Showing posts with label Sebuah cerita. Show all posts
Showing posts with label Sebuah cerita. Show all posts

Tuesday, April 24, 2012

Menerima dia


Dalam lingkungan, wajar kalau kita bertemu seseorang yang apa yang di lakukannya sering menyakitkan hati. Bahkan ketika sedang bercanda atau mengobrol sekalipun. Apa yang keluar dari mulutnya, dari tingkah lakunya sering kali menyakitkan. Kadang aku berpikir, lebih baik orang seperti ini tidak di sapa saja sekalian Setiap klai ngomong hanya nyakitin hati. Sakit hati karena omongan itu lebih nyelekit ketimbang di gigit semut. Tidak bermaksud menganggap diri ini lebih baik, tapi aku telah mendiskusikan ini. Jadi tidak mutlak pendapat sendiri.


Satu hari itu, hari dimana aku seperti biasa aku bangun dengan perasaan gembira, dan berangkat ke kampus juga dengan riang gembira, tapi begitu duduk, dan mendapati dia yang sedang menanggapi ucapanku dengan mimik dan nada bicara menyakitkan. Aku yang sedang dangkal saat itu, sontak kesal tak karu-karuan, wajah yang awalnya penuh keceriaan, berubah menjadi kusut, suram, durjam. Syukurnya aku punya hati yang tak kuat menyimpan marah lama-lama, beberapa menit kemudia itu semua hilang. Lalu barulah bisa normal berpikir "buat apa juga aku marah?"

Kalau di urutin ya... dia itu memang begitu, ngomong dengan nada nyelekit, menggunakan kata perkata yang mungkin tanpa dia sadari sudah nyakitin banget, di tambah ekspresi yang mewakili itu semua plus gesture. Dan kalau dia melakukan itu ke aku, begitu juga dengan orang lain. So? Apa urusan sama hati aku untuk sakit? Gak ada kan? Gak bisa dong setiap orang berbicara sesuai yang aku mau. Mungkin juga aku pernah ngomong semenylekit itu. Ups, tapi aku udah koreksi ke yang lain kok. Apa aku seperti itu juga?

Dia hanya seperti itu, mempunyai nada bicara yang menyakitkan, kata-katanya seperti kulit duren, yah mungkin di tambah kejelekan lain yang mungkin sama dengan yang aku punya. Yah, dan hanya seperti itu sama dengan manusia lain. Punya kekurangan. Bukan bermaksud mengambil keunungan, tapi kenapa harus tidak lagi bersama-sama hanya karena gaya bicara yang menyakitkan? Mau sakit atau tidak, itu pilihan hati ku. Mau memikirkan atau tidak itu keputusan pikiranku.

Jika menegurnya sama dengan seperti menyeludupkan senjata dalam hubungan ini, untuk saat ini, lebih baik menerima dia apa adanya. Menjaga diri untuk tidak merasa sakit hati hanya karena hal tidak penting. Dan melupakan segala urutan sikap hitamnya. Itulah ciri dia, sebagai seseorang yang akan aku kenang hingga nanti. Dia dengan ucapan nyelekitnya. Yang menempel disini, yang pernah ngasih rasa sakit sedikit di hati. 

Thank you , kamu ^^

Friday, April 20, 2012

Update Status

"Ciee...update status ni... ugh ikannya pedas nich" Teman ku menyindir saat aku sedang memegang hp saat kami makan bersama. Aku hanya menoleh mencibir, sudah jelas mereka tau gaya ku mengupdate status bagaimana. Galau kata mereka.

"Ini ni bagian yang aku gak ngerti, sudah tau besok ujian, harusnya kan belajar, atau apa kek ni malah ngetwit dugh besok ujian tapi gak tau harus ngapain, ataau bahan gak ada ni buat ujian, ampun mak.... emang bisa tring gitu ni status nolong kaum kau ni pas lagi ujian?"
Aku mendelik "sekali lagi kau bilang aku, ku siram kan ni!"
"Hahahahaha" terkekeh menjijikan.
"Tapi biarin kali, mereka kan gak ngerugiin siapa-siapa, biarin lah sana. Benci ya udah unfollow, remove" tidak bermaksud membela, tapi menurut ku protes dengan kelakuan para si undate status maniak ini juga gak penting. Sama aja mereka dengan mereka. Loh?(bingung ya?sama).
"Ya bagus lah ada manusia-manusia seperti kami ni, jadi mereka dapat pahala." nyeleneh teman ku menjawab.
"What the hell did you said budy?" Aku masih melihat layar hp.

Kesel kadang kalao liat timline twitter, atau home fb isinya status2 yang bener2 deh bikin pengen goyang ulek bulu saa membacanya. Sulit dimengerti aja, kok bisa berpikir untuk mengupdate status seperti itu.Tapi ya sudah si, hak hak mereka dan bangsanya deh, urusan gue juga apa. Gak suka ya gak usah baca aja. Atau unfollow. Gue pernah ngamukin sahabat gue di kelas 
"Woi, twit twit lo nyampahin TL gue banget si, gue unfollow juga ni! Gak mutu tau. Jijik gue bacanya"
Temen ku tertawa geli. "Ya uda si, kalo gak suka unfollow aja. Gak temenan di twitter kan gak berarti gak temenan di dunia nyata. Twitter for me, just for fun cantik"
See. Gue tau banget sahabat gue tu bukan kaum pengupdate status menggelikan. Tapi dia melakukannya buat kesenangan semata. Sama seperti gue kadang kala, menyampahi profil temen, atau TL temen dengan status status penggugah kegalauan atau kejijikan. 

Gak temenan di dunia maya tapi bersahabat baik di dunia nyata lebih baik bukan daripada manis di dunia maya tapi nyaci abis-abisan di dunia nyata? 

Social Network tu media, buatan manusia. Jangan sampe bodoh di buatnya. Galau karena abis meratiin profil mantan, atau cewek yang kecentilan sama pacar, marah-marah setelah liat tingkah temen di social network, iri karena liat foto temen abis jalan ke luar negri. Irinya gak bagus gitu, iri yang ngomongin yang gak  mutu. Ini namanya di bodohin teknologi man. Atau ada ni, iri karena abis liat foto temennya temen di fb yang ke bali pake bikini ciuman sama pacarnya di bawah sunset pantai Sanur. Terus bertekad mau melakukan hal yang sama, karena like-nya banyak banget, yang komen muji-muji juga ratusan. Ampun!!!!!!!! Gue minta ampun sama yang beginian!!!!

Gue ngaku kadang gue norak. Update status galau-galau. Tapi kalo boleh gue mau bela diri, gue update status yang terasa galau, dengan kata-kata yang bisa ngasih tau pembaca tentang rasa itu, tentang hikmat dari rasa itu. Ah tapi ya udahlah, status gue juga kadang gak mutu. Lo boleh nulis apa aja. Boleh. Tapi tetaplah jadi cerdas ya guys.....

Selamat ber-update status ria.... ambil yang positif, musnahkan yang negatif. Gue banyak kok dapat informasi dan inspirasi dari social network...



Tuesday, April 10, 2012

Pertemuan yang hakiki

"Perjalanan kita sama seseorang saat ini, kemarin atau mungkin besok adalah salah satu jalan buat kita menemukan dia yang hakiki"
"Maksudnya?"
"Kadang kita gagal menjalani sebuah hubungan dengan seseorang lalu bertemu dengan orang lain, gagal lagi dan bertemu lagi, dan gagal lagi, dan akhirnya kita bisa menemukan yang terakhir, yang bersedia dan kita pun bersedia bersama-sama dengan membawa pengalaman sebagai pembelajaran kita dari masal lalu, agar tidak mengulang kesalahan yang sama lagi dan lagi"
Aku terdiam, lalu "Ini gak adil dong?"
"Kenapa?"
"Ya masa, kita ngabisin waktu, tenaga, materi untuk orang yang akhirnya gak sama-sama kita."
"Tapi kita gak bisa maksa toh kalo memang pada akhirnya gak bisa bersama?"
"Tapi tetap gak adil" suara ku merendah. Seperti merasa kembali beberapa kekecewaan tempo dulu.
"Ya memang begitu lah kehidupan, sedikit kejam, tapi memberi peljaran buat kita begitu juga dengan dia"

Apakah itu sesuatu yang bernama jodoh? Sekuat tenaga sekalipun kita mengusahakan sebuah hubungan untuk terus bersama, sekalinya bukan jodoh, tetap aja berpisah. Dan apakah semua ini tak pantas di katakan kejam?
Entahlah, karena rasanya sakit, dan itu tidak enak, maka itu aku menyebutnya kejam. Namun memang demikian lah pertemua dan akhir dari sebuah pertemuan membawa kita pada sebuah tujuan. Semoga tak banyak waktu dan kebersamaan yang aku, kamu dan kita sia-sia kan.

*dari sebuah sharing di siang yang panas di Pare dengan 2 lelaki yang -aneh-

Monday, January 30, 2012

Keputusan bahagia

Ini semua tentang yang saya alami

Sering kali saya merasa kesal hanya karena sesuatu berjalan tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Kadang hanya tentang hal kecil, seperti becandaan yang menurut saya saat itu berlebihan, atau hanya karena barang jatuh dari lemari pakaian saya berturu-turut hingga saya repot harus merapihkannya kembali. Lalu hal yang tidak saya inginkan itu, berhasil membuat saya marah berkali-kali. Merutuki hari itu sebagi hari yang sial. 

Dulu saat saya masih kecil, hal itu malah lebih parah, kalau tidak sesuai dengan yang inginka, saya dengan brutal menendangi dinding-dinding rumah yang terbuat dari kayu dan triplek. Sambil teriak. Pernah waktu itu, saya sangat menginginkan buku tulis lucu berukuran kecil. Ntah kenapa dari dulu hingga sekarang saya paling suka membeli buku-buku lucu untuk menulis apa saja. Lalu di siang hari yang terik saya pergi ke sebuah toko potocopy rumahan berjarak kurang lebih 500 meter dari rumah saya, saya pergi dengan jalan kaki. Sampai di toko saya menunggui pelayan untuk menghampiri saya. Lama saya berdiri dan memanggi-manggil pelayan tersebut, sambil ,menjijitkan kaki, tapi tak satupun menemui saya dan mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, bahkan menoleh pun tidak. Saat itu saya benar-benar berang. Hari itu panas terik lagi. Saya memutuskan pulang sambil berlari dan sampai di rumah saya menerjang pintu rumah, masuk ke kamar, menendangi dinding kamar, melempari apa saja dan nangis sekencang-kencangnya. Berjam-jam, hingga tertidur. 

Bagaimana saya tidak bisa melupakan kejadian itu, saya paling ingat komentar Mama saat melihat saya mengamuk. Mama hanya bilang "Rugi hey kayak gitu" diringi muka takjubnya, muka jengkelnya, muka geleng-gelengnya. Sebelumnya Mama bertanya "Kenapa hey?" saat saya datang dengan menerjang pintu rumah. Saya mejawab dengan berteriak. Dan kalau sekarang saya seperti itu, kalimat Mama terngiang di ingatan. Kenapa emosi saya dikendalikan oleh orang lain, bukankah seharusnya diri saya sendiri? Bukankah yang memutuskan tentang diri sendiri itu adalah diri kita sendiri?

Yah, memang betul, hal yang terjadi itu tidak sesuai dengan keinginan kita atas reaksi dari lingkungan sekitar dan orang lain, tapi reaksi dari diri kita sendiri bukankah kita yang memutuskan?Mau meladeni amarah, mau tetap stay cool, mau tetap tenang, atau malah mengamuki keadaan? Bukan itu kita yang memutuskan dan yang memilih? Oleh karena ini, kalau ada hal yang tidak saya inginkan terjadi, saya hanya perlu berdiam diri sebentar, untuk mencerna, menelaah dan menerima semua sebagai bagian dari perjalanan waktu saya. Setelah itu saya memutuskan untuk "baik-baik saja" kembali. Tentu dalam arti yang sebenarnya. Dan yang paling penting, jangan lupa "senyum". Karena seluruh wajah di muka bumi ini yang terbaik bentuknya adalah saat senyum. Senyum juga mengirinkan ion-ion positif untuk hati. ^^

Selamat tersenyum sahabat ^^

Sunday, January 22, 2012

Apa?

Sebuah surat

Apa yang aku lakukan? Yang aku lakukan adalah memutuskan dan memilih. Yang aku lakukan adalah sebuah pergerakan. Mungkin menurutmu ini seperti lembu, seperti kebodohan yang terulang lagi dan lagi. Tapi kamu tidak tau yang aku dapati dari ini semua. Aku belajar dari sini. Aku mengenal, menyentuh, dengan sesuatu yang gak kamu tau. Karena kamu mengenal ku sebagai dia yang selalu salah, selalu datang minta maaf dan kamu menunggu. Kali ini aku tutup yang aku tau, yang aku kenal, yaitu kamu. Kalau nanti, aku tidak tau.

Kadang kalau mendengar cerita atau membaca sebuah cerita tentang patahnya sebuah cinta, aku tmemberi sebuah pengertian kepada yang tersalah, mengapa dia melakukan itu. Karena dimana ada sebab, di situ juga ada akibat. Seperti sebuah hukum yang memang seharusnya diterima. Aku tidak memihak, tapi hanya mencoba mengerti dan bergerak menjadi dua sisi yang mereka alami.

Karena aku pernah menjadi yang menangis, tapi ternyata yang membuat aku menangis, telah menangis lebih banyak daripada aku. Kadang kita sering merasa sebagai yang paling tersakiti, menjadi di posisi yang paling tidak adil. Aku pernah. Tapi seiring waktu, aku memahami dan mengerti itu semua sedang terbelit dan sedang tidak pada tempatnya. Waktu akan membawanya kembali dan rapi.

Bukan karena terlalu memaklumi bahwa kita sesama manusia, dan membuat kesalahan adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi karena keinginan kita untuk menjadi yang lebih baik, keinginan untuk belajar, keinginan kita untuk memahami, lebih dan lebih lagi.

Tuesday, December 27, 2011

Ilfeel?

Ilang rasa??
Kemarin saya menghabiskan malam yang membosankan dengan seorang sahabat lama, yang menurut catatan perjalanan cinta saya dia juga mantan saya. Tapi sekrang kita mutlak hanya bersahbat seperti awal sebelum jadian 4 tahun yang lalu. Tidak ada lagi keinginan satu sama lain untuk mengulang masa pacaran yang singkat itu, Kita sepakat, persahabatan jauh lebih baik untuk kita daripada pacaran atau mungkin lebih. 

Perbincangan yang cukup lama ini akhirnya memberiku pengertian tentang sesuatu. Yaitu, apa yang disebut dengan ilang rasa. 

Aku pernah bertanya dengan seorang sahabat tentang hubunganny ayang berjalan cukup lama dengan pacarnya "Kok bisa si? Gak ada bosennya gitu?"
jawabannya simple "Ya adalah Lan, namanya juga hidup bareng seseorang, ada pasang surutnya, kadang malah gue benci sama dia, bukan cuma sekedar ilfeel doang. Tapi kan itu semua kembali ke komitmen kita di awal untuk saling nerima satu sama lain. Kalo emang ada yang perlu gue ubah buat jadi lebih baik lagi ya kenapa gak, gitu juga dengan dia. Toh kita ngejalaninya kan bareng-bareng, jadi ya bisa lebih ringan untuk berubah jadi lebih baik lagi. Berubah jaid lebih baik untuk seseorang kan gak salah."

Yup. Gak ada manusia yang sempurna. Karena sejatinya kesempurnaan hanya milik Allah. Saat kita sepakat untuk menjalani hubungan dan menerimanya menjadi seseorang di hati kita, itu artinya kita juga menerima dia bersama kekuarang, kelebihan dan masa lalunya. Gak di pungkiri, kadang masa lalunya ada yang membuat rasa kagum kita menjadi berkurang, rasa sayang kita jadi hambar tapi apa karena itu lalu begitu saja kita tinggalin pasangan kita? Dengan bilang "aku sudah gak sayang lagi sama kamu". Apa itu adil buat pasangan kita? Karena pasti kita pun gak sempurna. Saat kita merasa rasa sayang mulai hambar karena kekuarangnnya, coba berkaca terlebih dahulu, sudah sempurnakah kita? Untuk menolak kekurangannya yang artinya kita menuntut kesempurnaan.

Memang gak ada salahnya mencari yang terbaik. Tapi alasan berhenti menyayangi hanya karena masa lalu dan kekurangan, buat ku bukan sesuatu yang adil. Tuhan saja tidak berhenti menyayangi umatnya yang kekurangannya sebesar bumi ini. Lalu kita sebagai manusia kenapa begitu egois menuntut kesempurnaan dari pasangan? 

Berat memang menerima atau menjalani hidup dengan orang yang memiliki kekurangan bersama kita, tapi setidaknya bisa kan kita sebagai seseorang yang berarti untuknya membantunya berubah menjadi lebih baik lagi, kalau memang kekurangan itu sangat tidak baik. Bukan meninggalkan begitu saja dan meninggalkan kesan orang seperti dia tidak berhak mendapatkan cinta kita.


Tapi ini semua bukan tentang kekurangan dari kesalahan yang bertentangan dengan prinsip, yang mengingkari janji dan yang mengkhianati kesetiaan cinta itu sendiri. Meskipun gak ada salahnya kesalahan ini mendapatkan maaf tapi tidak salah juga jika ini semua menghapus rasamu.


Sampai kapanpun, gak akan bisa kita temuin manusia yang benar-benar sempurna, kita semua sama-sama berusaha menjadi sebaik-baiknya manusia di dunia ini, untuk itu kita butuh seseorang di samping kita, yang selalu mengingatkan kita dan membantu perjalanan menjadi lebih baik itu lebih ringan. Ketika kamu menerimanya hari ini, seharusnya sudah kamu sadari bahwa dia adalah manusia yang tidak sempurna, bahwa dia manusia yang memiliki masa lalu. Dan tentunya masa lalu dan kekurangan sudah tidak jadi masalah lagi untuk pertahanin hubungan dan perasaan sayangmu. 

Dan kamu, sahabtku, terima kasih memberi sebuah pengertian tentang saling menerima sesungguhnya. Semoga hatimu jadi lebih baik setelah berbincang kemarin serta hatimu menjadi lebih sehat lagi. Amin.

Monday, December 26, 2011

Anak Kost-an

Nge-Kost. Dulu sama sekali gak pernah kepikiran buat aku mengalaminya. Secara nempel terus sama orang tua apa lagi mama. Bangun dan mendapati rumah tanpa mama aja bisa bikin aku nangis meraung, atau kalau sudah besar aku hanya memeluk guling nangis ketakutan. Apa lagi nge-kost, yang artinya jauh dari orang tua. Apa-apa sendiri. Iiiiikh!!!

Waktu SMA harus jauh dari orang tua dan hanya berjarak 2 jam cukup buat aku galau tiap malam di minggu-minggu pertama. Gak mau merubah apapun yang ada di kamar yang sudah di susun mama demi merasakan kehadiran mama di sana. Tapi setelah mendapatkan temen dan kehadiran mama yang setidaknya dua minggu sekali di rumah nenek, sudah cukup buat aku tetap merasa baik-baik saja dan belajar jauh dari mama.

Daaaan, masa kuliah pun tiba. Au diterima kuliah bukan di kota tempat orang tua menetap. Harus menyebrang pulau dulu. Bogor. Yah, awalnya merasa "aku akan baik-baik saja". Tapi setelah tiba di Bogor, hari-hari orang tua di Bogor pun semakin sempit. Kekhawatiran mulai menjalar."Kalau lapar malam-malam gimana?" "Kalau kuliahnya jauh gimana?" "Nyuci baju gmn?" "Nytrika gimana?". Segala macam pertanyaan yang sekarang ku anggap kekanak-kanakan ku ajukan pada mama, mama menenangkan dengan menyediakan perlengkapan di kost seperti di rumah. Bahkan sempat bertengger seperangkat DVD dengan dua speaker besar, yang beberapa bulan kemudian aku merasa itu semua gak penting.

Malam pertama di kost, sendiri di kamar. Seperti mimpi buruk, menyeramkan, menakutkan, hp selalu di tangan, membalas cepat setiap sms yang masuk, mengangkat dengan semangat tiap telfon yang masuk. Tak sabar menunggu pagi, takut dengan malam. Permintaan pun masih terus mengalir, entah kenapa rasanya kurang aja. Kasur gak empuk, bantal kurang banyak, selimut yang gak hangat, kamar yang sempit. Segalanya di anggap kurang. Padahal mau di kayak gimana in pun itu kostan gak akan senyaman rumah. Karena tetap berbeda.

Tiga tahun nge-kost. Mendengar cerita-cerita teman, melihat langsung ke TKP. Belajar dari cerita hidup banyak orang, belajar dari sekedar nongkrong di lampu merah jalanan kota Bogor, belajar dari sekedar ngobrol sama pengamen jalanan, belajar dari perjalanan malam menemui gembel-gembel yang terlelap di emperan toko, aku benar-benar belajar tentang bersyukur. Tinggal di kamar yang isinya bikin hidup lebih mudah, makan berkecukupan, walau kadang mengalami pasang surut keuangan, tapi aku tetap makan. Memiliki barang-barang yang menyenangkan diri sendiri. Dan aku masih saja mengeluh (kemarin)? Itu syukur mungkin masih hinggap di tempat lain kali yah.

Dari semua itu aku jadi tau, ketika semua keterbatasn itu kita terima, ketika semua ketidaknyamanan itu kita maklumi dan nikmati dengan rasa syukur maka semua akan selalu menyenangkan.

Sering kali kita sebagai kost-kost-er suka lupa tujuan awal kita ke kota rantau, tapi lebih fokus pada kenyamana hidup di kota itu. Belum lagi godaan terhadap kebebasan yang di tawarkan dari hidup sebagai anak kost. Tujuan utama malah jadi sekedar pelengkap, tapi lebih fokus kepada mencari kesenangan semata. 

Saat kita berada di kota yang baru, peluklah mimpi-mimpi untuk lebih baik, melangkah lah untuk meraih dan mewujudkannya. Dan selalu ingat, ada dua hati yang menanti keberhasilan kita di sana. Yah mungkin tidak melulu tentang prestasi mu bidang akademik, tapi tentang dirimu, hidupmu yang seharusnya jadi lebih baik dari sebelumnya.

Selamat berjuang untuk jadi lebih baik kost-kost-ers.^^

Thursday, December 15, 2011

Ungkapkan

Pernah menyembunyikan sesuatu lalu sesuatu itu diketahui dengan cara yang tidak tepat dan berdampak buruk. Karena terlalu lama di simpan. Baunya menusuk seperti bangkai. Akibatnya menusuk langsung menjadi luka. Memang bukan bermaksud berbohong, tapi hanya menyembunyikannya hingga pada waktu yang tidak di ketahui. Alasannya karena belum siap, belum dapati waktu yang tepat atau sebenarnya memang belum miliki keberanian?

Ketika sesuatu itu memang seharusnya keluar dari mulut kita, tapi malah buyar dengan media lain, cara lain atau mulut yang lain, maka bertambah satu rasa: sakit hati. Penejelasan akan bertambah banyak, cerita akan berputar-putar dan butuh waktu lama untuk keduanya menjadi baik kembali, buruknya, kelelahan hati karena menyembunyikan dan sakitnya hati yang merasa di curangi membuat sama-sama memilih untuk saling meniadakan lagi. Atau ini hanya keinginan sepihak. Apapun itu hasilnya adalah 'perpisahan'.

Tak masalah dengan memilih waktu dan cara yang tepat. Seperti saat menembak seseorang atau melamar seseorang, tentu kita memilih tempat, waktu dan cara terbaik agar semua berkesan. Tapi tentu pencarian akan waktu dan cara yang tepat tidak membuat kita nyaman untuk terus menyebunyikannya, untuk tidak jujur secara utuh. Karena sebenarnya waktu terbaik ada lah secepatnya dan cara terbaik adalah jujur apa adanya. 

So, yang sedang nyembunyiin sesuatu dalam sebuah hubungan, baik dengan mama, papa, sahabat, adik, kakak, dosen atau pacar. Sesuatu yang seharusnya keluar dari mulutmu, sesuatu yang seharusnya ada penjelasan dari kamu langsung, segera kan untuk menyampaikannya. Kamu, aku dan kita gak punya kepastian akan waktu. Selamat mengungkapkan...^^


Monday, December 12, 2011

a Black

Ini dunia isinya sudah hitam. Hitamnya bukan sekedar hitam. Hitamnya begitu pekat, lekat, lengket, dan dalam. Kau bisa pilih mau berada di bagian hitam mana saja. Tak ada telinga yang mau mendengar begitu banyak, tak ada pikiran yang mau berbagi begitu fokus, tak ada mata yang mau melihat dengan menatap. Kau bisa seenaknya saja.

Dunia ini menawarkan kenikmatin dalam bentuk kejahatan yang luar biasa binal dan seksi. Kau menjadi begitu menarik dan begitu pintar ketika melakukannya. Hukumnya adalah: Kau keren ketika melakukannya. Untuk melakukannya, dukungan datang bertubi, peringatan dan larangan hanya sekedar dalam ingatan saja, dan kalau ingatan itu sudah hilang, maka kau tinggal tunggu pujian atas pilihan seksi yang kau ambil itu. Tada!!! Kau sudah menjadi keren. Selamat!!!

Liat kemewahan di luar sana. Bukan hanya tentang materi, gedung bertingkat berisi keindahan manik-manik dunia, atau kemewahan hidup yang menggiurkan, tapi juga tentang kemewahan dalam kebebasan berbuat apapun. Warna-warni cahaya lampu yang menjadi lapangan besar untuk kau berlari telanjang dengan riuh, ricuh gemuruh tepuk tangan. Dunia sudah menyajikannya tepat di depan mata. 

Ketika tau hitam itu gelap, dan saat gelap kau tak dapat terus berjalan lurus, lalu kenapa tetap kau pilih? Meski semua hitam, kekuatanmu yang kau percayai begitu besar akan dapat memutihkan walau hanya untuk dirimu sendiri (dulu). Ketika tau "keren" itu hanya kesenangan mereka bukan mutlak untukmu lalu kenapa masih ingin kau dapatkan, sementara menjadi yang kau percayai, kau ketahui baik akan membuat mu setingkat di atas keren, karena bukan tepuk tangan yang kau dapatkan, tapi lirikan yang menyimpan keinginan untuk miliki hidup seperti mu.

Dunia ini hitam, hitamnya bukan hitam biasa, hitamnya pekat, lekat, lengket dan dalam. Tapi kau tetap bisa memilih dan menjadi putih.

Story of my bb

Aku mengenal blackberry pertama kali dari sebuh majalah, kurang lebih tulisannya seperti ini "blackberry masih menjadi tipe handphone pilihan arti hollywood".  Aku memperhatikan gambar handphone itu dengan seksama, memutar-muta majalah karenaa gambar balckberry tampak begitu kecil dalam genggaman seorang actris hollywood terkenal (saya lupa, tepatnya siapa). Saat itu aku hanya tertarik dengan tipe keypad qwerty nya yang terlihat nyaman. Karena aku memang tidak terlalu melek teknologi, jadi tidak tau apa dan bagaimana kecanggihan sebuah blackberry.

Saat blackberry mulai masuk ke Indonesia, jujur aku menginginkan untuk memilikinya, tapi ya hanya sekedar ingin. Itu saja, tidak sibuk untuk berusaha mendapatkannya. Setelah ada beberapa temen yang menggunanaknnya, aku menjadi tertarik dengan teknologi yang ada, apa lagi kalau bukan BMM-nya. Tapi ya masih hanya sekedar tertarik.

Hingga akhirnya, balckberry menjadi perbicangan dan aku  penasaran dengan blackberry dan sibuk berselancar di dunia maya mencari tau kecanggihannya, juga ikut mencoba blackberry milik sahabat saya. Dan tibalah hati ulang tahun saya. Iseng aku mengatakan keingnan kado ulang tahunku "Ma, Wulan mau BB boleh?". Mama tidak melotot, mama tersenyum dan bertanya-tanya tentnga harga, kelebihannya dan mengapa saya menginginkan itu. Aku pun mejelaskan dengan lengkap, berikut dengan gambar dan kecanggihannya. Yey!! Aku  mendapatkan bb itu, senengnya bukan main.

Awal memiliki bb, daftar temen di bbm hanya hitungan 5 jari. Saya hanya sibuk di jejaring sosial dan beberapa aplikasinya. Lama kelamaan, daftar temen menjadi puluhan, karena kerepotan saya pun jadi terpaksa mengelompokannya. Belum lagi undangan untuk gabung di berbagai macam grup, Aktivitas di bb menajdi semakin meningkat. Di tambah lagi dengan akun jejaring sosial yang saya daftarkan. Saat berbincang dengan keluarga, sahabat, bb menjadi gangguan yang mengasyikan. Karena bb, aku bisa seenaknya saja tidak fokus mendengar celoteh dosen, curhatan temen, nasihat mama, hanya kerena bunyi dari bb yang pertanda ada 'pesan' yang masuk. Yah, walaupun akhirnya aku bisa mengubahnya.

Hingga di hari pertama lebaran, bb itu harus aku ikhlasin untuk tidak jadi milik ku. Berbagai macam perasaan yanga ku rasain saat itu. Hidup flat tanpa bb lah, temen-temen bbm lah, aktivitas nge-tweet lah, semua catatan yang ku simpan lah, pokoknya tentang bb tapi yang lebih menyakitkan adalah itu hadia ulang tahun dari mama. Sampai sekarang, hanya itu sedikit mengganggu saat mengingat bb. Hanya itu.

Aku sempat berpikir, akan susah ni hidup tanpa bb. Gak bisa bbm-an, gak gampang buat twitteran, repot kalo mau online, tapi ternyata sekarang, aku malah tidak lagi menginginkan bb hadir di hidupku. Sampai saat ini, aku masih baik-baik saja dengan hp sederhana ku, masih menjadi makhluk sosial yang punya banyak teman, masih bisa bersosialisasi lewat dunia maya dan yang baik adalah, lebih menghargai dunia nyata. Karena kalau bersama bb, kadang aku harus berbagi antara nyata dan maya, hilang fokus. 



Dan ternyata, kebutuhan akan sesuatu itu adalah tentang bagaiaman kita menyikapinya sebijaksana mungkin.

Sunday, December 11, 2011

Cerita Malam

Kalau di bilang aku mahkluk nokturnal, ada benernya juga. Karena aku lebih nyaman mengerjakan tugas, menuntaskan hobby dan menyenangkan diri pada saat malam. Bukan berarti siang tidak bisa, bukan berarti siang tidak ada inspirasi, tapi saat malam gangguan pasti lebih segan untuk datang. Teman mana yang dengan semena-menanya menggedor pintu rumahmu hanya untuk bercerita, meminta tolong ini itu saat tengah malam? Atau ibu mana yang tega menyuruhmu mencuci tumpukan piring saat tengah malam? Jadi malam, memberi jaminan untuk sebuah ketenangan, bagi ku.

Jadilah segala macam aktivitas lebih banyak ku tuntaskan saat malam. Kadang mengganggu juga, menggangu orang yang tidur sekamar dengan ku (kalau ada), mengganggu kesehatan dan juga otak :D. Tapi ini masih di batas wajar. Jadi gangguan pun datang masih dalam batas wajar. Lalu apa lagi tentang malam? Bukan, ini bukan tentang betapa indahnya malam untuk aktivitas-aktivitas ku, tapi ini tentang sebuah anggapan.

Mana yang lebih enak, berjalan mengelilingi kota saat siang atau malam? Bagi ku lebih enak saat malam, saat lampu kota berebut tempat untuk mempendarkan cahayanya, saat angin terasa lebih sejuk, saat cerita kehidupan sebagain di tutup dan sebagian lagi di buka dan aku bisa menyaksikan itu. Dan satu lagi, saat terik matahari tidak menyakiti kulit. Malam menjadi waktu paling tempat untuk sekedar mengelilingi kota, berkumpul bersama temen, atau berkunjung ke suatu tempat. Tentu ini tidak bicara soal temapt-tempat yang sewajarnya di kunjungi saat matahari masih berkuasa, seperti pantai. Ini hanya tentang berpergian untuk bersantai, melepas penat sebentar.

Sayangnya, kehidupan malam sudah keburu mendapat predikat tidak baik, jelek, nakal, brengsek, gak berpendidikan atau apapun lah yang tidak baik. Aku pernah membaca status dosenku yang bisa ku simpulkan secara sederhana seperti ini "Malam begitu indah, lalu kenapa kita harus tidur?". Aku terkesima dengan kaliamt ini, seakan memberi kekuatan untuk ku melakukan banyak hal saat malam, saat mata enggan untuk terpejam.

Mungkin, kalau hanya sekedar menghabiskan malam di dalam rumah, hanya dapat anggapan-anggapan biasa saja, seperti tukang begadang, insomnia sejati atau apalah, yang tidak mengganggu suasana hati.Tapi kalau sudah di luar. Nah ini, bisa di pastikan sebagain kepala  berpikiran buruk tentang orang-orang terlebih cewek yang lebih suka keluar saat malam dan pulang larut atau tidak pulang sama sekali.

Papa selalu ngomel kalau aku mengetok pintu rumah pukul 12 malam ke atas. "Anak cewek pulang malam-malam, di luar itu bahaya tau!" Aku masih menerima ini sebagai kekhawatiran dari rasa sayang. Normal. Wajar. Pantas. Tapi ketika, kamu mati-matian mengetuk pintu dan akhirnya terbuka dan di sambut dengan ucapan "kirain tadi gak pulang lagi makanya di kunci". Ini bantuk ekspresi macam apa? Benci kah?

Kamu boleh punya anggapan apapun tentang orang lain. Terserah, itu milikmu. Tapi boleh ku minta satu hal? Jangan lebarkan anggapan mu sampai memenuhi semua cerita yang terjadi di waktu yang sama. Apakah kamu menganggap aku sama dengan si "nakal" lainnya yang pulang malam? Apakah setiap gadis yang pulang malam selalu melakukan hal buruk di luar sana? Bagaimana kalau aku hanya menghabiskannya (malam) di sebuah cafe, hanya untuk mengusir sepi atau hanya untuk mendengar dan di dengar kan sebuah cerita, atau hanya untuk berkeliling sampai lelah untuk mengobati sakit di hati, atau apa pun itu yang bukan tentang kenakalan. Dan kamu tau, malam memberi banyak inspirasi, memberiku banyak peringatan untuk selalu bersyukur. 

Seperti malam ini, kantuk begitu menyerang, tapi serangan keinginan untuk menulis lebih banyak pasukannya, dan aku mencintai hal ini. Mencintai yang ku lakukan saat ini.Kita memang boleh mempunyai anggapan, tapi tentu tidak menghakimi, menghabisi dan menyakiti. Karena kita gak akan pernah benar-beanr tau apa yang orang lain alami sebelum kita yang mengalami dan menjalaninya secara langsung.




Pemberhentian

Tidak tau apa kamu masih menyimpan dendam dan marah tentang kemarin? Karena kita begitu berbeda dari sebelumnya, cara mu mendengar ceritaku, cara mu bercerita dan cara mu untuk bertemu aku. Sangat berbeda. Apakah karena aku sebelumnya tampak seperti menusuk mu tepat di belakang punggungmu yang menembus ke dalam hatimu?

Kamu tentu sudah sangat tau, aku tidak punya penjelasan apapun lagi tentang semua ini, karena telak telah ku tinggalkan semua, tak sedikitpun masih ku kemasi dalam meori hidup ku tentang yang kemarin kita tangisi. Sesuatu yang buat ku sekarang hanya sia-sia dan berarti untuk mu sekarang. Karena sebuah pertemuan menghadiahi mu seseorang. 

Demikian dampak dari sebuh keputusan, begitu panjang waktunya, besar pengaruhnya dan lama penyembuhannya. Aku memaklumi itu semua sebagai manusia yang juga punya hati dan pikiran untuk membyaangkan menjadi dirimu. Meskipun kadang aku bertanya, tidak kah berarti ratusan hari sebelumnya yang begitu indah kita buat berdua? Tidak kah berarti genggaman tangan kita untuk selalu saling menguatkan satu sama lain dalam hal apapun?

Aku sudah menghukum diriku dengan menyesali keputusan ku saat itu. Tapi ternyata itu tidak berdampak appaun pada pulihnya luka mu. Kau tetap memlih jalanmu sendiri untuk pulih dan aku yang merasa terluka hanya bisa kembali menyesali semuanya, menambah hukuman. Sayangnya, sedikitpun aku tidak mempunyai kekuatan untuk kembalikan waktu, untuk tidak melukai hati mu.

Meskipun nantinya cerita akan membawamu pada sakit hati, tapi kenapa mesti aku yang membawamu pada itu semua. Menghabiskan kepercayaanmu, memudarkan kepercayaan yang lain dan aku tampak sebagai perusak, pengganggu dan perebut.Sadar sebagai orang yang telah melukai hatimu saja sudah cukup menyiksa, terlebih dengan semua sebutan itu.

Sekarang, setelah semua cara ku lakukan untuk kembalikan kita seperti dulu. Setelah panjangnya surat ku tulis untuk melembutkan hatimu, setelah semua cara yang memungkinkan untuk aku lakukan saat itu ku jadikan nyata, aku hanya akan membiarkan mu memilih caramu sendiri untuk pulih, untuk sembuh atau menerima pilihanmu untuk memelihara luka itu, ketidak percayaan itu yang akan menarik mu lebih jauh lagi dari aku.

Dan apa pun pilihan mu, aku hanya berharap kamu tidak terus-terusan menyakiti hatimu dengan memelihara sakit hati itu. Bukan tentang kita seperti dulu yang ku sangat ku inginkan kembali. Tapi hanya untuk keceriaanmu sebelum luka itu ku beri atau bahkan sebelum bertemu, mengenal dan menyayangi aku.



Saturday, December 10, 2011

Status Facebook

"Facebook itu bisa mendekatkan dan menghancurkan. Kasihan saja melihat orang yang harusnya sudah dewasa dalam umur, tapi dangkal dalam status dan komentar. Karena ketika tulisan itu telah dilihat banyak orang, walaupun ia menghapusnya berulang kali, tapi tetap masih tertinggal difikiran pembacanya. Inilah kekuatan tulisan." Ini lah status facebook dari teman ku bernama kak Afrida Catur, seorang penulis puisi dan sudah menerbitkan kumpulan buku pusinya secara independen. Dan tulisan ini bukan tentang penulis berbakat ini, tapi lebih kepada statusnya dan gangguan hatiku.


Ketika membukan page home facebook pertama kali ketika aku online siang ini, status ini lah yang paling menarik perhatianku. Aku langsung mengklik tanda jempol dan memberi comment "like this se-like this like thisnya" (hanya orang Indonesia yang mengerti bahasa ini). Aku benar-benar setuju dengan status Kak Fida ini.

Dari awal aku tidak pernah ambil pusing dengan staus-status temen di facebook, comment-comment nya, atau apapun yang orang lain lakukan di facebooknya. Kecuali untuk orang-orang terdekat, kalau ada kesalahan yang dia lakukan dalam penggunaa facebook, tidak sungkan aku langsung memberi masukan bahkan menegur. Tapi untuk temen-temen lainnya, aku lebih memilih untuk cukup ber "oh" "eh" "senyum" atau sekedar membaca, melihat atau tidak melakukan apapun terhadap itu. Karena sudah jelas itu hak si pemilik akun.

Tapi ketika aku membaca beberapa status yang jelas ada tentang aku, tapi pada kenyataan dan pembicaraan langsung seperti tidak ada masalah. Aku hanya merasa sedikit terganggu dan kasihan. Memangnya tidak lelah apa berpura-pura baik-baik saja, tidak ada masalah, menyimpan unek-unek, menyimpan kemarahan, dan hanya bisa mengekspresikannya lewat status, sementara sudah jelas bisa di bicarakan langsung. Biacara hanya soal memulai. 

Sering kali kita punya masalah dalam diam, karena tidak punya keberanian untuk menghadapi apa yang akan terjadi setelah dibicarakan nanti, atau memang pengecut untuk membicarakannya dan hanya berani mengeekspresikan lewat status, berharap ada comment atau perhatian dari orang lain, lalu mengambangkan masalah lewat telinga-telinga yang seharusnya gak perlu tau dan malah melebarkan masalah. Bodoh bukan? Aku menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi ku sendiri. Hanya dengan status di facebook tidak akan menyelesaikan masalah. Biacara adalah salah satu jalan terbaik untuk membuatnya tidak lagi jadi masalah.

Melalui tulisan orang lain bisa menilai bagaimana kita. Karena seperti status kak Fida, tulisan bisa meninggalkan jejak dalam pikiran si pembaca bahkan tersimpan rapi dalam memorinya, untuk waktu yang lama. Untuk status ataupun comment, kita bermain lewat huruf, terangkai jadi kata, lalu tersusun jadi kalimat dan sebuah tulisan. Terkirim sebagai pengisi home page orang lain, dan ketika tulisan itu masuk ke dalam pikiran orang lain, maka timbulah penilaian-penilaian itu. Bisa saja memilih untuk tidak peduli dengan penilaian orang lain. Tapi coba pikirkan nasib hatimu, pikiranmu dan jalan cerita hidupmu. 

Friday, December 9, 2011

Ku pilih: Tidak mendengar.

Masa lalu sering hadir bukan hanya lewat kenangannnya, lewat catatannya, lewat dimana itu terjadinya, tapi bisa saja datang lewat sebuh kabar. Kalau aku punya pilihan untuk mendengar kabar itu atau tidak, maka untuk masa lalu yang bisa membuat aku memikirkannya lagi, terlebih menyesalinya, maka aku memilih untuk tidak mendengarnya (lagi).

Aku pernah terlalu ingin tau tentang sebuah kabar, tentang masa lalu. Alasan terkuat ku saat itu adalah "aku hanya sekedar ingin tau" ketika seorang saudara mengingatkan aku untuk tidak mendengarnya, karena dia tau bagaiaman nasib hati ku setelahnya. Dan benar saja, semalaman ku habiskan untuk berpikir, bertanya, dan berkesa-kesal ria dengan diri sendiri dan dengan masa lalu itu. 

Masa lalu yang ku maksud di sini adalah dia yang aku hindari sejauh mungkin, bukan mengindari masalah. Tapi menghindari agar tidak timbul masalah lagi, karena mengenalnya berawal dari masalah. Bukan juga memutuskan tali silahturahmi, hanya saja berhenti untuk sedekat dulu dengannya, menjaga kesehatan hati lebih tepatnya.

Tentang bagaimana kita menyikapi masa lalu itu adalah pilihan kita sendiri. Aku sudah mengalami babak belur dan jatuh bangunnya hati cuma gara-gara masa lalu. Aku sudah mengulangi kesalahan tentang ini berkali-kali. Dengan alasan yang "hanya ingin tau" tapi bisa merusak hari ku bukan hanya hari ini tapi juga keesokannya. Sungguh tidak sehat.

Masa lalu tida memiliki magis yang bisa menarik aku kembali untuk mengingtanya, karena jika itu terjadi adalah atas izin ku sendiri. Masa lalu juga tidak pernah bersalah atas sakit hati hari ini karenanya, toh aku juga yang mengizinkannya datang lagi, hadir lagi. Dan sekarang, mata ku terbuka, hidung ku bernafas, mulut ku berbicara, otak ku berpikir dan hati ku merasa untuk hari ini, bukan masa lalu. Kabarmu sudah ku pilih untuk: TUTUP. ^^


Monday, December 5, 2011

Tentang "Hari Ini"

Hari itu, juga hari selanjutnya, ketika setiap pagi yang kulihat adalah yang kamu suka, sudah jelas akan terus mengingatkan aku akan kamu. Untuk saat ini, tak perlu aku diingatkan karena pikiran ku secara otomatis tertuju padamu. Hanya sekedar mengingat kamu sudah ada di hidupku. Meski saat mengingatmu dan merasakanmu, dua rasa yang berlawanan datang sekaligus.

Kita tidak pernah tau akhir dari sebuah cerita dan pilihan kalau kita tidak menjalaninya. Benar kah ini pilihanku?Atau jalan ini yang memilih ku dan kamu untuk kita jalani, entah saat ini bersama-sama atau hanya sendiri-sendiri saja. Tapi satu yang pasti, langkah kita sudah memasuki jalan ini.

Kita tentu punya kekuasaan untuk menghentikannya, tapi siapa yang tega? Jalan itu saja masih di depan mata kita, terbuka, walau belum tau kemana akhirnya, bisa saja di ujung sana ada dua belokan yang harus kita pilih secara berbeda, atau ada lubang pada jalanmu atau aku, kemudian salah satu dari kita terjatuh dan menghilang, dan kamu atau aku yang tidak jatuh harus melanjutkan perjalanan. Kita belum tau, kita masih memilih untuk menjalaninya.

Kali ini aku tidak suka menebak apa yang akan terjadi di depan, aku pun enggan untuk mempercepat ini semua, aku lebih senang menjalani ini sesuai porsinya, sesuai kadarnya, sesuai dengan waktu yang ada hari ini. Meski banyak sekali bentuk cerita yang dapat di tebak, bahkan ada satu cerita yang sepertinya dapat menjadi pilihan dominan banyak orang.

Melihat matamu, melihat caramu, melihat yang ada di kamu. Aku masih seperti pertama saat menyadari kamu berarti, tersenyum. Saat itu melihatmu menjadi alasan ku tersenyum. Kamu tidak mengajarkan banyak hal, tidak juga memberikan pengalaman luar biasa dan menjanjikan banyak hal luar biasa. Kamu hanya berbicara hari ini, bahkan kadang sedikit menyentak, tapi ternyata hal itu yang membuat ku lebih baik. Tidak sibuk dengan banyak angan-angan dan berterima kasih untuk hari ini.

Ada kebebasan saat aku menyadari kebersamaan kita. Kamu tau?kebebasan, bukan keterikatan, seperti kebanyakan orang yang sama seperti kita. Kebebasan untuk merasakan apapun, menjalani hidup seperti apapun. Kita hanya saling mengingatkan, memberi pengertian, dan berbcerita pengalaman agar tidak tersandung saat menajalaninya.

Dan saat ini, aku sadar, aku telah membutuhkanmu, telah membutuhkanmu untuk waktu-waktu ku. Tidak hanya seperti dulu, yang hanya "sekedar butuh" melihatmu untuk tersenyum Tapi sekarang, aku membutuhkanmu bukan hanya untuk rasaku, untuk cerita ku, untuk menjalani jalan yang kita pilih tapi untuk bernafas bersama, merasakan angin bersama dan memejamkan mata bersama, untuk pagi, siang, malam dan kebebasan yang dibutuhkan anak manusia.

Seperti mu yang memberiku kebebasan, maka tak akan ku ikat sedikitpun kebebasan milikmu, kamu bebas memilih jalan lain, memilih tujuan lain, atau bahkan berjalan membelakangi ku. Apapun itu, kamu bebas memilih untuk jalan hidupmu, karena itu bukan milik ku. Tentu jauhmu bukan yang aku harapkan, pergimu bukan yang aku inginkan atau berhentimu bukan yang aku mau, tapi kebahagiaanmu jauh lebih penting dari semua harapan ku yang hanya sekedar untuk egoku, inginku yang hanya sekedar untuk memenangkan rasaku dan mau ku yang hanya sekedar memenuhi hasratku.

Menutup tulisan ini, sebuah kalimat yang meneamni kita menjalani hari-hari ini yaitu HARI INI. 

Jalan punya cerita

Setiap hari harus bangun pagi, harus berseteru dengan keinginan untuk tidur lagi, untuk bersantai, atau untuk sekedar jalan-jalan, adalah hal yang menyebalkan. Sangat menyebalkan. Ditambah tujuan bangun pagi itu adalah KERJA. Ah, apa karena aku baru pertama kali bekerja maka semua terasa begitu sulit seperti ini? Entahlah, begitu mudah aku menemukan alasan untuk aku mundur (saja), padahal baru terhitungan 3 minggu. Cemen!

Nanti saja di pikirkan, aku masih belum mampu untuk mengatakan keinginan ku untuk resign, sedangkan mereka butuh yang aku lakukan.

Aku gak mau setiap pagi ku rusak hanya karena aku memilih (harus) bekerja. Sebisa mungkin aku mencari alasan untuk tersenyum. Perjalanan ku dari rumah ke tempat kerja memakan waktu kurang lebih 30 menit, dengan kecepatan "agak ngebut". Rute yang kulewati adalah jalanan ramai. 

Pasar, kampus, SD, SMP, SMA, kantor, mall, hotel, tempat hiburan, restoran, banyak banget. Dan di beberapa  titik aku sering menemukan hal-hal yang membuat aku tertawa, kesal dan bahkan bersyukur. Di jalan, ada banyak cerita. Karena setiap pagi, setiap manusia yang membuka mata, di sana di mulai cerita mereka, dan beberapa yang terlihat oleh ku dapat menjadi bentuk ekspresi ku hari itu (juga).

Gak salah kalimat yang bilang "di jalan banyak cerita, di jalan banyak ilmu, di jalana berjuta pengalaman".

Untuk pengemudi motor yang lelet banget bawa motornya, untuk ibu-ibu tua yang bawa banyak barang pake sepeda lewatin jalan raya, untuk bapak-bapak yang bantuin aku dan motor ku berdiri setelah aku jatuh, untuk lo yang selalu ngelaksonin motor-motor di depan mobil lo (menyebalkan!), untuk bapak yang sabar mengalah saat aku mau belok, untuk cewek-cewek ababil yang neriakin aku pas aku berenti karena mau belok, untuk supir truk yang ngasih jari tengahnya ke aku, dan untuk JALANAN, terima kasih.

Tuesday, November 15, 2011

Time to work

Ahhh, finally bisa berduaan lagi dengan laptop kesayangan ini. Dan semoga besok gak tergoda untuk melanjutkan tidur setelah subuh karena rasa kantuk yang luar biasa, sedangkan aku harus melaju kencang menuju Jalan Kaliurang km7 dari daerah Kotagede yang memakan waktu 30 menit tepat dengan kecepatan "buru-buru"

Yup! Jumat pagi aku mendapat sms dari owner butik tempat aku melamar hari rabu minggu lalu. Ah, sebenarnya aku rada malas membacanya, takut di terima. Loh? Ya, karena awalnya hanya iseng-iseng dan aku yakin waktu ku pasti gak banyak lagi buat nulis, nonton, jalan, senang-senang. Pokoknya bakal terbatas. Kayak sekarang ini. Ngeblog aja jadi gak bisa setiap hari.

Tapi tanggung jawab harus tetap di jalankan. Harus! Sms pagi itu hanya menanyakan tentang kesedian ku kerja di jam lebih awal dan pulang lebih lama saat libur kuliah. Aku jawab setuju, karena awalnya aku sudah memberi saran seperti itu, ketika owner butik merasa keberatan dengan jadwal kuliah ku yang masih terbilang padat. Lalu sms selanjutnya, "ditunggu kabarnya nanti sore ya". Dalam pikiran aku berdoa "semoga gak diterimaaaa".

Sepertinya hatiku tidak. Dia baik-baik saja saat jumat sorenya aku di telfon owner butik dan  mengatakan penyetujuannya menerima jadwal kuliah ku. Dar. Jadilah mulai hari sabtu itu aku harus bangun pagi setiap hari. Masuk kerja pukul 7.30 dan pulang 5.30 sore saat libur dan fleksibel saat kuliah. 

Ini lah hasil iseng-isengku. Jangan bicara tentang gaji, jauh dari UMR, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan senang-senangku. ^^. Sekarang yang aku fokusin adalah tanggung jawab kuliah dan kerja serta belajar dari keduanya.

Apapun itu butuh perjuangan, butuh pengorbanan dan selalu ada tanggung jawab di sana plus keseriusan. ^^ Dan terima kasih sepupuku yang sudah membantu aku mendapat kan pekerjaan "iseng-iseng" ini. 

Wednesday, November 9, 2011

Perjuangan

Apa perjuangan paling sangar yang pernah kamu lakukan? Sebenarnya aku merasa belum melakukan perjuangan paling sangar si, tapi adalah beberapa perjuangan yang masih aku ingat, dan membuat aku tertawa, nyesek atau malah sedih. Ini dia diantaranya.

Cinta
Siapa sih yang gak pernah berjuang untuk cinta. Tapi ingat ketika kamu sudah memperhitungakan perjuangan itu, coba koreksi lagi hati kamu,  apa benar itu cinta, karena cinta yang benar tulus gak main hitung-hitungan. ^^. 

Salah satu perjuangan cinta yang aku lakukan bukan untuk mendapatkan seseorang untuk jadi kekasih aku, tapi untuk sebuah  maaf. Yah, aku paling tidak bisa bermasalah dalam hubungan pacaran, selalu ingin segera di selesaikan. Sedangkan tipe pacar ku saat itu sangat senang berdiam diri sejenak, saling mengoreksi diri. Ah, aku tidak bisa terima, pokoknya harus selesai. Dalam waktu berdiam itu, aku tau apapun bisa terjadi.

Pagi itu aku bingung sekali memutuskan pergi atau tidak, menempuh perjalanan dengan kereta api, untuk jarak Bogor-Depok. Biasanya aku di jemput di stasiun, tapi kali ini karena keinginan aku sendiri, jadi aku harus pergi sendiri. Akhirnya menjelang siang aku pergi begitu saja ke stasiun Bogor. 

Aku merasa itu pertanda buruk. Kereta biasa tidak ada untuk jurusan Bogor-Depok. Entah sedang ada apa, aku tak mengerti. Padahal aku sudah menunggu cukup lama di stasiun. Bersama gerimis. Yah, saat itu gerimis, aku membuka payung dan duduk jongkok di antara banyak orang. Dengan ekspresi muka entah seperti apa. Perut lapar, dingin, bosancape, kesel, lengkap untuk menggambarkan aku yang kacau.

Sudah ingin pulang, akhirnya ada pengumuman bahwa kereta ekspres aku berhenti di beberapa stasiun. Dan berhenti di Depok. Aku memutuskan naik kereta itu. Masih lama juga menunggu. Aku duduk dengan perasaan gak karuan. 

Sampai di Depok, aku harus menembus hujan lagi menuju tempat dia. Dan akhirnya...berbicara, sepakat, dan damai. Meskipun tidak terlalu happy ending. Tapi setidaknya aku lega saat itu.

Tidak sangar dan garang memang, malah terkesan biasa saja. Tapi ini bukan "aku banget", bukan aku yang mau menghabiskan waktu seharian menunggu, padahal aku masih bisa melakukan banyak hal berguna lainnya untuk itu, tapi aku memilih sabar. Tidak biasanya aku mau minta maaf duluan untuk sebuah masalah dalam hubungan. Tapi aku bersedia melakukannya dengan harus melakukan sedikit perjuangan. Yah, ini lebih ke perjuangan melawan ego ku  sendiri.

Pendidikan
Aku bukan pelajar keras, bukan mahasiswa dengan buku dan pelajaran selalu di tangan, Bukan. Aku lebih suka mempelajari kehidupan.

Dari Taman Kana-Kanak hingga Sekolah Dasar pendaftran dilakukan oleh orangtua. Masuk ke SMP diwakili sekolah. Dan saat SMA, aku baru mengurusi itu semua sendiri. Tidak banyak memakan energi. Saat masuk kuliah pun aku hanya memasuki berkas sebagai syarat mahasiswa undangan. Begitu juga dengan kuliah program Sarjana sekarang, hanya mengirim bebrapa berkas dan masuk begitu saja. 

Yah, untuk belajar, aku hanya memberika  fokus untuk sesuatu yang memang memerlukan fokus. Sering kali aku berharap bisa belajar ekstra agar mendapatkan hasil benar-beanr cemerlang, tapi itu pasti menyita aku untuk belajar banyak hal lainnya. Jadi untuk saat ini hanya fokus itu yang maish ku genggam

Organisai
Saat di SMA aku tergabung dalam organisasi Siswa Pecinta Alam. Awalnya tidak niat, tapi setelah masuk malah habis-habisa. Aku menduduki posisi ketua. Ketua dalam organisasi yang sebelumnya vakum. Jadi harus kembali memperkenalkan, menyusun program, menghidupkan kembali manajemen internal dan eksternal. Ah repot. 

Saat itu aku SMA. Banyak teman. Dan pasti banyaka ajakan, untuk main, ngumpul, nonton ke bioskop, atau sekedar jalan-jalan. Tapi aku  memilih untuk organisasi kalau itu bertabrakan waktunya. Belum lagi uang jajan yang kekuar, waktu tidur yang berkurang. 
Dan berkahir membahagiakan, organisasi itu di kenal kembali, di panggil kemabli dan memegang piala lagi. Dan ini tentu hasil perjuangan ku bersama saudara-saudara di organisasi itu.

Orang Tua
Ah, aku sedih. Belum penah berjuang sangar untuk senyum mereka. Hanya mempertahan nilai-nilai kebaikan yang mereka tanamkan dan menjaga nama baik mereka. Belum membuat harum. Bagian ini paling membuat mellow, bahkan hingga jatuh ke perasaan tidak berguna. Bukan sekali dua kali aku merugikan mereka, merepotkan hampir setiap hari mungkin. Tapi yang membuat mereka benar-benar "wah" dengan aku, belum sama sekali.

"Mah, Babah... aku memang masih begini-begini saja. dan semoga kalian tidak protes terlalu banyak. Tapi aku telah berencana untuk sebuah hadiah, untuk kalian. Serius!" ^^

Pekerjaan
Aku masih mahasiswi. Mahasiswi ekstensi yang sekarang sedang mencari pekrjaan part time, untuk mengisi dompet lebih tebal lagi, mengisi waktu supaya bermutu dan mengisi perut dengan makanan lebih bervariasi lagi. Tidak hanya telor dan lele :p. 

Bangun tidur pagi tadi, aku berencana langsung mandi dan mengerjakan tugas. Tapi aku melirik koran yang baru di berikan sepupu. Setiap sabtu dia memberikan ku koran, karena katanya koran hari sabtu menerbitkan lebih banyak informasi lowongan kerja. 

Aku iseng membaca bagian yang belum ku baca. Dan ku dapati lowongan sebagai pegawai butik online. Iseng aku mengirim sms. Sekali lagi iseng. Dan sms ku langsung di balas. Berisi alamat dan syarat-syarat yang harus kupenuhi. Persyaratan standar. Aku bertanya lagi, "kapan paling telat?". Sms balasan segera masuk "hari ini. pukul 3." What! aku baru bangun, belum mandi, belum mempersipakan berkas dan sudah pukul 11. 

Pukul 12 siang aku sudah rapi. Bersiap untuk makan siang dan mencetak berkas yang disyaratkan. Dengan santai aku menyetir motor menuju tujuanku, tapi belum setengah jalan, hujan sudah turun deras. Aku memutuskan untuk terus dan tiba di tempat print dengan kondisi basah kuyup. 

Aku telah rapi, menunggu di rumah berikut dengan berkas yang sudah tersusun apik di dalam amplo. Menuggu sepupu yang akan mengantar. Sudah pukul 2 siang, dan sepupuku masih belum tiba. Padahal perjalanan cukup jauh, Kotagede-Jakal Km7. Dan hujan smekain deras. Baru saja aku memilih duduk kembali di ruang tv, sepupuku berteriak memanggil.

Aku duduk di belakang tanpa mantel dan sepupuku mengendari motor dengan mantel birunya menembus hujan menuju Jalan Kaliurang. Dingin. Tidak terlalu sulit menemukan alamatnya. Tapi cukup jauh. Langsung wawancara dan dijanjikan keputusan hari jumat pagi.

Di perjalanan pulang baru aku merasa tidak nyaman. Pusing, dinign, lapar. Jadi satu. Belum lagi jalanan yang penuh dengan kendaraan lain dan asap knalpot yang menumpuk. Sampai di rumah dengan keadaan basah yang mengenaskan. 

Entahlah apa yang terjadi besok, entahlah bagaimaan keputusan jumat pagi nanti. Aku tau owner butik itu terganggu dengan jadwal kuliah ku yang masih cukup padat. Tapi setidaknya, aku telah mencoba dan berusaha untuk itu. Untuk apa yang aku inginkan, bertanggung jawab untuk apa yang sudah aku "isengi". Perjuangan itu saja telah memebri warna terang dalam warna warni perjalanan hidup ku.

Apapun hasilnya, tidak akan meng-abu-abu-kan aku yang telah berwarna. Jadi, berjuanglah untuk sesuaut yang kamu inginkan. Dan hasilnya, serahkan pada Tuhan. DIA paling tau yang benar-benar kamu butuhkan. Selamat berjuang.



Sunday, November 6, 2011

Mimpi bersama yang :Habis

ku sempat berpikir tentang banyak hal yang ku miliki, dapat kumiliki seutuhnya sampai nafas aku gak berheMbus lagi. Tapi dalam pemikiran itu aku melupakan satu hal, bahwa: kehidupan itu berputar, apa lagi kalau yang dimiliki itu manusia, manusia punya hati yang jelas bisa merasa perubahan, punya pemikiran untuk merealisasikan perubahan dan fisik yang menjadikannya nyata. Awalnya, seperti sekarang ini, sangat sulit untuk berdiri. ibaratnya: terbiasa berdiri dengan dua kaki, tapi sekarang harus berdiri dengan satu kaki, kadang goyah, kadang tegap, namun pilihan cuma ada satu, yaitu : terus berdiri dan berani melangkah ke depan.

beberapa nasihat pernah aku luncurkan kepada beberapa orang, "kamu gak sendiri, satu yang pergi maka akan datang yang lebih istimewa lagi buat kamu. TUHAN gag tidur, dan gak akan ngebiarin hati kamu merasakan sakit yang kamu gak mampu, and the least, kata-kata basi "setelah hujan, akan ada pelangi". but in real, susah banget ngelakuinnya. yang ada rasa terpuruk dan gurat kecewa menggores samar di wajah, walau tak pernah terlihat, tapi hati jelas merasakannya.

kecewa itu adalah rasa yang sulit di temukan obatnya. makanya, aku dapat merasakan hari ku akan rusak bukan main jika dengan sadar aku telah mengecewakan seseorang, apa lagi kalau banyak orang. bisa-bisa aku depresi. aku terlalu "sosial" yang gak akan bisa hidup tanpa seseorang yang dekat dengan ku. hanya saja sering aku pura-pura tega dan terlihat cuek, padahal sangat sensitif. thx berat buat "hati-hati" yang selalu "ada". kalian memang kadang tak tampak, tapi aku tau, ketika aku menyebut nama kalian, kalian akan menyaut panggilan ku, akan menjawabnya kemudian memastikan aku akan baik-baik saja. Macaci.

sepanjang perjalanan yang sudah aku lewati, aku yakin ada banyak hati yang sudah merasa kecewa dengan segala tingkah ini. kalau aku ucapkan kata maaf untuk semua itu, maka note ini akan berakhir basi. hanya pengakuan kepada, entah siapa, dan ucapan terima kasih, juga, entah kepada siapa. lewat tulisan ini aku hanya ingin membuyarkan semua yang aku rasa, bahwa sebuah hubungan memerlukan kejujuran, memerlukan pembicaraan, semua masalah gak akan pernah selesai hanya dengan diam dan menganggapnya gak ada. aku sering memilih untuk diam daripada berbicara panjang lebar, menurut ku hanya menghabiskan tenaga. tapi sekarang aku merasakan akibatnya. DINGIN.

berulang kali, setiap malam, aku menyadari ada air mata di balik tangan yang menutupi seluruh wajah. karena banyak hal "rusak" yang aku gak tau, memulai dari mana untuk memperbaikinya. karena terlalu sering memilih diam. dan lagi-lagi pilihan hanya ada satu : menghadapinya.

tapi yang terakhir tak selamanya berakhir, dan terkadang, hati harus siap jika semua itu memang harus berakhir walau tak ingIn berakhir. termasuk rasa. lewat titik-titik hujan, lewat air mata yang terjun diam-diam,ku haturkan rasa ikhlas dengan semua yang sudah berakhir walau tak ada wish, untuk semua itu berakhir. "mengerti" itu tak berbatas, karena sisi itu 360 derajat. tapi akhir ini, hanya bermuara pada suatu satu pengertian dan jawaban.lagu-lagu indah dalam hujan itu, HABIS diam-diam tanpa arti lagi.

Bagian I

Menahan kantuk malam ini...

- Sungguh tentang benar dan salah itu hanya bentuk relatifitas dari sudut pandang yang mengalami atau yang pernah mengalami atau yang menggabungkannya dengan beberapa teori. Selalu tak bisa sama, selalu ada pandangan lain, karena setiap orang menjalani hidup berbeda dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Sebuah pandangan yang lahir dari rasa yang tak sama, dari kepentingan yang pasti berbeda.

* Ketika keduanya bertentangan namun merasa yang sama, yaitu sama-sama merasa benar atau salah  akan menghasilkan perbedaan yang semakin jauh, seperti magnet berkutub sama, semakin menolak. Dua nilai yang berbeda, namun memang harus berbeda agar dapat bersatu dalam kata "maaf".

# Rasa lelah berlebihan dapat melunturkan tanggung jawab, melupakan kewajiban, merasa benar seketika, maka itu jangan ambil kesimpulan ketika merasa benar-benar lelah, sungguh itu dapat menghancurkan kebaikan yang butuh ratusah jam membentuknya, ribuan hari membangunnya, karena lelah berlebihan membuntukan kewajaran dalam berpikir... (based onthe true story n meaning real tired).

Saat melihat kehidupan orang lain yang begitu indah, begitu lengkap, terasa begitu sempurna, bahkan seketika lupa bahwa kesempurnaan itu hanya milik-NYA, dan tanpa izin rasa iri sering datang, rasa ingin menginginkannya, dan saat itu rasa tak bersyukur itu datang. Dan melupakan bahwa porsi dari TUHAN tak pernah meleset, selalu dan pasti benar. TUHAN memberikan apa yang kita miliki saat ini, karena memang ini yang kita sanggup miliki...

*Mengapa selalu rasa sakit? kenapa sedih ini datang selalu?
apa selalu bertanya, akan selalu di jawab,, hidup memang penuh pertanyaan, tapi tak semua dapat di jawab, hanya orang-orang terpilih yang menerima jawaban lewat TUHAN, jika tidak di beri tahu, bersyukurlah, mungkin hatimu sedang tak sanggup menerima jawaban.Begitu pun ketika sedang disakiti, habis hari untuk meratapi hari, nasib, tapi lupa, bahwa TUHAN sedang menghadiahkan kekuatan lagi untuk mu, kekuatan terbaru dari rasa yang kau anggap sakit tadi (dari seorang saudara untuk saudara)

*Ketika datang ke sekolah atau ke kampus untuk menimba ilmu, apa pernah terpikirkan untuk mendapatkan hal-hal baru, pengetahuan2 baru, bukan hanya terpaku pada materi pelajaran, materi dari modul, dari dosen atau slide? pikiran itu akan selalu menghadirkan pertanyaan yang akan berguna suatu saat nanti (inspired from 3 idiots film). Begitu juga dengan berbicara, seringkali saya di hadapkan pada seseorang yang menurut saya juga orang banyak (sungguh kurang ajar anggapan ini) orang itu tidak lebih pintar, tidak lebih berpengetahuan dari saya dan orang lain yang menganggap itu, karena rekaman nilainya tak begitu "baik" . Hanya karena itu, sempit sekali! Pembicaraan sangat membosankan, karena terasa hanya saya yang tau segalanya, ini: menggeleng, itu: tidak tau. "Lalu apa yang kau tauu haa?". Tapi saya mencoba untuk bercerita tentang diri saya sendiri, tenang kehidupan saya, kesukaan saya, tentang apa yang saya cintai, saya mutlak bercerita, tanpa ada keinginan untuk menarik dia menjadi saya ( yang sekali lagi dengan kurang ajar nya masih merasa lebih baik). Dan saat itu lah,,,saat dia juga menceritakan tentang dirinya sendiri, saat itu juga saya merasa ada banyak hal menarik dari dirinya, karena apa yang dia sukai, dia lakukan, tidak sama seperti yang saya dan kebanyak orang lakukan (bukan kah berbeda itu selalu tampak menarik? terserah itu mau positif atau negati).Pembicaraan itu terasa begitu menyenangkan, terasa menghentikan waktu. Saat itu saya mendapatkan pembenaran tentang "bercerita dan mendengarkan adalah awal untuk sebuah hubungan yang baik" dan " bercerita itu tanda mau berbagi, mendengarkan itu tanda peduli". Dan pembicaraan terbaik bermula dari tentang diri sendiri, karena jika baik, akan menghasilkan penerimaan apa adanya yang tulus. (aku menyesal dear pernah menganggapmu seperti itu, sungguh ini pikiran sempit, tapi aku bersykur di beri kesempatan mengenalmu :) )