Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, May 18, 2012

Katty dan Karin

Katty mematut dirinya di depan cermin setinggi 180 cm. Tubuhnya bahkan hanya satu perenam tinggi dari cermin itu. Ke kiri, ke kanan, berusaha berdiri menghadap ke belakang, memainkan ekor. "Sudah aku bilang, aku yang tercantik di sini", gumamnya sambil tersenyum angkuh. Katty masih ceria dan begitu percaya diri 3 tahun yang lalu.

Putih bersih, tebal, bersih, hidung pesek dan mata bulatnya yang biru di sertai bulu mata nan indah, Katty menjadi kucing favorit di sebuah komplek perumahan ternama. Di huni oleh kaum hedon, yang tak mempunyai kesulitas sedikitpun dalam keuangan, bahkan bisa di jamin tujuh turunan tak akan habis.

Hidup Katty bak seorang putri, mempunyai ruangan khusus, perawat khusus, semua serba khusus. Bahkan perawat Katty mempunyai bagiannya masing-masing. Nyonya Sury sangat membanggakan Katty. Setiap sore, saat mereka berjalan sekedar mengelilingi taman komplek nan megah, semua mata yang ada di sana, bahkan sulit membagi mana yang harus di lihat dengan seksama. Nyonya Sury, sebagai seorang istri dari Tuan Sury yang memiliki 45 cabang perusahaan baik di Indonesia maupun di Luar Negri, hasil dari perawatan dan perkawinan kedua orang tuanya, menghasilkan wajah, tubuh serta keseluruhan fisiknya cantik luar biasa. Kulit kuning langsat bersih, bertubuh tinggi langisng, berkaki jenjang, sangat Indonesia namun tentu saja cantik dan menarik. Kalau Katty? Jangan lagi di tanya, sudah 3 tahun ini Katty menjadi kucing tercantik di Komplek ini, atau mungkin dunia.

Hari itu, rumah yang tepat berada di depan kediaman Nyonya Sury di isi oleh tetangga baru. Tuan Magic dan Nyonya Agis. Pasangan suami istri itu berserta kedua anaknya adalah pencinta binatang. Ada lima jenis hewan peliharaan mereka yang turut serta menjadi penghuni baru. Ical si Anjing. Jewel si kucing berbulu pirang. Ibas si  Kura-Kura, Bagas si Marmut dan terakhir yang paling menyeramkan namun menjadi kesayangan Tuan Magic, Raka si Buaya. Ical dan Jewel menjadi hewan peliharaan Rika si sulung perempuan sementara Ibas menjadi peliharaan Diman si bungsu leaki-laki dan Nyonya Agis adalah sisanya. Mereka semua seperti sebuah keluarga yang ramai dan bahagia.

Halaman kediaman Nyonya Sury cukup unik. Pada kebiasaannya halaman sebuah rumah adalah taman dan air mancur. Namun kediaman Nyonya Sury sunguh unik, mereka semua memang selalu menajdi pusat perhatian semenjak menjadi penghuni komplek itu 3 tahun yang lalu. Halam di bentuk seperti pantai lengkap dengan ombak buatan. Biasanya pemandangan seperti ini lebih cocok di halaman belakang, namun keluarga ini ingin menghadirkan kedamaian bagi siapa saja yang menginjak kediaman rumah ini pertama kali. Sungguh unik. Namun sungguh terlihat cantik. Replika pantai itu sungu mirip seperti film-film Hollywood, ada rumah di tepi pantai. Namun kali ini rumahnya lebih besar dari pantainya.

Pagi itu Katty sedang asik berjemur, di temani dengan pengawalnya yang saat itu sibuk mempercantik kukunya setelah memijat Katty. Ical pun saat itu sedang asik bermain basket bersama Tuan Magic. Katty melepaskan kaca matanya, mengamati Ical dengan cermat. Lima belas menit Katty terus memandangi Ical. Lalu dia memutuskan untuk masuh ke rumah.

Dua tahun yang lalu. Ketika Katty belum mengenal Kara, Katty adalah kucing periang yang senang bercengkarama bersama kucing-kucing komplek lainnya. Suka berbaur, bercerita, bergosip atau melakukan perawatan bersama. Namun setelah hari itu, setelah Katty sadar akan perbedaan itu, setiap sore Katty hanya menghabiskan waktu dengan berjalan di samping Nyonya Sury. Kemudian mendengarkan cerita Nyonya Sury dan membalas cerita itu dengan tatapan. Namun Nyonya Sury tak pernah tau, luka yang di simpan Katty dua tahun ini.

Kara adalah hewan peliharaan yang bebas, meskipun begitu Kara selalu ingat pulang dan selalu ada jika pemiliknya membutuhkannya. Kara sering berjalan keliling komplek saat pagi dan sore. Sekedar Jogging atau mengiring bola basket kesayangannya. Saat itu Katty baru menjadi penghuni komplek, sementara Kara, yang mempunyai majikan seorang duta besar asala benua Eropa, telah empat tahun berada di sana.

Katty tak pernah tau apa itu perbedaan. Katty senang melihat Kara dan murung jika sehari saja tak bertemu Kara. Setiap hari Katty selalu mencari tempat untuk sekedar melihat Kara. Entah itu saat sedang berjemur, bergosip, semua hal itu adalah hal penting nomor dua, yang pertama adalah melihat Kara.

"Kita hanya boleh jatuh cinta dengan sesama kucing Katt" komentar Ika tiba-tiba, saat kedua sahabat itu sedang melakukan diam bersama. Katty benar-benar sedih saat itu, sehingga dia hanya butuh teman untuk diam bersama.
"Kalau memang begitu, kenapa aku punya perasaan ini?" Katty yang cantik berubah murung beberapa hari setelah menyadari perbedaannya dan Kara.
"Buat ngajarin kamu, kalau perbedaan itu ada, kalau ada perbedaan yang gak bisa kamu bantah, kalau ada perbedaan yang memang harus kamu terima, dan antara cinta dan rasa ingin memiliki itu beda."
"Harus ya pelajaran itu aku dapat dengan cara kayak gini?"
"Tuhan ngajarin kita banyak hal dengan cara yang beda-beda Katt."
"Hhhhhhhh" Katty menghela nafas dan menunduk. 
Malam itu Katty membasahi tempat tidurnya yang beralas sutra dengan air mata.

Katty teriangat pembicaraannya dengan Ika satu minggu yang lalu, yang mengambil sebagian semangat Katty untuk menjalani hidup.
"Kamu kenapa si, kok senyum-senyum terus? Lagi jatuh cinta yaaa?" cecar Ika sore itu saat mereka sedang manicure bersama
Katty hanya senyum.
"Cerita dong Katt, sama siapa? Gilang, Agung, Rio atau?"Ika menyebutkan nama-nama kucing jantan di komplek.
"Bukan kucing Ka...." Katty masih menjawab dengan wajah penuh senyum.
"Ha? Lalu?"
"Kaaa...raaa.." Katty menjawab terbata
"Katt kamu tau kalau Kara beda sama kita. Sekalipun Kara juga suka dengan kamu, gimana kalian bisa berkomunikasi. Kehidupan kalian jelas beda Katt."
Katty seakan tersadar, apa yang di rasakannya tiga bulan terakhir ini adalah hal yang salah.

Namun dua bulan masih bisa di atasi Katty dengan baik-baik saja, Kara masih tetap di perhatikannya dari jauh. Namun setelah Kara pindah bersama majikannya ke luar negri Katty perlahan menarik diri, lebih banyak menghabiskan waktu untuk sekedar berdiam di replika pantai, ruangan membacanya atau menulis sebanyak banyaknya puisi. Terkadang Ika datang menghampiri Katty, sekedar menghibur dengan melakukan kebiasaan mereka yang menyenangkan. Namun Ika sadar, kepergian Kara mengambil sebagian ceria Katty. Dan dia kehabisan cara untuk mengambalikan Katty yang dulu.

Ical dengan bola basketnya mengingatkan Katty akan Kara. Pagi menjelang siang itu Katty berhenti berjemur dan masuk menuju kamar Nyonya Sury. Katty mendapati Nyonya Sury sedang melamun. Wajah cantiknya tak hilang barang sedikitpun, cantik yang sedang berduka. Katty datang dan duduk di pangkuan Nyonya Sury. Katty tau Nyonya Sury begitu kesepian. Kesibukan suaminya dan ketiadaan buah cintanya bersama suami membuat Nyonya Sury sering kali bersedih.

Sekalipun sedang tidak sibuk Tuan Sury lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Dua orang yang tidak lagi menginginkan hal yang sama, di paksa bersama entah karena apa, hingga yang tinggal hanya luka dan sandiwara. Nyonya Sury sadar, Tuan Sury masih mempertahankan pernikahannya hanya karena kecantikannya yang luar biasa, yang dapat di b anggakan kemanapun Tuan Sury pergi untuk urusan bisnis dan Nyonya Sury bertahan dengan ketulusan cintanya.

"Kadang memang harus ada yang kita tinggalkan dalam hidup ini. Entah itu untuk sementara waktu atau selamanya, untuk memberikan pesan untuk yang menyianyiakan kita" Katty berkata lirih dalam hati lewat tatapan matanya saat Nyonya Sury menatapanya bersama aliran air mata.

Katty duduk di atas bukit. Matahari yang baru saja terbit sedang cantik-cantiknya tampil tepat di hadapannya. Katty memejamkan matanya. Semua kenangan itu terlintas seiring satu tarikan nafasnya. Katty membuka matanya. Karin, yang sekarang berstatus janda masih memejamkan mata di sampingnya. Katty beringsut ke pangkuan Karin.Keduanya meninggalkan kemewahan, kenyamanan bersedih dan memilih menjalani dan menikmati sisa hidup sebaik-baiknya, di sebuah kota kecil di Swiss. 

"Meninggalkan bukan berarti tak mencintai, menginginkan juga bukan berarti telah mencintai dengan baik."

Wednesday, February 23, 2011

Tunangan

Akibat dari tidak ada kerjaan ditempat magang, jadi membebaskan pikiran untuk mengkahayal, dan jadilah karya ini dalam dua jam. enjoy....
Hari pertama menjadi mahasiswi magang satu-satunya dari universitas tempat Virsya kuliah dan sebagai satu-satunya mahasiswa magang yang ada di salah satu bagian dari salah satu kantor pusat BUMN yang termasuk deretan perusahaan besar, tidak membuat Virsya merasa tidak nyaman, justru sebaliknya. Pembimbing lapangnya sangat ramah, meskipun pendiam dan bersedia memperkenalkan Visrsay kepada semua karyawan yang ada di tempat Virsya akan magang dua bulan ke depan.
Virsya merupakan mahasiswi Diploma yang wajib melakukan Praktek Kerja Lapang sebagai syarat kelulusan, yang nantinya akan di tuangkan ke dalam sebuah laporan akhir, lalu diseminarkan dan disidang. Setelah melewati rangkai prose di semester akhir ini dengan baik, maka Virsya dapat dinyatakan lulu dengan gelar Ahli Madia. Meskipun hanya mahasiswa D3, Virsya tidak pernah minder atau merasa rendah di antara teman-temannya yang kebanyakan S1 dan di tempat dia magang. Karena menurutnya, kemampuan berpikir juga harus diimbangin dengan skill, dan kami mahasiswa D3 menguasai keduanya secara seimbang. Jadi bagi perusahaan yang akan menggunakan jasa kami tak perlu meraguakan kemampuan kami dalam penerapannya.
Hari kedua magang Virsya datang dengan seragam orang kantoran, yang rapi, menggunakan blazer dan rambutnya di cepol cantik dengan pita sebagai hiasan serta make up tipis yang membuatnya tampak lebih manis. Virsya memang menginginkan perkerjaan seperti di tempat dia magang. Alasannya, karena fasilitasny yang menyenangkan serta unit yang Virsya pilih merupakan unit yang sering melakukan perjalanan ke luar kota. “with good facility and often to go thers city”, demikian jawaban Virsya saat di Tanya seorang guru les baha Inggrisnya saat di minta mendeskripsikan tempat kerja yang diinginkan.
Virsya dikenalkan kepada senior manajer unit di tempat dia magang. Virsya menjelaskan dengan lancer dan sangat lengkap dengan suara cemprengnya mengenai judul yang dia ambil, apa yang dia inignkan dan apa yang bisa dia berikan kepada perusahaan ini. senior manajer tidak langsung terkesan dengan apa yang Virsya sampaikan, meskipun Virsya mgnutip beberapa pendapat orang-orang hebat dalam penjelasannya. Menurut senior manajer yang sudah cukup tua tersebut, harus ad aide kreatif dari Virsya untuk membuktikan apa yang dia kuasai tentang judul yang dia ambil. Corporate Social responsibility is about how companies manage the business process ti produce an averall positive impact on society (Johnson and Johnson, 2006)
Virsya manyun di depan meja kerjanya yang baru lengkap dengan fasilits laptop dan sajian segelas air putih. Sebagai mahasiswa magang Virsya juga menikmati beberapa fasilitas. “sudah jelas-jelas pelestarian itu untuk mempertahankan suatu sumber daya alam agar tetap ada, malah di suruh cari lagi konsep yang lain. Sudah jelas pendanaan bagi pelestarian lingkungan itu harus bersifat terus menerus, kalau enggak gimana pelestarian mau berjalan terus, malah disuruh cari cara lain” gumamnya dalam hati.karena di beri waktu tiga hari untuk menyempurnakan program kerja yang belum selesai dilakukan, Virya menghabiskan hari kedua dengan memanfaatkan fasilitas internet yang ada. Dengan mendownload 100 lagu sekaligus. Tepat pukul 6, Virsa keluar ruangan. Karena pintu ruangan hanya bisa dibuka oleh karyawana tetap, jadi saat Virsya pamit pulang, pembimbing lapangnya menghantarkan Virsya hingga ke luar ruangan.
Terima kasih ya Pak. Maaf merepotkan” Virsya tersenyum malu-malu. Ada rasa yang aneh di dalam hatinya.
Sama-sama Virsya. Hati-hati di jalan. Dan selamat mendengarkan lagu-lagu barunya yah” Pak Pri langsung berlalu meninggalkan wajah bengong Virsya sambil tersenyum jahil.
“Ketauan lagi..” gerutu Virsya pelan.
Keesokan harinya Virsya tampil lebih modis dengan dress ungu berkerah dan menggunakan outerwear abu-abu. Tubuhnya yang terbilang tinggi menjadi lebih enak dilihat dengan paduan sepatu hak tinggi hijau lumut dan tas model vintage berwarna hitam. Hari ini Virsya bertekad akan benar-benar kerja. Dia sudah cukup malu dengan sindiran kecil Pak Pri sebagai pembimbing lapangnya.
Setelah membaca berbagai referensi dari internet dan buku serta menghubungkannya dengan materi ilmu dan penerapan yang sudah didapatkannya di bangku kuliah. Virsya berhasil membuat program kerja baru untuk memperbaharuai program yang telah berjalan agar lebih maksimal. Virsya berulang kali membaca hasil tulisannya dan mempraktekan presentasi yang akan dia lakukan. “tugas gini aja di kasih waktu lama banget, cemeeen” gumamnya saat merasa semua sudah dikuasainya dengan maksimal, termasuk tambahan-tambahan program kreatif lainnya.
Virsya melirik kanan kiri depan belakang, melihat karyawan lain yang masih sibuk dengan kerjaan masng-masing. Menja Pak Pri yang tepat berada di sebelah kiri belakang Virsya, melihat Pak Pri yang sibuk bekerja dengan muka dinignnya dan keningnya berkerut, Virsya terssenyum kecil. “Lucu juga” gumamnya. Virsya merapikan mejanya dan kembali melirik ke Pak Pri. “Muda-muda serius kerja banget sih” komentar keduanya saat melihat Pak Pri masih sibuk bekerja.
Rekan kerja Pak Pri yang duduk tepat dibelakang meja Virsya memperhatikan Virsya yang sedang mmeperhatikan Pak Pri.
“Bro, tadi mahasiswa magang itu ngeliatin lo terus. Naksir kayaknya. Sikat aja, lo kan masih muda. Dia juga udah tingkat akhir, cantik, pinter lagi”
Pak Pri yang pada dasarnya pendiam, hanya tersenyum kecil menanggapi celotehan rekan kerjanya. Pak Pri memang masih single dan masih terbilang muda. Wajahnya yang putih bersih bersanding dengan tubuhnya yang tinggi seerta penampilannya yang selalu rapih menyimpulkan suatu pendapat pasti: ganteng. Itu kesan pertama Virsya saat bertemu Pak Pri. Walaupun Virsya tau Pak Pri masih muda muda, Virsya tetap professional memanggilnya dengan sebutan “bapak” selam di kantor.
Enam minggu berlalu. Apa yang dikerjakan Virsya memuaskan senior manager unit tempat Virsya magag. Ide-ide kreatifnya membantu unutk program kerja selanjutnya. Hobby membacanya dan pergaulannya yang luas membuat Virsya mendapat pengetahuan-pengetahuan baru yang dapat diaplikasinya untuk berbagai ide kreatif. Virysa di tawarkan untuk melanjutkan kerja magangnya selama enam bulan ke depan lagi setelah dia dinyatakan lulus, jika terus memberikan kontribusi yang baik maka Virsya akan diangkat jadi karyawan tetap. Virsya sangat bahagia mendengar keputusan dari senio mahager. Selain mimpinya yang dapat menjadi kenyataan, setiap hari dia bisa melihat wajah Pak Pri yang sibuk bekerja Dua minggu selanjutnya hanya diisi Virsya dengan menulis laporan akhir dan melengkapi data-data yang dia butuhkan.
“Gila broo, setiap hari dia ngeliatin elo…apa lagi kalo bukan suka. Tinggal seminggu lagi dia di sini. Gerak dong lo, ntar nyesel lagi lo” Pak Fardi kembali menyemangati Pak Pri.
“Iya sih, dua minggu ini gue sadar dia ngeliatin gue. Gue sengaja naro cermin di meja gue.” Pak Pri menanggapi dengan wajah kaku.
“Baru ngomongin aja lo udah grogi bro. pantes lo jomblo bertahun-tahun. Udah besok lo ajak dia makan siang bareng”
Pak Pri hanya tersenyum kecut.
Pak Pri masih belum berani untuk mengajak Virsya makan siang, hingga dua hari terakhir Virsya menyelesaikan Praktek Kerja Lapangnya. Saat Virsya sedang sibuk merapikan mejanya. Sudah jam makan siang.
“Mau makan siang Vir”
“Iya Pak”
“Mau bareng saya?”
“Bo..leh Pak.”
“Bapak…makasih yah sudah membantu saya selama praktek kerja lapang ini” Virsya membuka obrolan.
Pak Pri hanya tersenyum.
“Bapak sudah tau gak? Kalau saya di tawarkan untuk kembali kerja magang setelah saya lulus nanti. Kalau kerja saya bagus, nanti saya bisa jadi pegawai tetap Pak. Jadi ini bukan perpisahan kita Pak. Hehehhehehhe” Virsya melanjutkan celotehannya dengan santai sambil mengunyah gado-gado pesanannya.
Tanpa sadar kalimat Virsya barusan membuat Pak Pri bertambah grogi dan wajahnya terlihat tegang. Kita? Seakan-akan jika memang berpisaha, Virsya akan sangat sedih. Dalama hati Pak Pri tersenyum. Virsya yang merasa tidak nyaman dengan keheningan dan sulit memaklumi sikap pendiam Pak Pri saat makan siang ini  dengan suasan yang santai, menoleh menatap wajah Pak Pri.
“Bapak sakit?” Tanya Virsya seketika saat melihat wajah tegang Pak Pri.
“Haa….Ah…enggak kok”
“wajahnya pucat gitu. Saya pesanin teh manis anget yah? Mau pak?”
“gak,gak usah Viir.
Makan siang itu berakhir dengan wajah penuh tanda tanya Virsya dan wajah tegang Pak Pri. Pak Pri kembali bekerja dengan tidak konsertasi dan Virsya yang merasa wajah tegang Pak Pri tanpak lebih lucu terus-terusan mtersenyum mengingat kejadi makan siang tadi. Pak Fardi yang memperhatikan senyuman Virsya usai makan siang mengartikan lain. Virsya sedang berbunga-bunga.
“senyum-senyum terus ni Vir. Ada apaanni tadi siang?”
“abis makan siang sama Pak Pri Pak”
Jawaban Virsya yang apa adany kembali menegangkan wajah Pak Pri yang sudah berusaha rileks.
Saat makan siang di hari terakhir, Virsya memanfaatkannya untuk mengucapkan terima kasih kepada semua karyawan yang sedang berkumpul di kantin. Hari ini dia berencana pulang cepat karena ingin mengepak barang bawaannya kembali ke Bogor tempat tinggalnya. Selama di tanggerang, Virsya tinggal di kostan.
Saat Virsya menyalami Pak Pri dan memberi ucapan terima kasih, untuk kesekian kalinya, Pak Fardi berdehem yang membuat karyawan lain menangkap ada sesuatu diantara mereka berdua.
“oh, jadi Virsya nih yang bisa meluluhkan hati Pak Pri?”ceplos salah satu karyawan wanita Wajah Virsya memereah seketika, Pak Pri seperti biasa kembali menegang layaknya orang sakit.
“Padahal kan katanya Pak Pri mau melamar Gita ni” timpal Bu Eli secara sembarang membuat Bu Gita langsung mencubit geram Bu Eli. Karena sesungguhnya Bu GIta pun merasa cemburu dengan yang terjadi di hadapannya.
“Wah nanti kalau saya melamar Gita, Virsya bisa-bisa kecewa” balas Pak Pri mencoba rileks dan mencairkan hatinya dengan candaan yang malah terdengar memaksa. Sebagian membelalak, kecuali Bu Gita, yang terpaksa pura-pura senang, padahal dalam hati merasa sangat cemburu.
“Ah Bapak bisa aja. Gak lah Pak, lagian saya juga mau ngundang Bapak Ibu semua disini untuk hadir keacar tunangan saya sabtu besok. pada datang yahhh”
GLEK!!!

Wednesday, February 16, 2011

Cinta???

Ini salah satu cerpen karangan aku sendiri yang aku buat dengan cengar-cengir saat malam menghampiri pekatnya...pas aku baca ulang sekarang, komentar pertama ku "remaja pisaaaaan". Tapi setidaknya ini adalah bagian dari aku...
***

Sujay, Rifko, Ega, dan Celo adalah sekumpulan cowok-cowok pintar. Selalu mendapatkan juara di kelas. Mereka selalu bergantian untuk mendapatkan rangking satu. Kalau semester ini yang menjadi juara satu Sujay, semester yang lalu adalah Rifko dan selanjutnya adalah Ega dan begitu seterusnya. Entah itu direncanakan atau hanya kebetulan. Mereka juga bersahabat dengan baik. Sering belajar kelompok bersama dan mengerjakan PR bersama. Dan sama-sama tidak ahli dalam urusan cewek.

Sekarang mereka sudah kelas 1 SMA. Dari SMP mereka selalu satu kelas. Entah mengapa guru-guru tidak pernah memisahkan mereka. Menyebalkan memang, karena itu menutup peluang untuk anak-anak lain, yang satu kelas dengan mereka berempat untuk mendapatkan juara. Karena pasti mereka yang memboyong peringkat empat besar.

Mereka sering mengikuti lomba-lomba yang berhubungan dengan akademik. Dan perlombaan itu sering di menangkan oleh mereka juga. Si Sujay ahli dalam hal matematika, Rifko dalam hal fisika, Ega ahli dalam bahasa inggris dan Celo ahli dalam biologi. Mereka memiliki keahlian  yang berbeda-beda. Dan itu dimanfaatkan mereka dengan sebaik-baiknya, bahkan untuk mendapatkan uang. Seperti Sujay, Rifko dan Celo mereka membuka kursus privat untuk anak-anak SD dan SMP. Sujay mengajar Matematika, Rifko mengajar Bahasa fisika dan Ega mengajar bahasa Inggris. Hanya Celo yang tidak membuka kursus privat, karena orang tua Celo malarangnya. Celo adalah anak satu-satunya, jadi orang tua Celo over protektiv terhadapnya. Lagian ke dua orang tua Celo tergolong mampu. Tidak seperti Sujay, Rifko dan Ega, orang tua mereka bertiga hanya membuka usaha kecil-kecilan. Dan masih kekurangan dalam urusan keuangan.

Setelah mereka SMA, mereka sadar satu hal. Bahwa mereka belum mempunyai pacar. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Sampai akhirnya Ega mengajak ke tiga temannya untuk taruhan
 “Eh sekarang kan udah masuk semester dua. Kita belum punya cewek juga nih. Padahal kan kita termasuk golongan lumayan. Apalagi kemampuan akademik kita. Bener gak?”, ujar Sujay bersemangat.
“Betul banget, gue juga udah gerah ni sendiri mulu”, jawab Rifko berapi api.
“Emang penting apa!”, sahut Ega dengan gaya cool nya.
“Ya…. Ela penting dong. Kalo kita terus-terusan berempat aja. Gak punya cewek ampe kelulusan entar. Bisa-bisa kita di katain homo. Ogah gue”, jawab Sujay sambil memasukan snacknya ke dalam mulut.
“Gue juga gak mau kali”, sahut Rifko santai.
“Lo setuju Cel?” tanya Sujay ke Celo yang dari tadi hanya diam.
“Boleh juga. Batas waktunya kapan? Trus hukuman yang kalah apa?”
“Batas waktunya sampe semester dua entar berakhir. Buat ngebuktiinnya lo semua wajib membawa cewek-cewek lo ke rumah kita-kita. Misalnya gue udah dapat cewek, gue mesti bawa cewek gue ke rumah Rifko, Ega dan Celo. Dan mesti ada pengakuan juga dari cewek kalian tentang status kalian. Dan mesti jujur. Kalo ada yang ketauan bohong. Di keluarin dalam kelompok ini. Setuju,” ujar Sujay seperti berpidato.
“Hukumannya apa dari tadi lo cuma ngejelasin aturannya doang?”, tanya Celo lagi.
“Masalah hukuman kita atur entar aja. Yang terpenting ada cewek aja dulu.”, jawab Sujay santai.
“Ini namanya bukan taruhan”, sahut Celo malas.
“Elo nih…. Banyak aturan banget. Oke hakuman bagi yang kalah mesti nraktirin yang menang maen semua wahana di DUFAN. Setuju??”, tanya Ega sambil mengancungkan jempol.
“Siiiip”, jawab Celo, Rifko dan Sujay berbarengan

Mereka mulai bereaksi untuk misi taruhan itu. Mereka mempunyai kelemahan masing-masing. Di mulai dari Sujay. Kelemahan dari Sujay yaitu wajahnya. Mungkin terlalu berlebihan, tapi wajah Sujay agak mirip dengan seekor kera. Ups, sory Jay, tapi itu nyatanya bukan? Belum lagi kulit Sujay yang sangat hitam. Itu sangat mendukung kemiripan Sujay dengan seekor kera.

Kalau Rifko berbalik 1800 dengan Sujay. Rifko tampan dan putih  tinggi pula.  Dia juga ahli dalam urusan cewek. Dia tahu banyak tentang cewek. Dia bilang, untuk memahami seorang cewek adalah hal yang mudah baginya. Padahal itu salah. (Bagi pembaca cewek , setuju kan??). Hanya saja Rifko belum bisa menentukan siapa yang disukainya. Dia belum memiliki perasaan istimewa dengan seorang cewek. Patut di curigai, mungkin Rifko adalah guy. Tapi kita lihat saja dulu..

Kalau si Ega hidupnya sering di penuhi keragu-raguan. Dia ragu apa Lala memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Oke, mulai dari awal. Si Lala itu adalah cewek yang dicintai Ega dari SMP dulu, katanya. Ega sangat dekat dengan Lala. Mereka sering bercerita tentang banyak hal. Sering pergi bersama, ah pokoknya melakukan hal bersama. Namun sampai sekarang Ega takut untuk menembak. Alasannya karena takut di tolak.(Jangan pernah contoh perbuatan Ega, kalian mesti ingan kalimat ini:”seseorang tidak pernah kalah karena mencintai tapi seseorang kalah karena tak mengungkapkanya). Tapi dia sudah bertekad untuk mendapatkan Lala.

Kalau si Celo, si anak mami kesulitannya adalah……(ku pikir kalian tau). Celo takut berhadapan dengan cewek. Dia mudah sekali grogi. Entah apa yang di takutinya. Setiap ada cewek yang ingin mendekatinya, padahal hanya sekedar untuk bertanya sesuatu. Celo pasti langsung menghindar.

Sepertinya mereka sangat terobsesi dengan teruhan itu.
Sujay, mulai sibuk mempermak wajahnya. Mengolesinya dengan berbagai macam krim. Memencet-mencet komedo tiap saat. Dan dahsyatnya kemana-mana Sujay pergi memakai paying, topi dan jaket. “Takut hitam”, katanya. Sujay, Sujay… Padahal  hitamnya Sujay itu adalah hitam keturunan. Sudah gak bisa lagi deh buat di perbaiki lagi. Tapi salut deh untuk usahanya.

Rifko mulai sibuk mencari-cari siapa cewek yang akan dipilihnya. Dia mulai memantapkan pilihannya. Dan pilihannya itu jatuh kepada Fia. Cewek berkulit sawo matang dan anggota chears itulah pilihan Rifko. PDKT pun mulai di lakukan.

Si Ega ini yang aneh. Dia malah semakin menjaga jarak dengan Lala. Setiap Lala berbicara padanya, Ega selalu menghindar. Alasannya sih supaya Lala penasaran, dan saat Lala mulai sibuk bertanya apa yang terjadi dengan Ega, barulah dia akan menembak Lala. Cara yang aneh.  Apa Ega berhasil ya?

Celo jadi dekat dengan Rio. Playboy sekolah. Yang katanya anak-anak ahli banget dalam urusan cewek. Gampang banget deh buat Rio ngedapetin cewek. Celo pun mulai belajar buat naklukin cewek-cewek dengan Rio.

Mereka memang pantas di ancungi dua jempol. Walau sekarang mereka sibuk dengan taruhan itu. Tapi nilai mereka tetap menjadi yang terbaik. Pekerjaan Sujay, Rifko dan Ega pun tidak terbengkalai. Mereka memang anak-anak yang baik. Selamat deh buat cewek-cewek yang menjadi pilihan mereka.
Ujian semester telah berakhir. Sepertinya giliran Ega yang mendapatkan juara satu.
“Seminggu lagi taruhan kita bakal berakhir dan pemenang akan segera di dapatkan, kalian udah siap”, tanya Ega  saat di kantin.
“Tentunya Bro”, jawab Sujay dan Celo berbarengan.
“Lo gimana Ga?”, tanya Sujay ke Ega.
“Gue juga siap.”
Bohong tuh si Ega. Sebenarnya dia sema sekali belum siap. Wajar saja si Lala sekarang malah semakin menjauh. Mungkin Lala capek kali di cuekin terus sama Ega.
“Pulang sekolah entar gue mau nembak si Siti, tetangga gue”, kata Si Sujay bersemangat.
“Kalo gue besok”, jawab Rifko mantap.
“Gue juga”, si Celo cuma menjawab datar, sepertinya dia masih merasa takut untuk berhadapan dengan cewek.
“Lo kapan Ga”?, tanya Celo.
“Secepatnya lah.”
Bohong lagi tuh… padahal si Ega belum tahu kapan.

Wajah Sujay jadi lumayan lebih bersih dan berseri. Entah krim apa yang dipakainya. Dia telah memilih Siti yang orang Padang tulen tetangganya, untuk menjadi pacarnya. Sebenarnya Sujay ingin Grace untuk menjadi pacarnya. Namun Grace terlalu cantuik untuk Sujay. Untunglah Sujay sadar diri.

Setelah mempersipkan diri dan memakai minyak wangi, Sujay pun pergi ke rumah Siti.
“Assalamualaikum”. Sujay memberi salam di depan rumah Siti.
“Wa alaikum salam”, jawab suara di dalam.
“Eh uda Sujay”, kebetulan si Siti yang membuka pintu.
“Mari masuak”, kata Siti dengan logat padangnya.
“Ado apo uda kamari?”
“Saya mau membicarakan sesuatu.”
“A tu da?”, tanya Siti penasaran.
“Mmmm, saya sudah ,mmm, bukan-bukan.” Wajah Siti mengkerut melihat Sujay terlihat grogi.
“Cape`lah sekete` da.”
“Iyo-iyo. Mmm Uda nak jadi pacar kamu Sit. Mau gak?”, tanpa sadar Sujay mengikuti aksen bicara Siti.
“Ngapo pulo` uda ni, nak jadikan Siti pacar uda. Dulu sajo uda sombong sama Siti. La sekarang uda nak jadiin Siti pacar uda? Indak lah da. Siti la ado pacar da. Ranca` lai dari pada uda. Maaf da yo. Bukan Siti nak nyakiti ati uda. Tapi emang ba`itulah kanyatoannya. Na.. uda sekarang baliaklah, banyak karajoan Siti di dalam da. Yo da.”
“Iya saya permisi.”
Sujay pun pulang dengan kekecewaan mendalam. Siti yang seram dan jelek saja menolaknya apalagi yang lebih dari Siti.

Besoknya di sekolah.
“Cello, ne jawabanya apa ya?”, tanya Rara ke Celo. Rara adalah gadis pilihan Celo.
Celo bengong. Dia berniat untuk menembak Rara saat itu juga.
“Celo jawab kek”, Rara mulai gerah melihat kebengongan Celo.
“Gak tau”, jawab Celo datar.
“Gak mungkin!, kamu kan pinter.”
“Maksudnya, aku gak tau mau ngomong apa?”
“Ngomong apa emang?”
“Mmm Aku mau kamu jadi pacar aku”, jawab Celo cepat.
“Ngomong cepet amat sih. Gak jelas tau. Pelan-pelan…”
“Aku…mau…kamu…jadi…pacar…aku…”, jawab Celo dengan sangat pelan plus grogi.
Rara diam. Lalu…
“Kenapa si Cel, lo mesti suka dengan gue. Gue gak bisa jadi pacar lo. Gue udah punya pacar. Lagian lo kenapa gak PDKT dulu sama gue. Jadikan gue tau kalo lo suka sama gue. Nih! Lo nembak gue nya dadakan. Jadi……… gue nolak lo ya Cel.”
“Gak pa pa”, Celo pergi berlalu meninggalkan Rara. Celo juga sama kecewanya dengan Sujay.

“Gue sayang sama lo”
“Apa!”
“Gue sayang sama lo”
“Lo apa an sih”
“Gue serius”
“Gue gak”
“Kenapa?”
“Gue gak sayang sama lo”
“Jadi lo nolak gue?”
“Iya, gue udah sayang sama orang lain”
“Siapa?”
“Pacar gue lah, gimana sih lo”
“Lo udah punya pacar?”
“Udah. Baru kemarin dia nembak gue. Gue pulang ya”
Rifko menembak Fia saat pulang sekolah dari jarak 3 meter. Dan dia pun gagal plus malu karena saat itu sedang ramai-ramainya.

“La…..”
“Apa?”
“Gue mau ngomong sama lo”
“Masih mau ngomong lo sama gue?”
“Iya”
“Apa”, wajah Lala terlihat masam.
“Sebenarnya gue suka sama lo, tapi………”
“Gue ngerti kok.. dan gue juga ngerti kenapa lo ngejauhin gue. Tapi sayang. Gue udah punya pacar”
“Jadi……….”
“Gue gak bisa”
Terakhir, Ega yang merasakan kekecewaan.

Keempat sahabat itu berkumpul di rumah Celo.
“Kita barengan ya ngucapin apa yang terjadi. Hanya dengan satu kata, yaitu gagal dan berhasil, okey”, kata Sujay serius.
“Gagal!!!”,kata itu keluar dari ke empat mulut mereka. Mereka saling diam dan tertawa bersama.
“Taruhan di tutup kan?”, tanya Celo.
“Iya. Gak taruhan deh buat dapetin cewek, kalo emang jodoh juga dating sendiri”, jawab Sujay lesu. “Pulang yuk, gue mesti ngajar nih”, lanjut Sujay.
“Yuk”, jawab Ega dan Rifko berbarengan.

1 minggu kemudian.
“Sujay”, panggil Grace.
“Ada apa Grace?”
“Mmmm lo keliatan lebih tampan Jay”, kata Grace genit.
“Lo jadi pacar gue mau gak?”, lanjutnya.
“Gue gak suka di mainin”, jawab Sujay dingin.
“Gue gak main-main. Gue suka lo. Lo pinter. Gue suka cowok pinter.”
“Gue gak akan mau ngerjain PR-PR matematika lo. Jadi lo simpen aja rencana busuk lo itu.”
“Jay, plis.. gue serius nyimpen perasan buat lo. Kenapa sih lo gak percaya?”
“Bukan buat jadi babu lo?”
“Hello…….. yang bener aja”
Sujay tersenyum. Mereka pun jadian.

Celo asik membaca buku biologi di perpustakaan sekolah.
“Hai”, sapa Ely.
“Hai.”
“Bio ya?”
“Yes”
“Ummm”.
Tiba-tiba Ely mrencium Celo. “Apa yang kamu lakuin?”, tanya Celo grogi.
“Mencium kamu?”
“Kenapa”
“Because I Love You”
“Really?”
“Aha”
“Why?”
“You are different. Want to be my boyfriend?”
“Kamu kok berani banget?”
“Mumpung lagi ada kesempatan aja buat mengakuinya. Kata orang kesempatan tuh jarang banget datang dua kali”, jawab Ely santai.
“Okey”
“Yes”. Jadian deh Celo dan Ely. Namun Celo tidak begitu yakin dengan Ely. Ely bukanlah tipe cewek Celo.

“Gue, gak tau kenapa bisa sama lo. Tapi yang pasti gue sadar ini cinta.”
“Gue kan cewek biasa, jelek pula, sedangkan lo tampan, pinter, putih, tinggi, gue…”
“Lo spesial buat gue”
“Gue….”
“Lo mau kan jadi pacar gue?”
“He – eh”, jawab Tia sambil mengangguk. Dalam hati Tia berteriak heran.
Rifko jadian dengan Tia. cewek yang merupakan deretan cewek  paling jelek di sekolah. Tapi mau bagaiman lagi, namanya juga cinta. Satu hal yang tidak bisa di ukur hanya dengan fisik.
Tinggal Ega yang belum ngedapetin pacar. Tapi tenang. Waktu taruhan mereka sudah habis. Jadi aman.

“Kita udah punya pacar Ga. Lo kapan?”, tanya Sujay saat mereka berkumpul di kantin setelah pulang sekolah.
“Gue bakal nungguin Lala. Gue yakin dia itu cinta gue”, jawab Ega mantap.
“Kita dukung lo”, jawab mereka berbarengan.
“Lo hebat ngedapetin Grace”, kata Ega selanjutnya.
“Be your self oke”, saran Sujay.
“Lo mesti percaya dan yakin dengan perasaan lo”, saran Rifko lagi.
“Kalo gue apa ya mmmm……”
“Kelamaan lo! Udah ah. Kita mesti ngajar ni bentar lagi. Pulang yuk”, ajak Rifko.
“Lo pada gak nganggap gue kalah kan?”, tanya Ega khawatir.
“Enggak dong!!! Yang namanya cinta itu kan dateng gitu aja. Gak bisa kita atur dong dengan taruhan. Lagian taruhan ini bukan kemenangan kok tujuan utamanya. Hanya untuk membuktiin kalau kita tuh bisa dapet cewek. Pade setuju kan lo”, simpul Sujay sang kepala genk.
“O ya Ga. Gue juga bakal mutusin Ely kok. Gila, dia tuh agresif banget bukan tipe gue. Gue ssebenarnya ngincer Wulan, cewek supel yang seper cuek itu. Pasti asik ngedeketin tu cewek, karena banyak tantangannya. Tau sendirilah cueknya kayak apa.” Celo mengumumkan keyakinan hatinya.
“Serius lo? Rara gimana? Ada temen dong gue buat berjuang”, Ega belum yakin.
“Serius. Meskipun Ely di atas rata-rata lah, tapi gue gak nyaman deket dia dan Rara kan udah jelas-jelas nolak gue. Selama ini hati gue sejuk aja tiap liat Wulan.” Jawaban Celo sangat mantap.
“Yuk pulang”, Celo membuyarkan kebengongan teman-temannya. Karena selama ini Celo menganggap Celo sunggu-sungguh dengan Ely.