dan ketika ku lewati jalan-jalan dimana aku pernah bersama mu kemarin, aku kembali teringat tiap jengkal perbincangan kita. Lalu sangat ingin itu terulang lagi. Rindu kah ini? Kembali aku ingin melihat gaya jalan bodoh mu. Rindu kah ini? Atau hanya keinginan yang ala kadarnya saja?

Aku masih ingin bertanya banyak. Namun satu pun belum terjawab hingga sekarang. Urung dan ku simpan semua. Lalu kemana akhirnya rasa ini? Benarkah ini jatuh cinta lalu patah hati? Yang ku terima satu paket dalam waktu yang singkat. Atau hanya perasaan meriah sesaat saja?

Jatuh cinta dan patah hati. Keduanya memasangkan diri begitu cepat saat ini. Tanpa perlu pendekatan, sama sepertiku yang begitu saja merasakan rindu padamu, yang begitu saja cinta padamu tanpa alasan, tanpa pendekatan. Lalu mana yang nomor satu? Aku pada dirimu kah?Atau jatuh cinta pada patah hati? 

Sudah terjadi, sudah lewat, tak bisa kembali. Itu saja. Tak peduli itu sungguhan patah hati atau sungguhan jatuh cinta. Tapi aku merasakan keduanya. Penuh kupu-kupu di perut, dan penuh sesak di dada. Demikian sudah terlewati. Dan ya sudahlah.